Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Harga Pakan Tembus 400 Ribu, Peternak Puyuh Kebumen Menjerit

Pakan Naik, Telur Anjlok, Peternak Oplos PakanPakan Naik, Telur Anjlok, Peternak Oplos Pakan
OPLOS: Tugino, peternak puyuh asal Desa Tamanwinangun, Kebumen mengoplos pakan untuk ternak puyuhnya

BANYUMASEKSPRES.ID, KEBUMEN – Menjelang perayaan Idul Adha, peternak puyuh di Kebumen menghadapi situasi yang sangat tidak menguntungkan.

Kenaikan harga pakan yang signifikan dan penurunan harga telur menjadi tantangan besar bagi para peternak.

Saat ini, harga pakan dari pabrikan hampir menembus angka Rp 400 ribu per karung.

Di sisi lain, harga telur puyuh yang diterima oleh peternak hanya berkisar antara Rp 24 ribu hingga Rp 25 ribu per kilogram.

Kondisi ini membuat para peternak harus berpikir kreatif dan mengambil langkah-langkah strategis agar usaha mereka tidak terancam gulung tikar.

Tugino, seorang peternak puyuh yang beroperasi di Desa Tamanwinangun, Kecamatan Kebumen, mengungkapkan rasa frustasinya terkait kenaikan harga pakan yang tidak seimbang dengan harga jual telur.

“Harga pakan puyuh petelur sekarang naik. Namun harga telur turun. Permintaan stabil, namun harga kurang masuk,” tutur Tugino dalam wawancara pada Minggu (24/5).

Ia mengatakan bahwa selama beberapa minggu terakhir ia terpaksa mencari solusi dengan mencampurkan pakan.

Salah satu langkah yang diambil Tugino adalah mengoplos pakan dengan menggunakan fermentasi pakan alternatif yang sebelumnya dirancang untuk ayam.

Meskipun langkah ini terdengar praktis, ia menyadari bahwa ada risiko terhadap penurunan kualitas telur dan kesehatan puyuhnya akibat penggunaan pakan campuran tersebut.

“Produktivitas menurun, namun mau bagaimana lagi? Jika tidak diberi pakan puyuh akan semakin rusak,” ujarnya.

Kenaikan harga pakan ini menjadi masalah yang membebani pikiran para peternak puyuh di Kebumen.

Sebagian besar dari mereka sudah terbiasa mengandalkan pakan dari pabrikan untuk menjaga kesehatan ternaknya.

Namun dengan kondisi ekonomi yang semakin sulit, banyak peternak harus merombak strategi mereka agar tetap bisa bertahan dalam bisnis ini.

Lebih jauh lagi, Tugino berharap agar pemerintah daerah maupun pemerintah pusat dapat segera mengambil tindakan untuk menstabilkan harga pakan dan membantu serapan telur puyuh di pasar.

“Kalau pakan naik terus tapi harga telur jatuh, lama-lama peternak kecil habis. Padahal telur puyuh ini protein murah buat masyarakat,” tegasnya dengan nada penuh harapan.

Fenomena ini tentunya bukan hanya terjadi di Kebumen saja, tetapi juga mencerminkan masalah yang lebih luas dalam sektor peternakan nasional.

Banyak peternak lainnya di berbagai daerah mengalami kesulitan serupa akibat fluktuasi harga bahan baku dan kurangnya dukungan dari pemerintah dalam hal kebijakan pertanian dan peternakan.

Berdasarkan pengamatan di lapangan, kebutuhan akan protein hewani seperti telur puyuh sangat tinggi di masyarakat.

Telur puyuh dikenal sebagai sumber protein yang ekonomis dan bergizi, sehingga permintaannya tetap stabil meskipun ada masalah pada harganya.

Namun sayangnya, ketika biaya produksi semakin tinggi akibat kenaikan harga pakan, hal ini berpotensi mempengaruhi pasokan telur ke pasar.

Dalam situasi seperti ini, perlu adanya kolaborasi antara berbagai pihak untuk mencari solusi jangka panjang bagi para peternak.

Program pelatihan tentang pengelolaan usaha ternak serta akses terhadap informasi mengenai bahan baku alternatif dapat menjadi langkah awal untuk membantu meringankan beban para peternak.

Dengan kondisi ekonomi saat ini yang tidak menentu, penting bagi para peternak untuk terus beradaptasi dan berinovasi dalam menjalankan usaha mereka. (mam/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Hilang di Cilacap, Ketemu di Tasikmalaya

Hilang sejak Desember 2025, Ambulans Desa Penggalang Cilacap Ketemu di Tasikmalaya

Berita Selanjutnya
Tak Wajib Tujuh Tahun dan Bisa Calistung

Resmi! Pemerintah Ubah Syarat Masuk SD 2026, Anak 5,5 Tahun Bisa Daftar