BANYUMASEKSPRES.ID, PURWOKERTO – Dugaan keracunan makanan di MAN 2 Banyumas masih menjadi perhatian.
Hingga Kamis (13/8), sebanyak 56 siswa tercatat belum mengikuti kegiatan belajar mengajar di madrasah. Dari jumlah tersebut, delapan siswa masih mengalami diare.
Kejadian tersebut sebelumnya membuat 136 siswa MAN 2 Banyumas mengalami sejumlah keluhan kesehatan.
Gejala yang dilaporkan antara lain pusing, mual, sakit perut, hingga diare setelah mengonsumsi makanan pada Senin (10/8).
Makanan yang dikonsumsi siswa termasuk menu Makan Bergizi Gratis (MBG).
Namun, hingga kini penyebab pasti munculnya berbagai keluhan tersebut masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan.
Salah satu siswa yang sempat mengalami keluhan adalah cucu Wakil Bupati Banyumas Lintarti Dwi Asih.
Siswi tersebut sempat mengalami sakit perut, mual, hingga diare setelah mengonsumsi makanan yang diduga berkaitan dengan kejadian tersebut.
Namun, kondisi cucu Lintarti kini telah pulih. Siswi tersebut bahkan sudah kembali mengikuti pembelajaran secara normal di MAN 2 Banyumas sejak Rabu (12/8).
Lintarti menegaskan cucunya tidak mendapat penanganan khusus sebagai korban, melainkan termasuk siswa yang ikut mengalami atau terpapar gejala dalam kejadian tersebut.
“Bukan korban tapi ikut terpapar. Alhamdulillah sudah sembuh. Sudah kembali ke madrasah,” kata Lintarti.
Kepala Tata Usaha MAN 2 Banyumas Aji Kuswanto membenarkan cucu Wakil Bupati Banyumas tersebut merupakan salah satu siswa yang sempat mengalami gejala.
Menurutnya, kondisi siswi tersebut sudah membaik dan kembali mengikuti kegiatan belajar mengajar seperti biasa.
Sementara itu, kondisi siswa lainnya masih terus dipantau pihak madrasah. Hingga Kamis (13/8), masih terdapat 56 siswa yang belum masuk sekolah.
Dari 56 siswa tersebut, delapan di antaranya masih mengalami diare.
Namun, Aji menjelaskan tidak semua siswa yang belum hadir mengalami gejala yang berkaitan dengan dugaan keracunan makanan.
Sebagian siswa mengalami keluhan kesehatan lain seperti flu, asam lambung, dan demam.
Ada pula siswa yang masih menjalani kontrol kesehatan sehingga belum dapat kembali mengikuti pembelajaran di madrasah.
“Tidak semua sakit diare. Ada yang sakit flu dan asam lambung. Lainnya demam. Yang kontrol juga ada,” pungkasnya.
Untuk memastikan penyebab munculnya keluhan kesehatan pada para siswa, sampel makanan telah diambil untuk menjalani pemeriksaan laboratorium.
Pemeriksaan tersebut menjadi langkah penting karena gejala yang dialami siswa muncul setelah mereka mengonsumsi makanan.
Sampel yang diambil meliputi makanan dalam porsi besar maupun porsi kecil yang dikonsumsi oleh siswa.
Sampel tersebut kemudian dipersiapkan untuk dikirim ke laboratorium di Semarang.
Ketua Tim Kerja Survailans dan Imunisasi Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana (Dinkes KB) Banyumas Achmad Chairul Hamdi mengatakan seluruh sampel telah disiapkan untuk pemeriksaan.
“Sampel porsi besar dan kecil diambil semua untuk uji lab. Sore ini (Rabu) kami kirim ke lab di Semarang,” terang Achmad.
Hasil pemeriksaan laboratorium nantinya diharapkan dapat memberikan kepastian mengenai penyebab keluhan kesehatan yang dialami para siswa.
Karena itu, seluruh pihak diminta menunggu hasil pemeriksaan sebelum menarik kesimpulan mengenai penyebab kejadian.
Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Banyumas Ibnu Asaddudin mengatakan penanganan kejadian di MAN 2 Banyumas terus dilakukan bersama tim terkait.
Ia bersyukur respons cepat dapat dilakukan sehingga kondisi di lingkungan madrasah tetap terkendali.
Menurut Ibnu, kejadian tersebut berpotensi menjadi persoalan yang lebih besar apabila tidak segera ditangani.
Karena itu, koordinasi antara pihak madrasah, Kemenag, pemerintah daerah, dan tim kesehatan terus dilakukan.
“Bisa geger, Bupati dan Kakanwil geger,” ungkapnya.
Ibnu sebelumnya juga meminta seluruh pihak di madrasah mengetahui perkembangan kejadian tersebut.
Ia mengingatkan agar tidak ada pihak yang membuat kesimpulan mengenai penyebab dugaan keracunan sebelum hasil pemeriksaan laboratorium keluar.
Sikap tersebut diperlukan agar informasi yang beredar tidak menimbulkan kepanikan maupun kesimpulan yang belum berdasarkan hasil pemeriksaan.
Apalagi, keluhan kesehatan yang dialami siswa cukup beragam dan tidak semuanya berupa diare.
Saat ini, perhatian utama diarahkan pada pemantauan kondisi siswa yang masih belum kembali ke madrasah.
Delapan siswa yang masih mengalami diare juga menjadi bagian dari pemantauan kesehatan.
Di sisi lain, siswa yang telah pulih mulai kembali mengikuti pembelajaran. Termasuk cucu Wakil Bupati Banyumas yang sebelumnya sempat mengalami sakit perut, mual, dan diare, tetapi kini sudah kembali beraktivitas secara normal.
Dengan masih adanya siswa yang belum masuk sekolah dan proses pemeriksaan sampel makanan yang berjalan, perkembangan kasus dugaan keracunan di MAN 2 Banyumas masih terus dipantau.
Hasil uji laboratorium nantinya menjadi salah satu dasar untuk mengetahui penyebab pasti munculnya keluhan kesehatan pada siswa.
Hingga hasil tersebut keluar, pihak terkait mengimbau agar informasi mengenai kejadian disampaikan secara hati-hati dan tidak mendahului hasil pemeriksaan.
Pihak madrasah bersama instansi terkait juga terus memantau kondisi siswa untuk memastikan kegiatan belajar mengajar dapat berlangsung dengan aman. (yda/stch/dda)
















