BANYUMASEKSPRES.ID, SUMUT – Jalur pendakian Gunung Sorik Marapi yang terletak di Taman Nasional Batang Gadis, tepatnya di Desa Sibangor Tonga, Kecamatan Puncak Sorik Marapi, Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara (Sumut), kini ditutup sementara mulai 4 April 2026.
Penutupan ini dipicu oleh peningkatan aktivitas vulkanik yang signifikan, sehingga Badan Geologi mengumumkan kenaikan status dari Level I (Normal) menjadi Level II (Waspada).
Dalam pengumuman resmi yang disebarkan melalui akun Instagram @btn_batanggadis, pihak berwenang menjelaskan bahwa penutupan jalur pendakian Gunung Sorik Marapi akan berlangsung sampai dengan waktu yang belum ditentukan.
Keputusan ini diambil setelah adanya laporan khusus dari Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia yang tercantum dalam Surat Nomor 629.Lap/GL 03/BGL/2028 pada tanggal 3 April 2020.
Laporan tersebut menyebutkan bahwa terjadinya peningkatan intensitas kegempaan telah terdeteksi sejak tanggal 2 April hingga 3 April 2026 pukul 18.00 WIB.
Menyusul peningkatan aktivitas tersebut, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi melakukan evaluasi terhadap kondisi Gunung Sorik Marapi.
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa tingkat kegempaan mengalami lonjakan yang signifikan, yang memicu kekhawatiran akan kemungkinan terjadinya bencana geologi.
“Untuk mengantisipasi terjadinya bencana geologi dari Gunung Sorik Marapi, kami informasikan bahwa jalur pendakian Gunung Sorik Marapi untuk sementara ditutup terhitung mulai tanggal 4 April 2026 sampai batas waktu yang tidak ditentukan,” demikian pernyataan resmi dari pihak terkait.
Aktivitas vulkanik Gunung Sorik Marapi memang menjadi perhatian serius bagi masyarakat setempat dan para pendaki.
Karakteristik erupsi gunung ini meliputi erupsi freatik, erupsi abu, serta semburan lumpur.
Berdasarkan catatan sejarah, gunung ini pernah mengalami beberapa kali erupsi pada tahun-tahun sebelumnya seperti pada tahun 1830, 1879, 1892, 1893, 1917, 1970, 1986, dan juga di tahun 1987.
Titik-titik erupsi tidak hanya terbatas pada kawah utama atau puncaknya namun juga terjadi di area sekitarnya seperti Kawah Sibangor Tonga dan Sibangor Julu.
Pada tanggal 2 April 2026, terjadi peningkatan signifikan dalam aktivitas gempa vulkanik dalam (VA).
Sejumlah data mencatat sebanyak 115 kali gempa vulkanik dalam (VA) tercatat selama periode tersebut.
Selain itu juga terdapat empat kali gempa terasa dengan skala II-IV MMI dan sebelas kali gempa tektonik jauh.
Intensitas kegempaan terus berlanjut hingga tanggal 3 April 2026 dengan hasil pengukuran menunjukkan bahwa hingga pukul 18.00 WIB terekam sebanyak 49 kali gempa vulkanik dalam (VA), tiga kali gempa tektonik lokal, satu kali gempa terasa skala IV MMI, serta empat kali gempa tektonik jauh.
Keputusan untuk menutup jalur pendakian ini tentu saja menimbulkan berbagai reaksi di kalangan publik terutama para pecinta alam dan pendaki gunung.
Bagi banyak orang, Gunung Sorik Marapi bukan hanya sekadar destinasi wisata alam tetapi juga merupakan simbol kebanggaan budaya dan sejarah masyarakat setempat.
Penutupan jalur pendakian ini dianggap sebagai langkah preventif yang sangat penting untuk menjaga keselamatan para pendaki serta masyarakat sekitar dari potensi bahaya.
Pihak berwenang berharap agar masyarakat dapat memahami keputusan ini meskipun hal ini mungkin mengecewakan bagi mereka yang telah merencanakan perjalanan ke gunung tersebut.
Pentingnya keselamatan menjadi prioritas utama dalam mengambil langkah-langkah mitigasi bencana geologi seperti ini.
Pembukaan kembali jalur pendakian akan dilakukan setelah aktivitas Gunung Sorik Marapi kembali normal atau berada pada level I berdasarkan hasil pengamatan otoritas terkait.
Dalam konteks lebih luas, kejadian ini menggambarkan betapa pentingnya kesadaran akan risiko bencana alam di Indonesia, terutama di wilayah-wilayah yang memiliki aktivitas vulkanis tinggi.
Kesadaran kolektif tentang potensi bahaya bisa membantu meminimalkan dampak bencana ketika situasi darurat terjadi.
Kegiatan edukasi kepada masyarakat mengenai tanda-tanda awal aktivitas vulkanik juga perlu ditingkatkan agar masyarakat lebih siap menghadapi berbagai kemungkinan buruk yang dapat muncul sewaktu-waktu.
Pihak berwenang secara rutin melakukan pemantauan terhadap aktivitas gunung api ini dan memberikan informasi terkini agar masyarakat tetap waspada namun tidak panik.
Gunung Sorik Marapi memang memiliki daya tarik tersendiri bagi para pendaki dan pencinta alam.
Dengan pemandangan alamnya yang indah serta keanekaragaman hayati yang kaya, gunung ini menjadi salah satu destinasi favorit untuk wisata petualangan di Sumut.
Namun demikian, keselamatan harus selalu menjadi prioritas utama dalam setiap kegiatan luar ruangan.
Dalam menghadapi situasi seperti ini, penting bagi semua pihak untuk saling mendukung dan berbagi informasi demi keselamatan bersama.
Masyarakat juga diajak untuk tetap mengikuti perkembangan terbaru mengenai status gunung api melalui saluran resmi dari Badan Geologi dan PVMBG sehingga mereka dapat mengambil keputusan terbaik terkait kegiatan outdoor mereka.
Dengan penutupan jalur pendakian Gunung Sorik Marapi hingga waktu yang belum ditentukan ini, diharapkan masyarakat dapat lebih memahami pentingnya menjaga keselamatan saat berada di area rawan bencana. (*/stch/dda)
















