BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Sumpiuh kini kembali menghidupkan inisiatif budidaya maggot yang sempat terhenti hampir satu tahun.
Selama periode tersebut, aktivitas budidaya terhambat akibat kerusakan pada media dan fasilitas pendukung.
Aris Widarto, Ketua Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) TPST Sumpiuh, menjelaskan bahwa salah satu penyebab utama penghentian kegiatan ini adalah rusaknya atap biopond yang berfungsi sebagai tempat budidaya.
Kerusakan atap ini berdampak serius ketika hujan turun, karena air menggenang dan mengganggu proses pemeliharaan maggot.
“Atap di atas biopond sudah diperbaiki, kita mulai lagi budidaya magot,” ungkap Aris saat ditemui pada Senin (19/8).
Meski hari itu bertepatan dengan hari libur nasional, TPST Sumpiuh tetap beroperasi penuh dengan aktivitas pengolahan sampah berjalan normal. Proses pengolahan termasuk pengambilan sampah dari pelanggan, pemilahan, hingga penggunaan mesin pirolisis.
Pengembangan budidaya maggot ini menjadi bagian integral dari sistem manajemen sampah di TPST Sumpiuh. Dengan dukungan program corporate social responsibility (CSR), bangunan baru untuk rumah lalat Black Soldier Fly (BSF) telah dibangun lebih representatif dibandingkan sebelumnya.
Fasilitas ini dirancang untuk memperkuat konsep integrasi dalam budidaya maggot, yang tidak hanya berfokus pada produksi tetapi juga pemanfaatan produk sampingan seperti pakan ternak.
Selain fokus pada maggot, TPST Sumpiuh juga telah mengembangkan peternakan lele dengan memanfaatkan empat kolam yang tersedia.
Aris menambahkan bahwa rencana untuk memulai kembali peternakan ayam yang sempat terhenti juga sedang dipertimbangkan. Semua kegiatan ini saling terhubung karena maggot yang dibudidayakan akan digunakan sebagai pakan bagi ikan dan ayam.
“Kita juga mendapatkan bantuan mesin pelet magot. Ketika nanti budidaya magot sudah normal kembali, mesin bisa operasional,” tambahnya.
Namun demikian, mesin pelet tersebut saat ini belum dapat digunakan secara maksimal karena keterbatasan bahan baku selama masa vakum. Dengan adanya fasilitas baru yang lebih memadai, diharapkan produksi maggot bisa berjalan stabil sehingga mesin tersebut dapat difungsikan sepenuhnya.
Inisiatif ini tak hanya bertujuan untuk mengurangi timbunan sampah tetapi juga memberikan manfaat ekonomi melalui sistem pengelolaan yang berkelanjutan dan efisien.
Dengan memperkuat ekosistem pengelolaan sampah melalui berbagai inovasi seperti budidaya maggot dan peternakan lele serta ayam, TPST Sumpiuh berharap dapat menciptakan dampak positif bagi lingkungan sekaligus masyarakat sekitar.
Program CSR yang mendukung pembangunan infrastruktur baru di TPST Sumpiuh merupakan bentuk kolaborasi antara pihak swasta dan masyarakat dalam upaya menjaga keberlanjutan lingkungan hidup. Kolaborasi ini menunjukkan bahwa sinergi antara berbagai pihak dapat memberikan hasil nyata dalam pengelolaan lingkungan.
Meskipun tantangan masih ada terutama dalam hal sumber daya dan keberlanjutan bahan baku untuk produksi maggot, optimisme tetap tinggi di kalangan para pengelola TPST Sumpiuh.
Mereka percaya bahwa dengan perencanaan dan pelaksanaan program-program yang matang serta dukungan dari berbagai pihak, tujuan peningkatan kapasitas produksi serta diversifikasi produk turunan dari budidaya maggot dapat tercapai.
Di masa depan, TPST Sumpiuh bercita-cita tidak hanya menjadi pusat pengelolaan sampah tetapi juga sebagai model contoh bagi daerah lain dalam hal integrasi teknologi ramah lingkungan dengan praktik-praktik tradisional yang adaptif terhadap perubahan zaman.
Dengan demikian upaya revitalisasi budidaya maggot di TPST Sumpiuh merupakan langkah strategis menuju pengelolaan sampah terpadu yang lebih efektif efisien serta menguntungkan baik bagi lingkungan maupun ekonomi lokal.
Proses pembenahan ini menunjukkan komitmen kuat dari semua pihak terkait dalam mewujudkan visi besar menuju keberlanjutan lingkungan hidup di Banyumas dan sekitarnya.
Harapan besar disematkan kepada TPST Sumpiuh agar terus inovatif dalam mencari solusi terbaik guna menghadapi tantangan global terkait masalah lingkungan terutama dalam konteks lokal di Indonesia. (fij/stch)
















