Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Hujan Deras 2 Jam, Wonosobo Dilanda Banjir dan Longsor

Bencana Serentak di Tiga KecamatanBencana Serentak di Tiga Kecamatan
ARUS DERAS: Rumah warga nyaris ambrol terkena arus deras sungai saat hujan deras

BANYUMASEKSPRES.ID, WONOSOBO – Cuaca ekstrem melanda beberapa wilayah Kabupaten Wonosobo pada hari Jumat, 3 April 2026.

Hujan deras disertai angin kencang dan petir berlangsung selama dua jam, yang mengakibatkan terjadinya bencana alam berupa banjir luapan sungai serta longsor di sejumlah kecamatan.

Koordinator Tim Reaksi Cepat (TRC) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Wonosobo, Sabarno, menjelaskan bahwa bencana tersebut terjadi di Kecamatan Wonosobo, Kejajar, dan Mojotengah.

Meskipun kondisi cuaca yang mengkhawatirkan ini telah menimbulkan dampak yang cukup signifikan, Sabarno menyatakan bahwa tidak ada korban jiwa atau luka dalam peristiwa tersebut.

“Untuk korban jiwa nihil, korban luka nihil, dan tidak ada warga yang mengungsi. Namun, beberapa rumah terdampak banjir luapan dan ada longsor di bahu jalan,” ungkap Sabarno kepada awak media dengan nada tenang namun penuh perhatian terhadap situasi yang terjadi.

Di Kecamatan Wonosobo sendiri, banjir luapan Kali Semagung telah menggenangi Kampung Sidojoyo, Kelurahan Pagerkukuh.

Akibatnya, lima rumah warga mengalami kerusakan akibat banjir ini, sementara senderan sungai dilaporkan berada dalam kondisi kritis dan nyaris roboh.

Petugas dari BPBD masih aktif melakukan penanganan di lokasi untuk mencegah kerugian lebih lanjut.

Situasi serupa juga terpantau di Dusun Tanggung, Desa Jogoyitnan, di mana air meluap hingga ke jalan raya.

Kejadian ini tidak hanya menggenangi jalan tetapi juga menyebabkan longsor di sisi bahu jalan yang kini masih dalam proses pendataan oleh petugas terkait.

Selain itu, di Kelurahan Jaraksari, banjir luapan menyebabkan air meluap ke jalan raya yang berakibat pada ambrolnya saluran air.

Sementara itu, bencana serupa juga menghantam Desa Sigedang di Kecamatan Kejajar.

Luapan banjir menyebabkan jalan utama terendam air dan merusak sepuluh rumah warga serta sebuah musala setempat.

Di Kecamatan Mojotengah, Kali Wangan Aji di Desa Jawar meluap hingga mencapai jalan raya yang menghubungkan Wonosobo menuju Dieng.

Hal ini sempat menyebabkan kemacetan arus lalu lintas di jalur tersebut sebelum akhirnya ditangani oleh pihak berwenang.

“Masyarakat tetap waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi,” himbau Sabarno dengan tegas.

Ia menekankan pentingnya kewaspadaan masyarakat mengingat intensitas hujan di wilayah Wonosobo masih cukup tinggi dalam beberapa hari terakhir.

Keberadaan hujan deras dan angin kencang ini menunjukkan betapa rentannya wilayah-wilayah tertentu terhadap perubahan cuaca ekstrem.

Fenomena alam seperti ini tidak hanya menimbulkan risiko bagi infrastruktur dan lingkungan tetapi juga dapat berdampak langsung pada kehidupan masyarakat sehari-hari.

Oleh karena itu, penting bagi semua pihak untuk mengambil langkah-langkah pencegahan guna meminimalkan dampak bencana.

Dalam konteks ini, pemerintah daerah melalui BPBD melakukan berbagai upaya penanggulangan bencana untuk memastikan keselamatan warga dan memulihkan kondisi pasca-banjir secepatnya.

Proses pendataan yang dilakukan oleh petugas adalah langkah awal menuju pemulihan untuk membantu masyarakat yang terdampak agar bisa kembali menjalani kehidupan normal mereka.

Sementara itu, cuaca ekstrem seperti ini bukanlah hal baru bagi masyarakat Indonesia terutama bagi daerah-daerah yang berada di jalur rawan bencana alam seperti longsor dan banjir.

Namun demikian, kesadaran akan pentingnya mitigasi bencana harus terus dibangun agar masyarakat lebih siap menghadapi situasi-situasi darurat semacam ini.

Berbagai faktor dapat menyebabkan meningkatnya risiko bencana alam seperti hujan deras dan angin kencang ini antara lain perubahan iklim global yang semakin tidak menentu serta tata ruang wilayah yang kurang memperhatikan aspek lingkungan.

Oleh karena itu dibutuhkan kerjasama antara pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan ketahanan terhadap risiko bencana.

Dari sisi kebijakan publik, pemerintah perlu memperkuat infrastruktur drainase serta melakukan reboisasi untuk menjaga keseimbangan ekosistem yang mendukung keberlanjutan lingkungan hidup.

Dengan adanya langkah-langkah preventif seperti ini diharapkan dapat mengurangi risiko terjadinya bencana alam di masa depan. (*/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Comeback, Persibangga Taklukkan Juara DIY

Persibangga Purbalingga Raih Kemenangan Perdana, Tundukkan Juara Liga 4 DIY 2-1

Berita Selanjutnya
Cilacap Terapkan Zero Growth ASN

543 ASN Pensiun, Cilacap Siapkan Formasi CPNS Baru dengan Sistem Zero Growth