BANYUMASEKSPRES.ID, JAKARTA – Sektor otomotif di Indonesia saat ini menghadapi tantangan serius. Data terbaru menunjukkan bahwa penjualan mobil dalam negeri mengalami penurunan signifikan sebesar 7,2 persen pada tahun 2025 jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, 2024.
Meskipun pasar domestik lesu, kabar baik datang dari sektor ekspor yang mencetak rekor baru.
Menurut data dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), jumlah ekspor kendaraan utuh (Completely Built Up/CBU) pada tahun 2025 mencapai 518.212 unit, menembus hingga 93 negara.
Angka ini meningkat sebesar 9,75 persen dibandingkan dengan tahun lalu dan merupakan yang tertinggi dalam lima tahun terakhir.
Ketua Umum Gaikindo, Putu Juli Ardika, menilai pencapaian tersebut sebagai bukti bahwa kualitas produksi otomotif Indonesia telah diakui di pasar global.
Dalam penjelasannya, ia mengatakan, “Filipina tercatat sebagai tujuan ekspor terbesar, disusul Vietnam dan Meksiko, dengan tipe SUV dan MPV paling diminati.”
Hal ini menunjukkan bahwa permintaan terhadap produk otomotif buatan Indonesia semakin meningkat di negara-negara tersebut.
Sekretaris Umum Gaikindo, Kukuh Kumara, menjelaskan lebih lanjut tentang kesuksesan ekspor ke Meksiko.
Ia menegaskan bahwa MPV rakitan Indonesia menjadi pilihan favorit di negara tersebut karena karakter konsumennya mirip dengan konsumen di tanah air.
“Mereka membutuhkan mobil keluarga dengan kapasitas penumpang besar dan mesin menengah,” ungkapnya.
Meski demikian, kondisi pasar dalam negeri justru menjadi sorotan utama. Produksi mobil nasional sebenarnya memiliki potensi yang besar dengan kapasitas mencapai 2,59 juta unit per tahun.
Namun kenyataannya, realisasi penjualan rata-rata hanya mencapai sekitar 1,2 juta unit per tahun.
Kukuh menambahkan bahwa lemahnya pasar domestik adalah salah satu penyebab utama mengapa kapasitas produksi belum dimanfaatkan secara maksimal.
Salah satu faktor yang dianggap berkontribusi pada lesunya penjualan adalah tingginya pajak yang dikenakan kepada konsumen.
Harga mobil dari pabrik bisa melonjak hingga sekitar 50 persen ketika sampai ke tangan konsumen akibat beban pajak yang tinggi.
Belum lagi pajak tahunan yang dirasa jauh lebih tinggi dibandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand.
“Daya beli masyarakat semakin tertekan, terlebih di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih,” imbuh Kukuh.
Dalam situasi ini, Gaikindo memilih untuk bersikap realistis mengenai target penjualan mereka.
Menurut Kukuh, jika penjualan dapat menyamai angka tahun lalu saja sudah dianggap cukup baik mengingat tantangan yang ada.
Pencapaian ekspor kendaraan ‘Made in Karawang’ memang membanggakan bagi industri otomotif Indonesia.
Namun akan lebih membanggakan lagi jika pasar dalam negeri juga bangkit kembali sehingga masyarakat Indonesia dapat lebih mudah menikmati produk-produk dari industri dalam negeri.
Melihat kondisi ini, penting untuk memahami bagaimana pajak dan regulasi dapat memengaruhi daya beli masyarakat dan kinerja industri otomotif secara keseluruhan.
Jika pemerintah dapat mempertimbangkan cara untuk merelaksasi beban pajak bagi konsumen mobil baru, hal itu tidak hanya akan membantu mendorong pertumbuhan pasar domestik tetapi juga mendukung produksi dalam negeri yang berkelanjutan.
Dari sisi produsen mobil, mereka juga perlu beradaptasi dengan kebutuhan dan harapan konsumen lokal agar lebih kompetitif di pasar domestik sekaligus memenuhi standar kualitas global yang telah terbukti sukses dalam ekspor.
Melalui pengembangan produk yang tepat sasaran dan strategi pemasaran yang efisien, produsen dapat berupaya meningkatkan penjualan di dalam negeri meskipun tantangan masih ada.
Dengan semua dinamika ini, industri otomotif Indonesia berada pada titik kritis antara mempertahankan prestasi ekspor dan memperbaiki posisi pasar domestik. (*/dda)
















