BANYUMASEKSPRES.ID, PURWOKERTO – Kasus dugaan perundungan yang terjadi di SMAN 1 Purwokerto mendapatkan perhatian serius dari berbagai pihak, termasuk pemerhati pendidikan FA. Agus Wahyudi.
Dalam pernyataannya, Agus menekankan pentingnya penanganan kasus ini secara serius demi mengungkap kebenaran dan memberikan pendampingan yang tepat bagi korban maupun pelaku.
“Karena ini lembaga pendidikan untuk mendidik anak menjadi pribadi yang baik,” ujar Agus pada Minggu (10/8/2025).
Proses mediasi antara keluarga korban dan pelaku di sekolah dinilai sebagai langkah awal yang krusial. Dengan adanya klarifikasi, penyelidikan lebih mendalam dapat dilakukan, termasuk pemeriksaan psikologis terhadap korban.
Agus menjelaskan, “Pertama, apakah korban perlu dibawa ke psikiater atau psikolog untuk membuktikan bahwa itu adalah dampak kekerasan. Pendampingan dua-duanya. Pelaku perundungan biasanya dahulu pernah punya pengalaman dirundung. Mesti dicari dan ditelisik secara mendalam.”
Agus juga menyoroti pentingnya Standar Operasional Prosedur (SOP) dalam kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) agar kegiatan tersebut berlangsung menyenangkan dan bebas dari praktik perundungan.
Menurutnya, “Perundungan di masa orientasi sudah bukan zamannya.”
Ia menambahkan bahwa jika terbukti ada tindakan perundungan, rekonsiliasi harus menjadi langkah akhir dalam penyelesaian kasus ini.
“Saya yakin kepala sekolah dan panitia sudah ada koordinasi. Tapi kalau terbukti benar, tetap perlu rekonsiliasi,” pungkasnya.
Kasus ini mulai mencuat setelah DPN, seorang peserta didik baru berusia 16 tahun di SMAN 1 Purwokerto, mengalami gangguan kesehatan sehari setelah mengikuti MPLS pada tanggal 15 Juli 2025.
Asiyah (48), ibu dari DPN, mengungkapkan bahwa anaknya pulang sekolah dalam kondisi normal namun kemudian menunjukkan gejala kecemasan dan ketakutan pada malam harinya.
Keesokan paginya, DPN mengalami gejala menggigil disertai muntah-muntah serta enggan berkomunikasi.
Kondisi tersebut memaksa DPN harus menjalani perawatan medis selama 16 hari di tiga rumah sakit berbeda meskipun hasil pemeriksaan medis tidak menemukan kelainan yang berarti.
Sebelum jatuh sakit, DPN sempat menceritakan kepada budenya bahwa ia dipukul di bagian perut oleh tiga teman satu kelompok saat MPLS berlangsung.
Menanggapi kejadian ini pihak sekolah masih melakukan pendalaman terhadap dugaan tersebut. Kepala SMAN 1 Purwokerto Tjaraka Tjunduk Karsadi mengatakan kesulitan berkomunikasi dengan korban menyebabkan proses pengumpulan keterangan belum lengkap sepenuhnya.
“Kami juga tidak mau ada pelaku maupun korban perundungan di sekolah kami,” ujarnya.
Cabang Dinas Pendidikan Wilayah X Provinsi Jawa Tengah turut memberikan perhatian khusus terhadap kasus ini dengan menegaskan pentingnya penelusuran lebih lanjut.
Kepala Seksi SMA dan SLB Dwi Sucipto menyampaikan bahwa hasil penelusuran oleh OSIS belum berhasil menemukan pelaku sementara pihaknya masih menunggu keterangan lengkap dari pihak korban untuk melanjutkan investigasi lebih lanjut.
Keprihatinan terhadap kasus ini bukan hanya berasal dari kalangan pendidikan namun juga masyarakat luas yang mengharapkan adanya solusi efektif guna mencegah terulangnya kejadian serupa di masa mendatang.
Kesadaran akan pentingnya lingkungan sekolah yang aman dan kondusif menjadi prioritas bersama guna menjamin kenyamanan serta keselamatan siswa-siswi dalam menjalani proses belajar-mengajar. (res/stch)
















