BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Masyarakat Budha dari Dusun Cengkoreh dan Wanarata di Desa Banjarpanepen, Kecamatan Sumpiuh, menggelar Kirab Agung untuk memperingati Tahun Baru Jawa 1 Saka 1959 pada Selasa (22/7).
Prosesi ini bukan sekadar kegiatan seremonial biasa, melainkan sebuah ritual penuh makna yang menggambarkan rasa syukur dan kebersamaan.
Umat Budha memulai perjalanan mereka dengan berjalan kaki dari Cetiya Khanti Viriya Damma menuju Cakuma Eka Raja.
Rute sepanjang dua kilometer ini melewati jalan setapak dengan medan yang cukup menantang, membelah kawasan hutan pinus yang sejuk dan sunyi.
“Kirab ini adalah bentuk rasa syukur kepada bapak angkasa dan ibu pertiwi,” ungkap Bhikku Thera Cira Subho dengan penuh kesungguhan.
Sepanjang perjalanan, terdapat sejumlah ritual sakral di berbagai titik seperti simpang jalan dan jembatan. Pada setiap pemberhentian, Bhikku menyalakan dupa, menabur bunga sedap malam, serta mencipratkan air suci.
“Air merupakan simbol berkah, kesejukan, cinta kasih dan kasih sayang. Sedangkan dupa melambangkan keharuman dan kebajikan,” jelas Bhikku lebih lanjut.
Kepercayaan umat Budha bahwa jembatan dan perempatan jalan merupakan tempat bersemayam makhluk halus dan arwah leluhur membuat dupa dan air menjadi simbol penghormatan penting untuk memohon perlindungan bagi desa tersebut.
Selain itu, para peserta kirab juga berhenti di Wihara Giri Wanaratana untuk melakukan puja bakti kepada Budha, Dharma, dan Sangha serta mendoakan arwah leluhur mereka.
Salah satu elemen utama dalam kirab ini adalah gunungan hasil bumi. Gunungan tersebut tersusun dari berbagai hasil bumi terbaik seperti pala pendem, pala gemantung, dan sempar yang dipanen oleh warga setempat.
“Gunungan sudah didoakan sejak pukul 19.00 hingga 24.00. Setelah kirab selesai, gunungan ini dibagikan kepada warga sebagai simbol keberkahan,” kata Bhikku menjelaskan.
Menariknya, Kirab Agung ini juga menjadi ajang toleransi antaragama. Beberapa umat Muslim turut ambil bagian dalam prosesi tersebut termasuk Saminah (84), seorang warga Dusun Cengkoreh yang meskipun usianya sudah lanjut tetap semangat berjalan kaki mendaki bukit demi merayakan harmoni antarumat beragama.
“Waktu saya sedang di musala ada pengumuman umat Budha kirab. Kami dari Islam ikut berpartisipasi,” ujarnya sambil tersenyum ramah.
Kerjasama lintas agama dalam kirab ini memperlihatkan bahwa acara tersebut bukan hanya sekadar perayaan spiritual tetapi juga sebuah simbol kebersamaan bagi seluruh warga desa.
Kirab Agung di Banyumas ini menjadi momentum penting yang memperlihatkan nilai-nilai persatuan dalam keberagaman serta tradisi lokal yang terus dilestarikan oleh masyarakat setempat. (fij/stch)
















