BANYUMASEKSPRES.ID, Perubahan iklim global kembali menjadi perhatian serius setelah para ilmuwan mulai memantau kemunculan fenomena El Nino yang berkembang di kawasan Samudra Pasifik.
Kondisi ini dinilai berpotensi memicu kenaikan suhu ekstrem dan mencetak rekor panas baru di berbagai wilayah dunia dalam waktu dekat.
Sejumlah lembaga iklim internasional bahkan memperingatkan kemungkinan munculnya El Nino super yang disebut-sebut bisa menjadi salah satu yang paling kuat sepanjang abad ini.
Jika prediksi tersebut benar terjadi, dampaknya diperkirakan akan terasa secara global mulai dari cuaca ekstrem, kekeringan panjang, hingga peningkatan risiko bencana alam.
Fenomena ini semakin mengkhawatirkan karena terjadi bersamaan dengan pemanasan global akibat aktivitas manusia.
Kombinasi keduanya dinilai dapat mendorong suhu bumi melampaui batas kritis kenaikan 1,5 derajat Celsius dibandingkan era pra-industri.

Beberapa model iklim terbaru bahkan memperlihatkan potensi lonjakan suhu yang mendekati atau melampaui 2 derajat Celsius.
Angka tersebut menjadi perhatian besar karena belum pernah tercatat dalam sejarah pengamatan iklim modern.
Selain itu, terdapat fenomena alam Ledakan hebat guncang KM Tokitoki o1 di Teluk Along. Fenomena ini mengakibatkan sejumlah ABK alami luka bakar yang serius.
Apa Itu El Nino dan Mengapa Bisa Berbahaya?
El Nino merupakan fenomena iklim alami yang terjadi akibat meningkatnya suhu permukaan laut di wilayah tengah dan timur Samudra Pasifik tropis.
Kondisi ini biasanya muncul setiap dua hingga tujuh tahun sekali dengan durasi sekitar sembilan hingga dua belas bulan.
Fenomena tersebut terjadi ketika angin pasat yang biasanya mendorong massa air hangat ke arah barat melemah atau berubah arah.
Akibatnya, suhu laut di kawasan Pasifik mengalami peningkatan signifikan dan memengaruhi pola cuaca global.
Dalam kondisi tertentu, El Nino dapat berkembang menjadi El Nino super. Istilah ini digunakan ketika suhu permukaan laut meningkat lebih dari 2 derajat Celsius di atas kondisi normal.
Sejak tahun 1950, El Nino super hanya terjadi beberapa kali. Bahkan dalam catatan sejarah, hanya ada satu kejadian ketika anomali suhu mencapai lebih dari 2,5 derajat Celsius.
Ilmuwan Prediksi El Nino Super Mulai Menguat
Berdasarkan pemantauan terbaru dari US Climate Prediction Center, kondisi iklim dunia saat ini sedang bergerak dari fase La Nina menuju kondisi netral.
Namun berbagai model prakiraan menunjukkan transisi cepat menuju fase El Nino dalam beberapa bulan mendatang.
Sementara itu, International Research Institute for Climate and Society memprediksi peluang kemunculan El Nino mencapai sekitar 70 persen pada Juni dan meningkat hingga 94 persen menjelang akhir tahun.
Peringatan serupa juga disampaikan oleh Met Office yang menyebut fenomena kali ini berpotensi mencatat sejarah baru. Para peneliti memperkirakan El Nino yang berkembang dapat menjadi yang terkuat di abad ke-21.
Marc Alessi dari Union of Concerned Scientists menyatakan bahwa kemungkinan suhu global melampaui 2 derajat Celsius meski kecil tetap menjadi sinyal yang mengkhawatirkan.
Menurutnya, fakta bahwa probabilitas tersebut mulai muncul saja sudah cukup mengejutkan bagi komunitas ilmiah.
Dampak El Nino Super Bisa Terjadi di Banyak Negara
Jika El Nino super benar-benar terjadi, dampaknya diprediksi menyebar ke berbagai belahan dunia.
Sejumlah wilayah berpotensi mengalami kekeringan panjang dan gelombang panas ekstrem yang memicu krisis pangan maupun air bersih.
Australia, India, Afrika bagian selatan dan tengah, hingga sebagian wilayah Amerika Selatan termasuk kawasan Amazon diperkirakan menjadi daerah yang paling rentan mengalami cuaca kering ekstrem.
Kondisi ini dapat meningkatkan risiko kebakaran hutan dan penurunan hasil pertanian. Di sisi lain, beberapa negara justru menghadapi ancaman hujan berlebihan dan banjir besar.
Wilayah selatan Amerika Serikat, sebagian Timur Tengah, dan Asia Selatan-Tengah diperkirakan berpotensi mengalami curah hujan ekstrem.
El Nino juga diketahui memengaruhi pola badai tropis di berbagai samudra. Aktivitas badai di Atlantik biasanya menurun, tetapi potensi badai kuat di Samudra Pasifik justru meningkat cukup signifikan.
Belajar dari El Nino Super Tahun 2015
Fenomena El Nino super sebelumnya yang terjadi pada 2015 memberikan dampak besar di banyak negara.
Ethiopia mengalami kekeringan parah yang menyebabkan gangguan pangan dan krisis kemanusiaan.
Selain itu, Puerto Rico sempat menghadapi masalah serius terkait pasokan air bersih akibat musim kering berkepanjangan.
Di kawasan Pasifik tengah-utara, musim badai tropis juga tercatat jauh lebih ganas dibandingkan tahun-tahun normal. Meski begitu, para ilmuwan menegaskan bahwa setiap kejadian El Nino memiliki karakteristik berbeda.
Karena itu, perkembangan fenomena ini masih terus dipantau untuk mengetahui seberapa besar dampak yang akan terjadi pada tahun 2026. (*/nds)
















