BANYUMASEKSPRES.ID, PURBALINGGA – Jemaah Islam Aboge yang berasal dari Desa Onje, Kecamatan Mrebet, Kabupaten Purbalingga, baru saja melaksanakan ibadah Salat Iduladha 1447 Hijriah pada Kamis (28/5/2026).
Pelaksanaan ibadah ini berbeda satu hari dibandingkan dengan penetapan yang dilakukan oleh pemerintah.
Salat Iduladha tersebut diselenggarakan di Masjid R Sayyid Kuning, yang menjadi pusat kegiatan keagamaan bagi jemaah Islam Aboge setempat.
Dalam pelaksanaan salat ini, sosok kharismatik dan dihormati, Kyai Maksudi, bertindak sebagai imam.
Sementara khutbah Iduladha disampaikan oleh tokoh masyarakat setempat, Lutfi Latifudin.
Kyai Maksudi menegaskan bahwa perbedaan waktu pelaksanaan Iduladha seharusnya tidak perlu dipermasalahkan atau dijadikan bahan perdebatan di kalangan masyarakat.
“Perbedaan pelaksanaan ibadah Salat Iduladha tidak perlu diperdebatkan. Yang terpenting adalah bagaimana kita dapat menjaga persatuan dan kesatuan, terutama di antara umat Islam,” ujarnya dengan tegas.
Pernyataan ini menjadi wacana penting di tengah beragam pandangan terkait penentuan hari raya yang sering kali memicu ketegangan.
Ia juga meminta kepada seluruh anggota masyarakat untuk tidak menjadikan perbedaan dalam penentuan hari raya tersebut sebagai polemik yang berkepanjangan.
Menurutnya, masing-masing pihak memiliki dasar perhitungan yang diyakini dalam menentukan hari besar keagamaan.
“Kami berharap perbedaan ini tidak menjadi polemik di masyarakat karena masing-masing memiliki dasar perhitungan sendiri,” imbuhnya.
Hal ini menunjukkan sikap inklusif dan toleran dari jemaah Islam Aboge terhadap perbedaan yang ada.
Pelaksanaan Iduladha oleh jemaah Islam Aboge memang kerap kali berbeda dengan penetapan yang dilakukan oleh pemerintah atau organisasi keagamaan lainnya seperti Muhammadiyah.
Penetapan hari raya dilakukan berdasarkan penghitungan yang sudah turun-temurun menggunakan kalender Jawa dan kalender Islam khas Aboge.
Tradisi ini mencerminkan kekayaan budaya lokal yang berintegrasi dengan ajaran Islam, serta menunjukkan bagaimana komunitas ini mempertahankan identitas mereka dalam konteks modern.
Meski terdapat perbedaan dalam tanggal pelaksanaan, tata cara ibadah Salat Iduladha yang dilaksanakan oleh jemaah Islam Aboge tetap sama seperti umat Islam pada umumnya.
Hal ini menunjukkan bahwa meskipun terdapat variasi dalam tradisi dan keyakinan, esensi dari ibadah tetap dijunjung tinggi.
Setelah melaksanakan Salat Iduladha, kegiatan dilanjutkan dengan penyembelihan hewan kurban di lingkungan masjid dan permukiman warga sekitar.
Penyembelihan hewan kurban merupakan salah satu aspek penting dalam perayaan Iduladha dan menjadi momen berbagi kepada sesama.
Proses ini biasanya melibatkan seluruh anggota masyarakat, termasuk anak-anak yang diajarkan tentang pentingnya berbagi serta rasa syukur atas rezeki yang didapat.
Tradisi penyembelihan hewan kurban di Desa Onje telah berlangsung selama bertahun-tahun dan menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari jemaah Islam Aboge.
Dalam pelaksanaannya, setiap tahun mereka berusaha untuk meningkatkan jumlah hewan kurban yang disiapkan agar lebih banyak warga dapat merasakan manfaatnya.
Dalam konteks sosial budaya masyarakat Purbalingga, pelaksanaan Ibada Iduladha oleh jemaah Islam Aboge mencerminkan keberagaman dan kekayaan tradisi lokal.
Meski berbeda pendapat tentang waktu pelaksanaan hari raya, hal ini tidak mengurangi semangat solidaritas dan kebersamaan antarsesama warga desa.
Kegiatan penyembelihan hewan kurban bukan hanya sekadar ritual keagamaan tetapi juga merupakan momen untuk mempererat tali persaudaraan antarwarga desa.
Setiap tahun, semarak perayaan ini selalu dinanti-nanti baik oleh anak-anak maupun orang dewasa.
Mereka berkumpul untuk melihat proses penyembelihan hewan kurban serta berbagi daging kepada mereka yang membutuhkan.
Dalam konteks lebih luas, fenomena perbedaan waktu pelaksanaan hari raya ini juga menggugah kesadaran akan pentingnya toleransi antarumat beragama di Indonesia.
Masyarakat perlu memahami bahwa setiap kelompok memiliki cara tersendiri dalam menjalankan ibadah tanpa harus saling merendahkan keyakinan orang lain.
Penting untuk mengedukasi generasi muda tentang keragaman tradisi keagamaan di Indonesia agar mereka tumbuh menjadi individu yang menghargai perbedaan sekaligus mampu menjaga harmoni dalam kehidupan bermasyarakat.
Dengan cara ini, harapan untuk mencapai persatuan di tengah keberagaman dapat terwujud nyata. (tya/stch/dda)
















