BANYUMASEKSPRES.ID, JAKARTA – Indonesia menunjukkan komitmen kuat dalam misi kemanusiaan global dengan mengirimkan 20 ribu personel untuk mendukung misi pemeliharaan perdamaian di Gaza, Palestina.
Dari jumlah tersebut, 5 ribu personel berasal dari TNI Angkatan Laut (AL) yang memiliki keahlian khusus di bidang kesehatan dan konstruksi, keahlian yang sangat diperlukan untuk merawat warga sipil korban perang serta membangun fasilitas darurat di kawasan konflik.
Laksamana Pertama TNI Tunggul, Kepala Dinas Penerangan TNI AL, menekankan bahwa personel dari Angkatan Laut dipilih karena keahlian medis dan zeni konstruksi mereka.
“Personel kami punya kemampuan medis dan kemampuan zeni konstruksi. Itu yang akan digunakan untuk membantu masyarakat di sana,” katanya pada Selasa (25/11).
Proses seleksi internal saat ini masih berlangsung dengan penilaian ketat terhadap kesiapan fisik, kemampuan teknis, serta kematangan personel menghadapi medan konflik.
Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto menyatakan bahwa seluruh pasukan akan tergabung dalam tiga brigade komposit.
Setiap brigade dirancang untuk menjadi unit mandiri yang terdiri dari batalion kesehatan, batalion zeni konstruksi, batalion bantuan, dan unsur mekanis untuk mendukung mobilitas.
Dalam situasi yang membutuhkan respons cepat dan terkoordinasi seperti ini, strategi pembentukan brigade komposit menjadi esensial.
Pengiriman pasukan dilakukan secara bertahap. Sebelum semua pasukan diberangkatkan, tim aju akan dikirim terlebih dahulu.
Tim ini bertugas memetakan kondisi di Gaza mulai dari situasi keamanan hingga kebutuhan warga serta menentukan lokasi terbaik untuk penempatan pasukan dan fasilitas darurat.
“Kami menunggu arahan pemerintah sebelum mengirim pasukan,” ujar Agus.
Selain pasukan darat, TNI AL juga menyiapkan dukungan besar dari laut dengan tiga KRI rumah sakit yang siap berlayar: KRI dr Soeharso-990, KRI dr Wahidin Sudirohusodo-991, dan KRI dr Radjiman Wedyodiningrat-992.
Kapal-kapal ini dilengkapi ruang perawatan dan fasilitas medis lengkap serta helikopter untuk evakuasi pasien.
“Semua kapal ini siap menjalankan operasi kemanusiaan kapan pun dibutuhkan,” ungkap Tunggul.
Dari sisi udara, persiapan juga dilakukan dengan penyediaan helikopter dan pesawat angkut C-130 Hercules yang siap membawa logistik penting seperti obat-obatan dan pasukan pendukung ke lokasi yang membutuhkan.
Kombinasi kekuatan laut, darat, dan udara ini diharapkan mampu memberikan bantuan secara cepat dan terkoordinasi serta tepat sasaran.
Kesiapan ini menegaskan komitmen Indonesia dalam mendukung misi kemanusiaan dan perdamaian di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Fokus utama misi ini adalah perlindungan warga sipil, penyediaan layanan medis vital, serta pembangunan fasilitas dasar untuk memulihkan kondisi Gaza pascakonflik.
Dengan dukungan pasukan terlatih, kapal rumah sakit berperalatan lengkap, dan armada udara siap siaga, Indonesia berharap kontribusi nyata dapat diberikan kepada masyarakat Gaza yang tengah menghadapi krisis kemanusiaan parah dalam beberapa tahun terakhir.
Keberangkatan KRI dr Wahidin Sudirohusodo-991 dalam misi kemanusiaan adalah salah satu contoh nyata dari dedikasi TNI AL dalam upaya kemanusiaan global.
Kapal tersebut sebelumnya telah menjalani pelayaran panjang ke Kawasan Pasifik Selatan dengan misi serupa.
Misi kali ini tidak hanya menunjukkan kemampuan operasional TNI tetapi juga memperkuat posisi Indonesia sebagai negara yang responsif terhadap panggilan kemanusiaan internasional. (*/dda)
















