BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Minat masyarakat Kabupaten Banjarnegara untuk bekerja ke luar negeri terus menunjukkan peningkatan.
Hingga akhir Juni 2026, sebanyak 1.132 Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Banjarnegara telah terdata di Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) setempat.
Jumlah tersebut meningkat hampir 35 persen dibandingkan periode sebelumnya.
Kondisi ini menunjukkan bahwa bekerja di luar negeri masih menjadi pilihan masyarakat Banjarnegara untuk mendapatkan peluang kerja sekaligus penghasilan yang dinilai lebih menjanjikan.
Kepala Disnaker Banjarnegara melalui Kabid Pelatihan dan Penempatan Tenaga Kerja, Titi Prijanti mengatakan, PMI asal Banjarnegara tersebar di sejumlah negara.
Mereka bekerja di kawasan Asia hingga Eropa dengan berbagai jenis pekerjaan.
Beberapa negara tujuan PMI asal Banjarnegara di antaranya Taiwan, Hong Kong, Singapura, Malaysia, Turki, Jepang, Korea Selatan, Jerman, Yunani, Bulgaria, dan Polandia.
Menurut Titi, meningkatnya minat masyarakat menjadi PMI tidak terlepas dari tingginya permintaan tenaga kerja dari sejumlah negara.
Selain itu, proses penempatan pekerja migran yang semakin mudah juga ikut mendorong masyarakat mempertimbangkan pekerjaan di luar negeri.
Faktor penghasilan menjadi salah satu alasan utama masyarakat memilih bekerja ke luar negeri.
Menurut Titi, gaji yang diterima PMI di sejumlah negara tujuan bisa lebih tinggi dibandingkan upah yang diperoleh di daerah asal.
“Gaji di sana juga lebih tinggi dibanding UMK yang ada di wilayah setempat, bahkan bisa tiga kali lipat. Ada yang mencapai dua digit, itu juga menjadi salah satu daya tarik,” ujarnya.
Perbedaan pendapatan tersebut membuat pekerjaan di luar negeri dinilai cukup menarik bagi sebagian masyarakat.
Terlebih, kebutuhan hidup dan kondisi ekonomi keluarga menjadi pertimbangan ketika seseorang menentukan pilihan pekerjaan.
Namun, keputusan untuk menjadi PMI tidak hanya dipengaruhi faktor gaji. Terbatasnya kesempatan kerja di dalam negeri juga menjadi salah satu alasan masyarakat mencari peluang di luar negeri.
Kondisi tersebut membuat pekerjaan sebagai PMI menjadi alternatif bagi warga yang ingin mendapatkan pengalaman kerja sekaligus penghasilan lebih besar.
PMI asal Banjarnegara bekerja pada sektor formal maupun informal. Negara tujuan mereka juga semakin beragam, mulai dari kawasan Asia hingga sejumlah negara Eropa.
Taiwan, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, dan Hong Kong menjadi beberapa negara tujuan pekerja migran asal Banjarnegara.
Sementara itu, sebagian pekerja juga ditempatkan di negara-negara Eropa seperti Jerman, Yunani, Bulgaria, dan Polandia.
Titi mengatakan tenaga kerja Indonesia memiliki sejumlah karakter yang membuat mereka cukup diminati oleh pemberi kerja dari berbagai negara.
Menurutnya, pekerja Indonesia dikenal memiliki karakter ramah, patuh, dan rajin.
Hal tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat permintaan terhadap tenaga kerja Indonesia tetap terbuka di sejumlah negara.
Meski peluang bekerja ke luar negeri semakin terbuka, masyarakat tetap perlu memperhatikan prosedur penempatan resmi.
Informasi mengenai perusahaan penempatan, kontrak kerja, negara tujuan, hingga hak dan kewajiban pekerja menjadi hal penting sebelum berangkat.
Meningkatnya jumlah PMI asal Banjarnegara juga memberikan dampak terhadap kondisi ekonomi keluarga.
Salah satunya melalui kiriman pendapatan atau remitansi yang dikirim pekerja kepada keluarga di daerah asal.
Uang yang dikirim tersebut dapat digunakan untuk memenuhi berbagai kebutuhan.
Mulai dari kebutuhan sehari-hari, membangun atau memperbaiki rumah, hingga membiayai pendidikan anak.
“Perputaran uang untuk dikirim ke keluarga semakin besar. Dampaknya juga sangat besar bagi perekonomian mereka, bahkan bisa untuk membuat rumah hingga membiayai anak sampai kuliah,” kata Titi.
Dengan demikian, keberadaan PMI tidak hanya memberikan manfaat bagi pekerja yang bersangkutan.
Pendapatan dari luar negeri juga dapat ikut menggerakkan perekonomian keluarga di Banjarnegara.
Penghasilan yang diterima PMI kemudian digunakan kembali untuk berbagai kebutuhan rumah tangga.
Kondisi tersebut membuat aktivitas pekerja migran memiliki dampak ekonomi yang cukup luas di daerah asal.
Peningkatan jumlah warga Banjarnegara yang bekerja ke luar negeri juga dinilai ikut berkontribusi terhadap penurunan angka pengangguran daerah.
Data menunjukkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Banjarnegara mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2023, TPT tercatat sebesar 6,26 persen.
Angka tersebut kemudian turun menjadi 5,57 persen pada 2024 dan kembali menurun menjadi 5,39 persen pada 2025.
Titi menilai, meningkatnya minat masyarakat untuk bekerja ke luar negeri menjadi salah satu faktor yang turut membantu mengurangi jumlah pengangguran di Banjarnegara.
“Karena sebenarnya Banjarnegara ini sebelumnya angka penganggurannya cukup tinggi. Maka minat masyarakat yang tinggi untuk bekerja ke luar negeri juga turut berkontribusi terhadap pengurangan jumlah pengangguran,” pungkasnya.
Dengan jumlah PMI yang terus meningkat, Disnaker Banjarnegara juga memiliki tantangan untuk memastikan masyarakat mendapatkan informasi yang benar mengenai prosedur bekerja di luar negeri.
Sosialisasi menjadi salah satu langkah penting agar calon PMI memahami jalur penempatan resmi dan berbagai ketentuan sebelum berangkat.
Dengan proses yang sesuai aturan, peluang kerja di luar negeri diharapkan dapat memberikan manfaat ekonomi sekaligus meminimalkan risiko bagi pekerja. (far/stch/dda)














