Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode
Amanda Manopo Laporkan Penggelapan Dana Manajamen ke Polisi, Bawa Bukti Audit dan Perjanjian
Kisah Joko Purwanto: Perajin Wayang Kulit Banyumasan yang Gagas Literasi Budaya di Usia 66 Tahun

Kisah Joko Purwanto: Perajin Wayang Kulit Banyumasan yang Gagas Literasi Budaya di Usia 66 Tahun

Seni Banyumasan Disiapkan Regenerasi Lewat KolaborasiSeni Banyumasan Disiapkan Regenerasi Lewat Kolaborasi
SEMANGAT: Joko Purwanto perajin wayang kulit yang telah memasuki usia senja masih semangat untuk melestarikan warisan budaya, Rabu (22/7)

BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Semangat melestarikan budaya tidak mengenal usia. Hal itu dibuktikan oleh Joko Purwanto, perajin wayang kulit Banyumasan asal Desa Kecila, Kecamatan Kemranjen, Kabupaten Banyumas, yang hingga kini masih aktif berkarya meski telah berusia 66 tahun.

Selama lebih dari lima dekade, Joko mengabdikan dirinya untuk membuat wayang kulit khas Banyumasan secara manual.

Ketelatenan dan kecintaannya terhadap seni tradisional membuat hasil karyanya dikenal hingga berbagai daerah di Indonesia.

Kini, bersama sejumlah pegiat budaya, ia menggagas kolaborasi antara seni wayang dan gerakan literasi sebagai upaya menjaga keberlangsungan warisan budaya sekaligus mencetak generasi penerus.

Di rumah sederhananya, Joko masih rutin menerima dan mengerjakan pesanan wayang kulit.

Pelanggannya berasal dari berbagai kalangan, mulai dari dalang, pemilik persewaan wayang, kolektor, hingga pehobi seni tradisional dari wilayah Banyumas Raya, Bali, dan sejumlah daerah lainnya.

Keahlian Joko dalam membuat wayang kulit juga pernah mendapat perhatian dunia akademik.

Ia sempat diundang oleh Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) untuk mendemonstrasikan proses pembuatan wayang kulit di hadapan tamu dari berbagai negara.

“Saya pernah diundang oleh Unsoed untuk membawa seluruh peralatan pembuatan wayang kulit dan mempraktikkan proses pembuatannya dalam acara kunjungan tamu dari beberapa negara,” ungkap Joko.

Meski usianya tidak lagi muda, semangatnya tetap tinggi. Setiap lembar wayang dikerjakan dengan penuh ketelitian, mulai dari proses natah (memahat kulit) hingga sungging (mewarnai).

Karena penglihatannya mulai berkurang, Joko kini menggunakan kaca pembesar agar setiap detail ukiran tetap presisi.

Tak jarang, ia harus bekerja hingga dini hari demi menyelesaikan pesanan pelanggan sesuai jadwal.

Dedikasi tersebut menjadi bukti bahwa kecintaan terhadap budaya mampu mengalahkan berbagai keterbatasan fisik.

Namun, perjuangan melestarikan wayang kulit Banyumasan bukan tanpa hambatan.

Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Joko adalah semakin mahalnya harga bahan baku berupa kulit sapi berkualitas.

Saat ini, harga satu lembar kulit sapi mencapai sekitar Rp1,5 juta hingga Rp1,7 juta.

Kenaikan harga bahan baku tentu berdampak pada biaya produksi, sementara minat generasi muda terhadap profesi sebagai perajin wayang kulit masih relatif rendah.

Kondisi tersebut menjadi perhatian pegiat budaya Banyumas, Aditya Hera Nurmoko.

Menurutnya, sosok Joko Purwanto merupakan aset budaya yang sangat berharga karena masih aktif mempertahankan teknik tradisional pembuatan wayang kulit Banyumasan.

Aditya menilai regenerasi menjadi kebutuhan mendesak agar keahlian membuat wayang kulit tidak berhenti pada generasi sekarang.

“Kita memiliki tokoh yang masih produktif membuat wayang kulit Banyumasan meskipun usianya sudah sepuh. Akan sangat disayangkan apabila tidak ada generasi penerus yang melanjutkan keahlian tersebut. Pak Joko merupakan aset budaya hidup yang dimiliki Banyumas,” ujarnya.

Berangkat dari kepedulian tersebut, muncul gagasan untuk menggabungkan pelestarian wayang kulit dengan gerakan literasi budaya.

Konsep literasi yang dimaksud tidak hanya sebatas kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga mencakup literasi data, literasi teknologi, serta literasi manusia.

Melalui pendekatan tersebut, generasi muda diharapkan tidak hanya mengenal sejarah wayang kulit Banyumasan, tetapi juga memahami nilai budaya, filosofi, proses pembuatannya, hingga mampu memanfaatkan teknologi digital untuk memperkenalkan kesenian tradisional kepada masyarakat yang lebih luas.

Kolaborasi antara seni tradisional dan literasi dinilai menjadi langkah strategis untuk menjaga eksistensi wayang kulit Banyumasan di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan modernisasi.

Selain itu, dukungan pemerintah, lembaga pendidikan, komunitas budaya, dan masyarakat juga dinilai sangat penting agar kesenian khas Banyumas tetap berkembang serta semakin dikenal di tingkat nasional maupun internasional.

Semangat yang ditunjukkan Joko Purwanto menjadi inspirasi bahwa pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan menjaga karya, tetapi juga memastikan ilmu dan keterampilan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Dengan adanya regenerasi dan kolaborasi lintas sektor, wayang kulit Banyumasan diharapkan tetap hidup sebagai salah satu identitas budaya Indonesia yang patut dibanggakan. (fij/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Laporkan Manajemen ke Polisi

Amanda Manopo Laporkan Penggelapan Dana Manajamen ke Polisi, Bawa Bukti Audit dan Perjanjian