BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Tak harus menunggu menjadi perajut senior untuk berani membawa karya ke panggung besar.
Bagi Fathin Ashfiya, keberanian mencoba justru menjadi bagian dari proses belajar.
Perajut payung handmade asal Desa Karanggintung, Kecamatan Kemranjen, Banyumas, itu untuk pertama kalinya mengikuti Festival Payung Indonesia (FESPIN) ke-13 di Taman Balekambang, Solo, Minggu (6/9/2026).
Di tengah karya para perajut yang telah lebih berpengalaman, Fathin hadir membawa sebuah payung berjudul “Dalam Pelukan Padi dan Bunga”.
Karya tersebut dibuat mengikuti tema FESPIN XIII, “Sepayung Dewi Sri, Catra Padi”, yang mengangkat payung bukan sekadar sebagai produk kerajinan, tetapi juga sebagai medium untuk merawat tradisi dan menyampaikan pesan budaya.
Fathin memilih bunga kenikir sebagai salah satu unsur utama dalam karyanya. Bunga yang kerap tumbuh liar dan dianggap sederhana tersebut justru memiliki makna tersendiri baginya.
Kenikir ditempatkan sebagai bagian dari cerita tentang kehidupan alam, khususnya ekosistem persawahan yang menjadi inspirasi utama karya tersebut.
“Saya ambil bunga kenikir, bunga liar dan sedikit terlupakan tapi sebenarnya sangat berpengaruh dalam kelangsungan kehidupan alam,” kata Fathin, Minggu (6/9).
Bagi Fathin, kenikir bukan sekadar ornamen untuk mempercantik tampilan payung. Kehadiran bunga tersebut memiliki kaitan dengan keseimbangan alam.
Ketika tumbuh berdampingan dengan tanaman padi, bunga dengan warna cerah itu dapat menarik serangga yang membantu proses penyerbukan.
Hal tersebut kemudian dituangkan Fathin ke dalam rajutan sebagai bagian dari pesan yang ingin disampaikan melalui karyanya.
Ia juga menghadirkan bentuk menyerupai kincir pada bagian alas payung. Bentuk tersebut menjadi simbol kehidupan alam yang terus bergerak dan berputar.
Perpaduan antara padi, bunga kenikir, dan simbol kincir kemudian membentuk satu kesatuan cerita.
“Dalam Pelukan Padi dan Bunga” Punya Pesan tentang Alam
Melalui karya tersebut, Fathin ingin menyampaikan kerinduan terhadap alam Indonesia yang tenang dan damai.
Payung yang dibuat dengan teknik rajut itu tidak hanya menampilkan unsur estetika, tetapi juga membawa harapan tentang alam yang mampu terus memberikan kemakmuran dan kesejahteraan bagi masyarakat.
“Dalam Pelukan Padi dan Bunga adalah kiasan tentang merindukan alam Indonesia yang tenang dan damai, memberi kemakmuran dan kesejahteraan untuk rakyat Indonesia tercinta,” ujarnya.
Bagi Fathin, proses merajut menjadi cara untuk menuangkan gagasan dan perasaan.
Setiap detail yang terdapat pada payung tidak dibuat secara sembarangan, melainkan menjadi bagian dari pesan yang ingin disampaikan.
Konsep tersebut sekaligus menunjukkan bahwa kerajinan tangan dapat menjadi media untuk bercerita.
Melalui benang, bentuk, warna, dan pola, sebuah payung dapat membawa pesan tentang alam serta kehidupan masyarakat.
Keikutsertaan Fathin di FESPIN XIII bukan semata-mata untuk mengejar penghargaan.
Ia justru melihat festival tersebut sebagai kesempatan untuk memperluas pengalaman.
Berada di antara para perajut yang telah lebih dulu berpengalaman menjadi kesempatan bagi Fathin untuk belajar sekaligus melihat berbagai karya dari sudut pandang yang lebih luas.
“Motivasi mengikuti FESPIN XIII untuk menambah pengalaman dan belajar lagi karena hampir peserta adalah perajut senior,” tuturnya.
Tahun ini, terdapat tujuh perajut asal Banyumas yang mengikuti FESPIN. Fathin mengaku dirinya masih tergolong pemula dan baru pertama kali mengikuti festival tersebut.
Namun, status sebagai perajut pemula tidak membuatnya ragu untuk tampil. Justru keberanian mencoba sesuatu yang baru menjadi bagian penting dari perjalanan kreatifnya.
Baginya, setiap helai rajutan membutuhkan kesabaran dan ketekunan.
Ada waktu yang harus dicurahkan, proses yang tidak selalu singkat, serta kecintaan terhadap kerajinan yang membuat sebuah payung akhirnya memiliki cerita.
Karena itu, FESPIN menjadi ruang pembelajaran bagi Fathin. Ia dapat melihat bagaimana perajut lain mengembangkan gagasan, mengolah material, serta menerjemahkan tema menjadi karya.
Kerajinan payung rajut handmade dari Kemranjen sendiri telah memiliki pasar yang cukup beragam.
Penggemarnya tidak hanya berasal dari masyarakat lokal. Sejumlah pejabat kementerian, pejabat dari mancanegara, hingga wisatawan juga disebut tertarik dengan karya para perajin.
Payung rajut tersebut juga tidak berhenti sebagai barang kerajinan untuk digunakan atau dimiliki secara pribadi.
Dalam sejumlah kesempatan, karya para perajin dibawa panitia untuk ditampilkan kembali dalam pameran maupun berbagai kegiatan lainnya.
Kondisi tersebut membuka peluang bagi kerajinan payung dari Kemranjen untuk dikenal lebih luas.
Keikutsertaan Fathin di FESPIN XIII menjadi salah satu langkah untuk mempertemukan karya dari Karanggintung dengan ruang budaya yang lebih luas.
Dari tangan seorang perajut pemula, karya tersebut membawa nama Kemranjen sekaligus memperkenalkan kreativitas perajin Banyumas kepada pengunjung festival.
Keikutsertaan Fathin mendapat sambutan positif dari Pemerintah Kecamatan Kemranjen.
Camat Kemranjen Ika Suprihatin mengatakan, kreativitas masyarakat merupakan salah satu potensi yang dapat terus dikembangkan.
Menurutnya, karya warga tidak hanya memiliki nilai seni, tetapi juga berpeluang mendukung kemajuan dan kemandirian ekonomi wilayah.
“Sangat bangga sekali dan sangat mendukung sekali kreativitas warga Kemranjen untuk kemajuan dan kebangkitan serta kemandirian ekonomi di wilayah Kemranjen,” kata Ika.
Dukungan tersebut menjadi penting bagi para perajin agar terus mengembangkan produk sekaligus berani memperkenalkan karya ke ruang yang lebih luas.
Bagi Fathin, FESPIN XIII mungkin baru menjadi langkah pertama. Namun, dari panggung tersebut, payung rajut buatan tangan dari Karanggintung mendapat kesempatan untuk bercerita lebih jauh.
Bukan hanya tentang keindahan sebuah payung, tetapi juga tentang alam, tradisi, ketekunan, kreativitas, dan keberanian seorang perajut pemula untuk terus belajar.
Dari benang yang dirajut satu demi satu, Fathin membawa sebuah pesan bahwa karya tidak harus menunggu sempurna untuk diperkenalkan.
Keberanian untuk mencoba dan belajar juga menjadi bagian dari perjalanan sebuah karya menuju ruang yang lebih besar. (fij/stch/dda)














