BANYUMASEKSPRES.ID, PURWOKERTO – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) semakin meningkat di wilayah Banyumas Raya seiring masuknya puncak musim kemarau.
Kondisi lahan yang semakin kering membuat semak belukar, rerumputan, dedaunan hingga kawasan hutan menjadi lebih mudah terbakar.
Sejumlah kejadian kebakaran lahan dilaporkan terjadi di Cilacap, Purbalingga, dan Banyumas dalam beberapa pekan terakhir.
Rangkaian peristiwa tersebut menjadi peringatan agar masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran selama musim kemarau.
Di Cilacap, sekitar dua hektare lahan Perhutani di BKPH Kawunganten, petak 88, Desa Sidaurip, Kecamatan Kawunganten, terbakar pada Senin (24/8/2026) malam.
Sementara itu, di Purbalingga tercatat 13 kejadian kebakaran lahan sepanjang periode 1 hingga 24 Agustus 2026.
Sedangkan di Banyumas, BPBD sebelumnya mencatat dua kejadian karhutla dalam satu hari.
Kebakaran lahan di kawasan Perhutani Cilacap diketahui sekitar pukul 21.30 WIB.
Warga yang berada di sekitar lokasi melihat kobaran api dan kemudian melaporkannya kepada petugas.
Petugas bersama komunitas relawan langsung melakukan penanganan. Upaya pemadaman berlangsung sekitar satu jam hingga api berhasil dikendalikan pada pukul 22.30 WIB.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Cilacap Taryo mengatakan lokasi kebakaran cukup jauh dari permukiman warga. Karena itu, api tidak sampai berdampak langsung terhadap rumah penduduk.
“Sudah bisa ditangani pada Senin malam, padam sekitar pukul 22.30 WIB,” kata Taryo, Rabu (26/8/2026).
Berdasarkan hasil kaji cepat BPBD Cilacap, luas lahan yang terdampak kebakaran mencapai sekitar dua hektare.
Hingga kini, penyebab kebakaran tersebut belum diketahui secara pasti. Setelah api berhasil dipadamkan, petugas melakukan pengecekan dan memastikan tidak ada titik api yang berpotensi kembali menyala.
“Penanganan melibatkan petugas terkait dan komunitas relawan. Upaya dilakukan untuk memastikan api benar-benar padam dan tidak kembali meluas,” ujarnya.
Ancaman kebakaran lahan juga cukup tinggi di Kabupaten Purbalingga. Data Bidang Pemadam Kebakaran (Damkar) Satpol PP Kabupaten Purbalingga hingga Rabu (26/8/2026) mencatat 29 kejadian kebakaran sepanjang Agustus.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 13 kejadian merupakan kebakaran lahan.
Jika dihitung berdasarkan periode 1 hingga 24 Agustus, frekuensi kebakaran lahan tersebut hampir mencapai satu kejadian setiap dua hari.
Bahkan, pada Senin (24/8/2026), terjadi dua kebakaran lahan dalam satu hari di wilayah Purbalingga.
Kasi Damkar Satpol PP Kabupaten Purbalingga Arif Wahyudi Dwi Nugrahanto mengatakan tingginya kejadian kebakaran lahan perlu menjadi perhatian serius masyarakat.
“Sebanyak 13 kejadian di antaranya merupakan kebakaran lahan,” katanya kepada Radarmas, Rabu (26/8/2026).
Menurut Arif, sebagian besar kejadian diduga dipicu aktivitas pembakaran yang tidak terkendali.
Salah satunya kebiasaan membakar sampah kemudian meninggalkan lokasi sebelum memastikan api benar-benar padam.
“Disebabkan warga yang sembarangan membakar sampah. Setelah membakar sampah ditinggalkan begitu saja,” ujarnya.
Meskipun demikian, rangkaian kebakaran tersebut tidak menimbulkan korban jiwa maupun korban luka.
Namun, asap dari beberapa kejadian sempat mengganggu aktivitas warga dan jarak pandang pengguna jalan.
Di Kabupaten Banyumas, dua kejadian kebakaran lahan juga terjadi dalam waktu berdekatan.
Kebakaran pertama terjadi di kawasan perbukitan kompleks overpass Desa Gambarsari, Kecamatan Kebasen.
Kebakaran diketahui sekitar pukul 14.08 WIB dan menghanguskan semak belukar dengan luas sekitar satu hektare.
Sekitar empat jam kemudian, kebakaran kembali terjadi di Desa Kalikesur, Kecamatan Kedungbanteng.
Material yang terbakar kali ini berupa daun bambu kering dengan luas sekitar 20 meter persegi.
BPBD Banyumas mencatat, dua kejadian tersebut menambah jumlah karhutla selama musim kemarau menjadi 13 kejadian hingga Kamis (20/8) pagi.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ancaman kebakaran tidak hanya berasal dari kawasan hutan.
Lahan kosong, semak belukar, rerumputan, hingga material kering di sekitar permukiman juga memiliki risiko tinggi terbakar ketika kondisi lingkungan semakin kering.
Memasuki puncak musim kemarau, masyarakat diminta lebih berhati-hati dalam melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.
Taryo mengingatkan warga agar tidak membakar sampah sembarangan. Masyarakat juga diminta tidak membuang puntung rokok di lokasi yang terdapat material mudah terbakar.
“Jangan membakar sampah sembarangan, membuang puntung rokok sembarangan termasuk kegiatan-kegiatan lain yang dapat menimbulkan potensi kebakaran,” tandasnya.
Imbauan serupa disampaikan Arif. Menurutnya, warga yang terpaksa melakukan pembakaran harus memastikan api berada jauh dari dedaunan kering, kayu, rumput dan material lain yang mudah terbakar.
“Waspadalah jika melakukan pembakaran sampah, jauhkan nyala api dari dedaunan kering dan kayu atau bahan yang mudah terbakar, selalu awasi hingga api padam,” imbuhnya.
Kondisi kemarau yang masih berlangsung membuat potensi kebakaran lahan di Banyumas Raya perlu mendapat perhatian.
Vegetasi yang mengering dan terbatasnya sumber air dapat membuat api lebih cepat menyebar.
Kebakaran yang awalnya hanya terjadi pada area kecil juga berpotensi meluas apabila tidak segera ditangani.
Karena itu, kewaspadaan masyarakat menjadi salah satu faktor penting dalam mencegah karhutla.
Selain menghindari aktivitas pembakaran yang tidak terkendali, warga juga perlu segera melaporkan apabila melihat kepulan asap atau titik api.
Petugas dari BPBD, pemadam kebakaran, aparat, relawan dan masyarakat akan lebih mudah melakukan penanganan apabila laporan diterima sejak awal.
Rangkaian kebakaran di Cilacap, Purbalingga dan Banyumas menjadi gambaran bahwa ancaman karhutla saat puncak musim kemarau mulai merata di Banyumas Raya.
Selama musim kemarau belum berakhir, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan dan memastikan setiap aktivitas yang menggunakan api dilakukan dengan pengawasan.
Langkah sederhana seperti tidak membakar sampah sembarangan dan memastikan api benar-benar padam dapat membantu mencegah kebakaran meluas. (jul/tya/zet/stch/dda)














