BANYUMASEKSPRES.ID, Festival Lima Gunung ke-25 menjadi salah satu agenda seni budaya yang kembali mempertemukan ratusan seniman dari berbagai daerah.
Festival tahunan ini berlangsung selama tiga hari, yakni 10-12 Juli 2026, di Dusun Warangan, Desa Muneng Warangan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.
Meski pelaksanaannya telah berlangsung pada Juli lalu, Festival Lima Gunung 2026 tetap menarik sebagai referensi berlibur masyarakat yang ingin mengenal salah satu festival seni berbasis komunitas di Magelang.
Agenda ini juga dapat menjadi gambaran mengenai keberagaman pertunjukan tradisional dan kontemporer yang berkembang di wilayah tersebut.
Festival Lima Gunung atau FLG digagas oleh Komunitas Lima Gunung, kelompok seniman yang tinggal di kawasan lima gunung yang mengelilingi Magelang, yakni Gunung Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh.
Budayawan Magelang, Sutanto Mendut, menjadi salah satu tokoh penting di balik lahirnya komunitas sekaligus festival tersebut.

FLG pertama kali dirintis pada 2002 dan terus berkembang menjadi ruang pertemuan bagi seniman serta kelompok masyarakat.
Festival Lima Gunung 2026 Diikuti Ribuan Seniman
Festival edisi ke-25 ini melibatkan 85 kelompok kesenian dengan total mencapai 1.274 peserta. Beragam bentuk seni ditampilkan sepanjang acara.
Hal ini dimulai dari tari tradisional, tari kontemporer, teater, pembacaan karya sastra, musik eksperimental hingga kirab budaya.
Pemilihan Dusun Warangan sebagai lokasi festival juga memiliki keterkaitan dengan konsep komunitas yang tumbuh di sekitar kawasan pegunungan.
Wilayah tersebut berada di area Gunung Merbabu sehingga suasana pedesaan dan lingkungan alam menjadi bagian dari pengalaman festival. Pada penyelenggaraan tahun ini, panitia menerapkan proses kurasi yang lebih ketat.
Salah satu aturan yang diterapkan adalah pembatasan durasi pertunjukan hingga maksimal 15 menit untuk pementasan yang berlangsung pada siang hingga malam hari.
Aturan tersebut dibuat agar lebih banyak kelompok kesenian memperoleh kesempatan tampil. Beberapa seniman menyesuaikan atau memangkas durasi karya mereka agar dapat mengikuti ketentuan festival.
Pertunjukan yang berlangsung pada pagi hari memiliki ketentuan berbeda dan dapat memiliki durasi lebih panjang. Secara keseluruhan, rangkaian acara berlangsung mulai sekitar pukul 09.30 hingga 22.30 WIB.
Sejumlah Penampil Festival Lima Gunung Sukses Menarik Perhatian
Selama tiga hari pelaksanaan, puluhan kelompok dan seniman mengisi panggung Festival Lima Gunung ke-25. Berikut rangkaian penampilan selama acara berlangsung.
Jumat, 10 Juli 2026
Hari pertama diisi antara lain oleh Ganendra dengan tari Topeng Ireng, Digdaya Manunggal Putra dengan tari Warok, Iro Yudo Wicaksono, Gundala Art Dance, Tetra Kreativa, dan Sanggar Sekar Hima.
Kemudian, terdapat Smakindo Dancer, Sanggar Tari Brahmastra, Aya Salim, Bengkel Seni, Yasa Pawestri Gati, dan Evangeline Yisrael dengan tari topeng.
Penampil lainnya mencakup Sekar Budaya, Ambaran Ansambel, Vicky Mentari, Setyo Aji Wirotomo dari Kajen, serta kolaborasi Haris Kertoraharjo, Johdo Kemil dan Sanggar Dhom Sunthil.
Sanggar Soko Papat, Bedhesvati, Sedalu Art and Culture juga turut tampil. Sementara itu, Kyai Kanjeng menjadi penampil penutup pada malam pertama mulai pukul 20.30 WIB.
Sabtu, 11 Juli 2026
Hari kedua menghadirkan lebih banyak kelompok seni. Beberapa di antaranya adalah Bengkel Seni, Sanggar Satrio Tirto Yudho, Seni Cakra Budaya, Zealfira Igna Vanessa, dan Jihan Raihanah.
Lalu, disusul oleh Wahyu Manggolo Putro, Sholeh Schelecht Noise, Sastra Sastro, Ngesti Laras, Danirmala, Omah Sewu Sirah, dan Ranjana Dewi.
Selain itu, ada Amanda Olga Paramita, Satya Cipta, Yolanda Evalyn Sebayang, Omah Mili, Sanggar Gendhug, dan Sanggar Kusuma Wiratama.
Kemudian, ada juga penampil Huis van Roedi Lanbatih, Kawan Lama Ben, Rayon Suro Mranggen, hingga Maestro Dalang Topeng Pewaris.
Deretan penampil berikutnya mencakup Sanggar Bunda, Sanggar Seni Kusuma, Adeeva Afseen Mysha Firoos, Ojo Squad, Iing Sayuti, dan Kagama Beksan.
Dilanjutkan bersama Nani Topeng Losari, Sanggar Tari Yusnita, Sotya Manunggal, Sanggar Clarinta, Sekar Palupi, Bolo Bakoh, serta Langen Turonggo Jati.
Pertunjukan hari kedua ditutup oleh Tari Topeng Ireng Satria Bintang Rimba pada sekitar pukul 22.15 WIB. Selain itu, terdapat Dieng Culture Festival 2026 sebagai ranah memperkenalkan tradisi dan pertunjukkan.
Minggu, 12 Juli 2026
Hari terakhir diawali dengan penampilan Surya Kaloka Jati, Dewi Kusuma, Sanggar Batara, serta agenda Kirab Lima Gunung. Pembacaan puisi oleh Hudi DW turut menjadi bagian dari rangkaian pertunjukan.
Selanjutnya Sri De Glenk dengan tari Oglek, Siswo Budoyo, Sanggar Gadhoeng Mlati, dan Bhekso Turonggo Mudho.
Terdapat penampilan meriah lainnya dari Padepokan Seni Tjipta Boedaja bersama Sanggar Bangun Budaya, Sanggar Wonoseni, Sanggar Saujana, dan Padepokan Wargo Budoyo.
Penampil lainnya meliputi Sanggar Seni Cahyo Budoyo Sumbing, Aksamala, Seakar, Gedebus, Sekar Rengganis, dan Mahardika.
Ada juga kehadiran Komunitas Oengaran Menari, Mahawira Astagina, Estri Dans, Mangun Krido Budoyo, Sanggar Sekar Wahyu Manunggal, dan Krido Budi Utomo.
Sebagai penutup Festival Lima Gunung ke-25, Sekar Kudho Budi Utomo menghadirkan pertunjukan Bramanti Sundari mulai sekitar pukul 21.50 WIB.
Festival Lima Gunung Jadi Ruang Pertemuan Seniman
Festival Lima Gunung tidak sekadar menjadi pertunjukan seni tahunan. Kehadirannya juga memperlihatkan bagaimana komunitas lokal dapat menjadi ruang bagi seniman untuk bertukar gagasan.
Lalu, dilanjutkan dengan memperkenalkan karya, sekaligus membangun jejaring dengan kelompok seni dan masyarakat dari berbagai latar belakang.
Dengan konsep berbasis komunitas dan lingkungan pedesaan, Festival Lima Gunung menjadi salah satu agenda budaya yang menarik untuk diperhatikan dalam perkembangan seni pertunjukan di Jawa Tengah. (*/nds)














