BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Pada Selasa malam, 10 Maret, masyarakat penganut Islam Alif Rebo Wage, atau yang lebih dikenal sebagai Aboge, di wilayah Banyumas timur kembali melaksanakan tradisi likuran.
Acara tahunan ini dilaksanakan setelah salat tarawih di tempat masing-masing. Dengan semangat kekeluargaan yang tinggi, mereka berkumpul di Kampung Adat Sela Kembang, Desa Ketanda, Kecamatan Sumpiuh.
Tanpa adanya undangan resmi atau pengumuman sebelumnya, puluhan penganut berkumpul dengan penuh kesadaran untuk mengikuti tradisi yang telah diwariskan secara turun temurun ini.
Kehadiran warga dalam acara likuran ini menunjukkan komitmen kuat mereka untuk menjaga adat dan nilai-nilai luhur yang telah diwariskan oleh nenek moyang.
Tarman, salah satu penganut dari Gumelar Kidul Kecamatan Tambak, menceritakan bahwa kehadirannya dalam tradisi ini adalah panggilan jiwa murni dan bukan karena adanya dorongan dari pihak lain.
“Sebelum hari H diselenggarakan tradisi likuran, tidak ada pengumuman, woro-woro maupun pemberitahuan. Tidak ada yang menyuruh ataupun disuruh datang,” ungkap Tarman saat ditemui di lokasi.
Penganut Islam Aboge memiliki sistem penanggalan unik yang berbeda dengan kalender umum.
Mereka menggunakan siklus windu atau delapan tahun dalam menentukan hari-hari besar keagamaan. Tahun pertama dalam penanggalan Jawa-Islam jatuh pada hari Rabu Wage.
Dengan demikian, penganut Aboge telah mengetahui jadwal rinci tradisi yang akan dijalankan jauh-jauh hari sebelumnya.
Kesadaran kolektif ini membuat mereka tidak perlu menunggu perintah atau publikasi untuk mempersiapkan diri dalam melestarikan adat yang sudah menjadi bagian dari identitas mereka.
Di era kemajuan teknologi saat ini, di mana berbagai aplikasi perpesanan di ponsel pintar semakin mendominasi kehidupan sehari-hari, tradisi likuran tetap berlangsung tanpa adanya publikasi luas.
Meskipun acara tersebut berlangsung dalam kesunyian dan tanpa sorotan media besar, ikatan solidaritas sosial di antara penganutnya tetap terjaga dengan kuat.
“Ketika tiba waktunya acara, kami datang. Masing-masing dari kami sudah paham apa yang harus dilakukan,” tambah Tarman dengan nada bangga.
Acara likuran kali ini juga dilengkapi dengan sajian khas yang menjadi simbol dari tradisi tersebut.
Sesepuh penganut Islam Aboge Tarmono menjelaskan bahwa malam ke dua puluh satu Ramadan diyakini sebagai hari bada atau lebarannya Nabi Muhammad.
Sebagai bentuk penghormatan dan rasa syukur kepada Sang Pencipta serta sebagai wujud syukur atas segala nikmat yang diberikan-Nya, mereka menggelar selamatan dengan membawa sajian istimewa berupa ingkung ayam utuh yang disebut Rasulan.
Tarmono mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada seluruh penganut Islam Aboge yang selalu hadir dalam acara likuran dengan penuh kerelaan dan sukacita.
“Tradisi ini menjadi bukti kuatnya komitmen masyarakat menjaga warisan leluhur,” ujarnya penuh harapan.
Ia berharap agar generasi muda dapat meneladani sikap-sikap mulia Kanjeng Nabi Muhammad serta tetap berbudi luhur dalam setiap tindakan sehari-hari.
Keberlangsungan tradisi likuran ini bukan hanya sekadar ritual belaka, melainkan juga merupakan upaya untuk memperkuat ikatan antarwarga serta menjaga nilai-nilai kearifan lokal yang sudah ada sejak lama.
Dalam setiap langkah pelaksanaan tradisi ini, tersimpan harapan untuk terus menjaga identitas budaya sekaligus menciptakan harmoni dalam kehidupan beragama di tengah-tengah masyarakat.
Melalui setiap pertemuan dalam acara seperti ini, para penganut Aboge tidak hanya merayakan aspek spiritual namun juga membangun solidaritas sosial yang semakin kokoh di antara mereka.
Ini adalah contoh nyata bagaimana sebuah komunitas dapat bertahan dan berkembang meskipun menghadapi tantangan zaman modern yang semakin kompleks.
Masyarakat penganut Islam Aboge juga patut dicontoh karena selalu menghargai warisan budaya sambil tetap membuka diri terhadap perubahan tanpa meninggalkan akar budaya mereka.
Dalam konteks globalisasi saat ini, pelestarian budaya lokal seperti tradisi likuran menjadi penting agar generasi mendatang dapat memahami dan merasakan makna dari nilai-nilai luhur yang terkandung dalam budaya mereka sendiri.
Dengan dilaksanakannya acara likuran ini secara konsisten setiap tahunnya, masyarakat Banyumas timur menunjukkan bahwa meski zaman terus berubah, nilai-nilai kebersamaan dan kekeluargaan tetap layak untuk dipelihara dan dijaga. (fij/stch/dda)
















