Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Pasar Peksi Bacingah Purwokerto Sepi Pengunjung, Hanya Kicau Burung yang Masih Ramai

Pasar peksi bacingah sepi pengunjungPasar peksi bacingah sepi pengunjung
Suasana pasar burung Peksi Bacingah, Selasa (22/7). Pedagang menyibukan diri dengan mereparasi sangkar yang rusak milik pelanggannya.

BANYUMASEKSPRES.ID, PURWOKERTO – Di tengah keheningan yang menyelimuti, kicauan burung masih terdengar jelas di Pasar Burung Peksi Bacingah. Aktivitas tawar-menawar yang dulu ramai kini nyaris menghilang, meninggalkan pasar dalam suasana sepi.

Pasar ini dulunya menjadi pusat perdagangan burung dan aksesorinya, namun sekarang lebih banyak terdiam dalam kesunyian.

Sejak masa pandemi berakhir, kondisi pasar justru mengalami penurunan signifikan. Ironisnya, ketika pembatasan sosial masih diberlakukan, aktivitas di tempat ini justru terbilang ramai. Kini, dari 25 kios yang tersedia, hanya 12 yang masih bertahan beroperasi.

“Dulu setiap hari Minggu sampai menutup jalan Kongsen karena ramainya pengunjung. Sekarang paling hanya ramai saja, tidak seperti dulu,” ujar Sandri, seorang pedagang burung yang telah berdagang di sana selama enam tahun, Selasa (22/7).

Sandri menjelaskan bahwa biasanya momen menjelang tahun ajaran baru membawa keberuntungan bagi para pedagang.

Banyak pemilik burung yang menjual hewan peliharaannya untuk memenuhi kebutuhan sekolah anak-anak mereka. Namun tahun ini situasinya berbeda.

“Pada momen tahun ajaran baru biasanya banyak yang jual burung untuk tambahan biaya sekolah anak. Sekarang sepi sekali, omzet turun hingga 70 persen. Anehnya waktu Covid-19 malah ramai, setelahnya justru sepi,” tambah Sandri.

Tidak hanya pedagang burung yang merasakan dampaknya, Sutirah, seorang penjual kopi dan jajanan juga mengeluhkan penurunan omzet yang drastis.

“Dulu hari Minggu itu pedagang tiban dan parkir motor pembeli sampai di jalan penuh sekali. Sekarang jauh lebih sepi. Omzet saya turun lebih dari 50 persen tapi ya disyukuri saja,” ungkap Sutirah.

Prio, petugas parkir yang telah bekerja lebih dari satu dekade di area tersebut juga merasakan perubahan serupa.

“Di masa pandemi Covid-19 malah ramai sekali, habis itu terus menurun. Dulu hari biasa bisa ada lebih dari 100 motor sementara hari Minggu bisa lebih banyak lagi sampai menutup jalan Kongsen. Sekarang paling 100 motor saja pada hari Minggu,” kata Prio.

Para pedagang menduga bahwa salah satu faktor penyebab menurunnya jumlah pengunjung adalah meningkatnya transaksi jual beli burung secara online.

Banyak pedagang dan penghobi kini memilih untuk menjual atau membeli burung langsung dari rumah melalui media sosial.

Meski demikian para pedagang tidak tinggal diam begitu saja. Mereka berharap ada langkah konkret dari pemerintah atau komunitas pecinta burung untuk menghidupkan kembali pasar ini.

Salah satu upaya yang diharapkan adalah melalui lomba burung berkicau seperti pada masa kejayaannya dahulu.

“Kalau bisa ada event lomba kicau atau gantangan seperti dulu minimal seminggu sekali supaya pasar ini bisa hidup lagi,” harap mereka. (*/dms/stch)

Berita Sebelumnya
Serap tenaga kerja 95 persen warga lokal

Budidaya Udang Berbasis Kawasan Tegalretno Kebumen Jadi Percontohan Nasional

Berita Selanjutnya
Aldi dan ragil, mas dan mbak cilacap 2025

Aldi Nuari Irnianto dan Ragil Putri Permata Dinobatkan sebagai Duta Wisata Cilacap 2025