Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode
Polri Tetapkan 138 Tersangka Karhutla, 119 Orang Diduga Sengaja Bakar Lahan
Karhutla di Lereng Gunung Sindoro Temanggung Dipadamkan dalam Satu Jam

Karhutla di Lereng Gunung Sindoro Temanggung Dipadamkan dalam Satu Jam

Karhutla Sindoro Padam dalam Satu JamKarhutla Sindoro Padam dalam Satu Jam
PEMADAMAN: Tim gabungan berjibaku memadamkan kebakaran di lereng Sindoro

BANYUMASEKSPRES.ID, TEMANGGUNG – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi di kawasan Gunung Sindoro, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, Sabtu (5/9/2026).

Berkat respons cepat tim gabungan, api berhasil dipadamkan dalam waktu sekitar satu jam setelah laporan awal diterima.

Pemadaman melibatkan sejumlah unsur, mulai dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Temanggung, TNI, Polri, Perum Perhutani, relawan, hingga masyarakat.

Mereka bergerak bersama menuju lokasi setelah menerima informasi mengenai kepulan asap di kawasan hutan.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Temanggung Totok Nursetyanto mengatakan, informasi awal mengenai kepulan asap diterima sekitar pukul 14.12 dari KRPH Jumprit Nur Sulis.

Selanjutnya, sekitar pukul 14.35, petugas kembali menerima laporan dari masyarakat Desa Katekan mengenai kepulan asap yang terlihat di kawasan hutan.

Berdasarkan informasi yang diterima petugas, kebakaran terjadi di kawasan hutan milik Perum Perhutani, tepatnya Petak 11 J, Blok Seceker, RPH Kwadungan, BKPH Temanggung, KPH Kedu Utara.

Lokasi tersebut secara administratif berada di wilayah Desa Katekan, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung.

“Mendapat laporan tersebut, tim gabungan langsung menuju lokasi. Kebakaran terjadi di kawasan hutan Perum Perhutani, Petak 11 J, Blok Seceker, RPH Kwadungan, BKPH Temanggung, KPH Kedu Utara, wilayah administratif Desa Katekan, Kecamatan Ngadirejo,” jelas Totok.

Sesampainya di Petak 11 J, petugas mendapati beberapa titik api. Tim kemudian langsung melakukan upaya pemadaman agar api tidak meluas ke kawasan hutan di sekitarnya.

Kondisi kawasan hutan yang relatif rentan terhadap kebakaran pada musim kemarau membuat kecepatan penanganan menjadi sangat penting.

Api yang tidak segera dikendalikan berpotensi menjalar melalui vegetasi dan material yang kering.

Dalam proses pemadaman, tim gabungan menggunakan peralatan yang tersedia di lapangan.

Salah satu metode yang dilakukan adalah membuat ilaran atau sekat bakar untuk membatasi pergerakan api.

Selain membuat sekat bakar, petugas juga melakukan pemadaman secara langsung terhadap sejumlah titik api.

“Petugas melakukan pemadaman dengan membuat ilaran atau sekat bakar dan pemadaman langsung ke titik api menggunakan peralatan yang tersedia,” kata Totok.

Strategi tersebut dilakukan secara bersama-sama oleh personel yang berada di lokasi.

Dengan upaya cepat dan koordinasi antarpihak, titik-titik api dapat dikendalikan sehingga tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.

Api akhirnya berhasil dipadamkan sekitar pukul 15.03. Artinya, proses penanganan berlangsung kurang lebih satu jam sejak informasi awal mengenai kepulan asap diterima.

Meski api telah berhasil dipadamkan, petugas tidak langsung meninggalkan lokasi.

Pemantauan tetap dilakukan di sekitar kawasan yang terbakar untuk memastikan tidak terdapat titik api maupun asap yang dapat memicu kebakaran kembali.

Langkah tersebut penting dilakukan karena bara atau titik panas yang tersisa dapat kembali memunculkan api, terutama ketika kondisi lingkungan masih kering.

Totok mengatakan keberhasilan pemadaman tidak terlepas dari kesigapan seluruh personel yang terlibat.

Begitu menerima informasi mengenai kepulan asap, tim langsung bergerak menuju lokasi.

“Api berhasil dipadamkan berkat kesigapan personel gabungan yang langsung bergerak setelah menerima informasi adanya asap di kawasan hutan,” ujar Totok.

Koordinasi antara BPBD, TNI, Polri, Perum Perhutani, relawan, dan masyarakat menjadi bagian penting dalam penanganan karhutla tersebut.

BPBD Kabupaten Temanggung mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan, terutama selama musim kemarau.

Kondisi vegetasi yang cenderung lebih kering membuat api lebih mudah muncul dan menyebar.

Karena itu, masyarakat yang beraktivitas di sekitar kawasan hutan diminta lebih berhati-hati dan tidak melakukan kegiatan yang berpotensi memicu kebakaran.

Kejadian di kawasan Gunung Sindoro tersebut juga menjadi pengingat pentingnya respons cepat ketika muncul tanda-tanda kebakaran.

Informasi mengenai kepulan asap yang segera disampaikan kepada petugas dapat membantu proses penanganan sebelum api berkembang lebih luas.

Dengan pemantauan pascapemadaman dan kewaspadaan masyarakat, potensi munculnya kembali titik api di kawasan tersebut diharapkan dapat dicegah. (*/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Polri Tetapkan 138 Tersangka Karhutla

Polri Tetapkan 138 Tersangka Karhutla, 119 Orang Diduga Sengaja Bakar Lahan