Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Jelang Tahun Ajaran Baru Transaksi Gadai Emas Naik 20 Persen di Pegadaian Purbalingga

Transaksi gadai emas naik 20 persenTransaksi gadai emas naik 20 persen
GADAI EMAS: Antrean nasabah di pegadaian cabang Purbalingga, pekan lalu. Kebanyakan mereka ingin menggadaikan emas untuk kebutuhan sekolah anak di tahun ajaran baru.

BANYUMASEKSPRES.ID, PURBALINGGA – Menjelang dimulainya tahun ajaran baru, aktivitas di Pegadaian Cabang Purbalingga mengalami peningkatan yang signifikan. Banyak orang tua memilih untuk menggadaikan barang-barang berharga mereka, terutama emas, sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan pendidikan anak-anak mereka.

Berdasarkan data terbaru dari Pegadaian, terjadi kenaikan jumlah nasabah hingga sekitar 20 persen pada bulan Juni 2025 dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya.

“Untuk tahun ajaran baru memang selalu ada peningkatan transaksi, terutama terkait pembiayaan pendidikan. Di Purbalingga sendiri, lonjakan ini mencapai sekitar 20 persen,” ungkap Kumbo Wiseno, Manajer Bisnis Pegadaian Cabang Purbalingga.

Emas menjadi pilihan utama yang digadaikan oleh nasabah karena dianggap paling mudah dicairkan dan memiliki nilai yang relatif stabil. Kondisi ini tidak mengherankan mengingat banyak orang tua yang berupaya keras menyediakan dana pendidikan bagi anak-anaknya.

Menurut Kumbo, kebijakan pemerintah yang memberikan sekolah gratis untuk jenjang SD dan SMP sebagian telah mengurangi beban finansial orang tua.

Akan tetapi, untuk tingkat pendidikan SMA dan perguruan tinggi yang belum sepenuhnya gratis, masih banyak orang tua terpaksa menggadaikan barang-barang berharga mereka.

“Peningkatan transaksi ini diperkirakan akan berlangsung hingga pekan kedua bulan Juli,” lanjutnya. Hal ini bertepatan dengan jadwal pembayaran uang masuk dan daftar ulang di berbagai sekolah.

Ari Susanti (34), seorang nasabah pegadaian, menyatakan bahwa ia telah menggadaikan gelang emas miliknya guna menutupi kebutuhan perlengkapan sekolah anaknya.

“Sudah disiapkan sebelumnya, tapi ada keperluan lain juga. Jadi akhirnya saya gadaikan dulu,” ujarnya dengan nada pasrah.

Dian Rahayu (42), warga Kelurahan Purbalingga Lor, juga menceritakan pengalamannya harus menggadaikan cincin warisan ibunya demi membayar biaya masuk anaknya ke SMK favorit.

“Awalnya berat juga, karena itu peninggalan almarhumah ibu. Tapi anak saya keterima di SMK favorit, jadi saya pilih gadai dulu daripada pinjam ke tetangga,” katanya dengan mata berkaca-kaca.

Situasi serupa dialami oleh banyak orang tua lainnya di daerah tersebut. Panut Handoyo, seorang petugas keamanan di Pegadaian Purbalingga, menambahkan bahwa setiap tahun ajaran baru selalu ramai dengan aktivitas penggadaian.

“Bisa terlihat dari antrean yang mulai pagi sudah penuh. Kebanyakan dari kalangan ibu-ibu,” jelasnya.

Keadaan ini mencerminkan betapa pentingnya pendidikan bagi masyarakat di Purbalingga meskipun harus menghadapi berbagai tantangan ekonomi. Orang tua rela melakukan apa saja agar anak-anak mereka dapat mengejar pendidikan yang lebih baik.

Fenomena meningkatnya aktivitas pegadaian menjelang tahun ajaran baru ini menunjukkan bahwa meskipun ekonomi mungkin sedang sulit bagi sebagian masyarakat, komitmen terhadap pendidikan tetap menjadi prioritas utama.

Dengan adanya fasilitas seperti pegadaian yang menyediakan solusi jangka pendek bagi kebutuhan mendesak seperti biaya sekolah, para orang tua mendapatkan sedikit kelonggaran dalam menghadapi tekanan finansial saat tahun ajaran dimulai.

Di tengah situasi ini, para orang tua berharap bahwa investasi mereka dalam pendidikan akan membuahkan hasil bagi masa depan anak-anak mereka.

Komitmen kuat terhadap pendidikan dan pengorbanan pribadi yang dilakukan menjadi cerminan dari harapan besar akan perubahan hidup melalui jalur akademis.

Kumbo Wiseno dan timnya di Pegadaian Cabang Purbalingga terus berusaha memberikan pelayanan terbaik kepada nasabah dalam situasi apapun. Mereka memahami bahwa setiap nasabah memiliki cerita dan alasan masing-masing ketika memutuskan untuk menggadaikan barang berharganya.

“Setiap transaksi memiliki kisah tersendiri,” kata Kumbo menutup wawancara sambil berharap agar kondisi ekonomi bisa lebih stabil sehingga beban finansial masyarakat dapat berkurang di masa mendatang. (mnz/stch)

Berita Sebelumnya
Empat desa masih berkembang

Target Status Desa Berkembang Jadi Maju, Upaya Pemerintah Banyumas Tingkatkan Kesejahteraan

Berita Selanjutnya
Rehab pasar tradisional dikebut

Cilacap Percepat Revitalisasi Enam Pasar Tradisional, Penyelesaian Ditarget Akhir Agustus