BANYUMASEKSPRES.ID, PURWOKERTO – Dalam persiapan menuju pelaksanaan ibadah haji, mayoritas jemaah haji asal Banyumas berangkat ke tanah suci dengan dukungan pendampingan obat, alat kesehatan, serta bantuan dari orang lain.
Dari total sekitar 1.300 jemaah, hanya sekitar 10 persen yang dinyatakan istithaah murni, atau mampu secara kesehatan tanpa memerlukan pendampingan.
Data tersebut disampaikan oleh Ketua Tim Kerja Surveilans dan Kejadian Luar Biasa (KLB) Dinas Kesehatan Banyumas, Achmad Khairul Hamdi.
Menurut Achmad, sebagian besar jemaah membutuhkan pendampingan selama menjalani rangkaian ibadah haji di Arab Saudi.
Ia menjelaskan, “Mayoritas dengan pendampingan obat. Ketika berangkat dengan kursi roda maka pendampingan orang mengikuti.”
Hal ini menunjukkan betapa pentingnya perhatian kesehatan bagi para jemaah agar mereka bisa melaksanakan ibadah haji dengan baik dan aman.
Meski demikian, hingga menjelang puncak ibadah haji, kondisi kesehatan jemaah asal Banyumas masih terpantau aman.
Kantor Kementerian Haji dan Umroh Banyumas memastikan bahwa hingga saat ini belum ada laporan mengenai jemaah yang harus mengikuti safari wukuf atau bahkan meninggal dunia di tanah suci.
Puncak ibadah haji yang merupakan wukuf di Padang Arafah dijadwalkan berlangsung pada 10 Dzulhijah atau Rabu (27/5).
Menjelang pelaksanaan wukuf, petugas kesehatan terus memantau kondisi kesehatan para jemaah agar seluruh rangkaian ibadah dapat dijalani dengan baik dan sesuai ketentuan.
Kasubbag TU Kantor Kementerian Haji dan Umroh Banyumas, H. Abdul Malik, S.Pd mengungkapkan bahwa hingga siang hari Senin (25/5), belum ada laporan mengenai jemaah asal Banyumas yang harus mengikuti safari wukuf.
“Kondisi jemaah secara umum masih sehat dan mampu mengikuti wukuf secara mandiri,” ungkap Malik.
Ia menambahkan bahwa sejauh ini tidak ada laporan mengenai jemaah dari Banyumas yang wafat di tanah suci dan berharap agar hal tersebut tetap terjaga hingga kepulangan mereka ke tanah air.
Para jemaah tetap mendapatkan pendampingan selama menjalani ibadah haji di Arab Saudi.
Pendampingan ini dilakukan oleh ketua kloter, pembimbing ibadah, serta petugas kesehatan yang terus memantau kondisi mereka.
Sistem pemeriksaan kesehatan sebelum keberangkatan juga dinilai sangat berpengaruh terhadap kondisi kesehatan jemaah selama berada di tanah suci.
Malik menerangkan bahwa pemeriksaan ketat di embarkasi mampu menekan risiko gangguan kesehatan serius pada para jemaah.
“Berdasarkan sistem informasi haji, jumlah jemaah asal Jawa Tengah yang meninggal dunia di tanah suci hingga saat ini tercatat enam orang,” katanya.
Jemaah yang meninggal tersebut berasal dari Kabupaten Tegal, Pekalongan, Brebes, Blora dan Pati.
Sistem pemeriksaan kesehatan di embarkasi dilakukan dengan sangat ketat tanpa kompromi.
Bahkan ada sejumlah calon jemaah asal Banyumas yang terpaksa dipulangkan karena tidak memenuhi syarat kesehatan untuk berangkat ke tanah suci.
“Ceking akhir di embarkasi sangat ketat. Banyumas sampai lima jemaah yang dipulangkan,” pungkas Malik.
Hal ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam menjaga keselamatan dan kesehatan para jemaah haji sebelum mereka menjalankan ibadah di tanah suci.
Setiap langkah yang diambil bertujuan untuk memastikan bahwa semua orang yang berangkat ke Arab Saudi dalam keadaan sehat sehingga dapat menjalankan seluruh rangkaian ibadah dengan sempurna.
Pendukung utama dalam keberhasilan proses ini adalah tim medis yang terus bekerja keras memantau kesehatan para jemaah baik sebelum keberangkatan maupun selama berada di Arab Saudi.
Mereka tidak hanya melakukan pemeriksaan rutin tetapi juga memberikan edukasi kepada para jemaah tentang pentingnya menjaga kesehatan selama menjalankan ibadah.
Selama berada di tanah suci, berbagai tantangan dapat muncul terkait kesehatan seperti perubahan cuaca yang ekstrem atau kelelahan fisik akibat perjalanan panjang dan aktivitas ibadah yang padat.
Oleh karena itu, penting bagi setiap individu untuk tetap menjaga stamina dan mengikuti anjuran medis serta bimbingan dari petugas haji.
Sebagai bagian dari proses persiapan menuju puncak ibadah haji berupa wukuf, seluruh pihak terkait harus saling bersinergi agar semua aspek dapat berjalan lancar.
Melihat dari situasi terkini dimana tidak ada laporan mengenai masalah kesehatan serius pada jemaah bisa menjadi pertanda positif bagi keberlangsungan ibadah haji tahun ini.
Keberadaan pendamping bagi mereka yang membutuhkan juga sangat membantu mengurangi beban mental dan fisik selama berada dalam masa pelaksanaan ibadah haji.
Dengan dukungan penuh dari berbagai pihak termasuk keluarga dan petugas medis membuat para jemaah merasa lebih tenang sehingga bisa fokus pada pelaksanaan rangkaian kegiatan spiritual mereka. (yda/stch/dda)
















