BANYUMASEKSPRES.ID, KEBUMEN – Di sebuah kandang sederhana yang terletak di Desa Ayamputih, Kecamatan Buluspesantren, Kebumen, seekor sapi berukuran besar berdiri dengan tenang.
Sapi tersebut merupakan jenis Peranakan Ongole (PO) yang memiliki postur tubuh yang kokoh dan tinggi menjulang.
Nama sapi itu adalah Brama. Bagi pemiliknya, Yahono yang berusia 44 tahun, Brama bukan sekadar seekor hewan ternak biasa.
Selama lima tahun terakhir, ia merawat Brama dengan penuh perhatian hingga akhirnya mendapatkan kabar luar biasa yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Brama dinyatakan lolos sebagai salah satu hewan kurban bantuan Presiden Prabowo Subianto untuk Idul Adha 1447 Hijriah.
Yahono mengaku bahwa awalnya ia tidak terlalu berharap banyak ketika mendaftarkan sapinya untuk program pengadaan hewan kurban presiden.
“Awalnya tidak terlalu berharap,” ujar Yahono saat ditemui di kandangnya pada Senin (11/5).
Ia menjelaskan bahwa ini adalah kali pertama ia mengikuti seleksi pengadaan hewan kurban presiden setelah sebelumnya memutuskan untuk tidak ikut karena bobot sapinya belum memenuhi syarat.
Namun, tahun ini menjadi berbeda bagi Yahono dan sapi kesayangannya. Brama, yang merupakan galur sapi PO Kebumen, telah mencapai berat 967 kilogram dan memiliki tinggi sekitar 170 sentimeter.
Dalam langkahnya menuju seleksi, Yahono mendaftarkan Brama melalui Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kebumen.
Proses pendaftaran tersebut dilanjutkan dengan pemeriksaan kesehatan serta uji laboratorium untuk memastikan bahwa sapi tersebut dalam kondisi prima.
Setelah melalui proses yang ketat itu, Brama akhirnya dinyatakan lolos sebagai hewan kurban presiden.
“Baru pertama ikut seleksi,” kata Yahono dengan nada bangga.
Selain itu, sapi lokal Kebumen ini juga telah menjalani vaksinasi guna mencegah penularan penyakit.
Sejak dinyatakan lolos, Yahono mengaku memberikan perhatian lebih terhadap perawatan Brama.
Dari kebersihan kandang hingga penyemprotan desinfektan secara rutin setiap bulan telah menjadi prioritasnya.
Pakan untuk Brama pun ditingkatkan agar kondisi fisiknya tetap prima menjelang hari kurban tersebut.
“Kita jagalah, namanya sudah deal di presiden,” ungkapnya sambil tersenyum lebar menunjukkan rasa syukur dan kebanggaan akan prestasi sapinya.
Meskipun sudah terjual dengan harga di bawah Rp100 juta, Yahono menegaskan bahwa sejak awal ia tidak menerapkan perawatan berlebihan terhadap Brama.
Untuk penggemukan sapi tersebut, dirinya masih mengandalkan pakan alami berupa rumput segar yang tersedia di sekitar kandangnya.
Keberhasilan Brama dalam menjadi hewan kurban presiden membawa kebanggaan tersendiri bagi Yahono sebagai peternak lokal.
“Saya ingin keberhasilan ini menjadi penyemangat bagi peternak lain di daerah,” ujarnya dengan penuh harapan.
Sementara itu, perjalanan Brama dari seekor sapi lokal yang tumbuh dari tangan peternak desa hingga terpilih menjadi hewan kurban presiden merupakan suatu prestasi yang patut dicontoh oleh peternak lainnya.
Dalam konteks peternakan di Indonesia, kisah sukses seperti ini sangat penting untuk memberikan inspirasi kepada para peternak lain agar terus berusaha dan tidak menyerah meskipun menghadapi berbagai tantangan dalam menjalankan usaha mereka.
Dengan adanya dukungan dari pemerintah dan program-program seperti pengadaan hewan kurban presiden ini, diharapkan dapat meningkatkan semangat para peternak lokal serta mendorong pertumbuhan sektor peternakan secara keseluruhan. (cah/stch/dda)
















