BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Pedagang di Pasar Wijahan, Kecamatan Kemranjen, Banyumas, mulai mencari berbagai cara untuk mengembalikan keramaian pasar yang dinilai mengalami penurunan dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.
Salah satu langkah kreatif yang dilakukan warga pasar adalah menggelar pertunjukan seni tradisional kuda lumping atau ebeg di area pasar.
Pentas kesenian tersebut diharapkan mampu menjadi daya tarik baru bagi masyarakat untuk kembali berkunjung dan berbelanja di pasar tradisional.
Selain menjadi hiburan, kegiatan tersebut diharapkan dapat memberikan dampak positif terhadap aktivitas perdagangan serta membantu meningkatkan pendapatan para pedagang.
Kepala Parkir Pasar Wijahan, Wasiman, mengatakan kondisi pasar yang tidak seramai sebelumnya menjadi perhatian di kalangan warga pasar.
Menurutnya, tingkat kunjungan masyarakat sangat berkaitan dengan keberlangsungan usaha para pedagang.
Pasar menjadi tempat pedagang mencari penghasilan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Karena itu, menurunnya jumlah pengunjung secara langsung dapat berdampak terhadap aktivitas jual beli dan omzet pedagang.
“Warga Pasar Wijahan berinisiatif menyelenggarakan seni kuda lumping di dalam area pasar untuk menarik minat masyarakat berkunjung ke pasar,” kata Wasiman, Selasa (1/9).
Pertunjukan ebeg di Pasar Wijahan dipilih karena memiliki daya tarik tersendiri bagi masyarakat.
Kesenian tradisional tersebut tidak hanya menawarkan hiburan, tetapi juga menghadirkan suasana berbeda di lingkungan pasar.
Warga berharap masyarakat yang datang untuk menyaksikan pertunjukan ebeg juga memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berbelanja berbagai kebutuhan di pasar.
Menurut Wasiman, kegiatan tersebut merupakan bentuk kreativitas warga pasar dalam menghadapi perubahan kebiasaan masyarakat.
Mereka ingin pasar tradisional tidak hanya menjadi tempat transaksi jual beli, tetapi juga menjadi ruang kegiatan yang mampu mengundang masyarakat untuk berkumpul.
“Kita bersama-sama merawat pasar tradisional, melestarikan kesenian tradisional. Dengan adanya ebeg di pasar, masyarakat lebih banyak yang datang ke pasar dan dirasakan manfaatnya oleh pedagang,” jelas Wasiman yang juga menjadi penanggung jawab acara.
Penyelenggaraan pentas seni tersebut telah melalui proses perizinan kepada Pengelola Pasar Wijahan, Dinas Koperasi, UKM dan Perdagangan Kabupaten Banyumas, serta pihak terkait lainnya.
Menurunnya jumlah pengunjung Pasar Wijahan tidak terlepas dari perubahan pola belanja masyarakat.
Kemudahan teknologi dan berkembangnya berbagai platform perdagangan daring membuat masyarakat memiliki semakin banyak pilihan untuk memenuhi kebutuhan.
Belanja online memungkinkan konsumen membeli berbagai produk tanpa harus datang langsung ke pasar.
Faktor kemudahan, pilihan produk yang beragam, serta layanan pengiriman menjadi bagian dari perubahan kebiasaan konsumen.
Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi pasar tradisional di Banyumas.
Pedagang tidak hanya harus mempertahankan kualitas barang dan harga yang kompetitif, tetapi juga perlu mencari cara agar pasar tetap memiliki daya tarik bagi masyarakat.
Pasar Wijahan sendiri memiliki karakteristik tersendiri karena tidak beroperasi setiap hari pasaran. Aktivitas pasar hanya berlangsung selama tiga hari dalam satu minggu.
Situasi tersebut membuat warga pasar perlu memanfaatkan hari-hari pasaran sebaik mungkin untuk menarik sebanyak mungkin pengunjung.
Pedagang Pasar Wijahan berharap kegiatan yang mampu mendatangkan keramaian dapat terus dikembangkan.
Mereka menginginkan dukungan lebih besar untuk menggelar berbagai kegiatan yang dapat menjadi magnet bagi pengunjung.
Event seni dan budaya dinilai dapat menjadi salah satu alternatif untuk menghidupkan suasana pasar.
Dengan adanya kegiatan tambahan, masyarakat memiliki alasan lain untuk datang ke pasar selain berbelanja.
Selain itu, pertunjukan kesenian tradisional juga dapat menjadi sarana untuk melestarikan budaya lokal di tengah perkembangan zaman.
Pegiat budaya Aditya Hera Nurmoko mengatakan kreativitas menjadi salah satu kebutuhan untuk mempertahankan keberadaan pasar tradisional di tengah perubahan pola konsumsi masyarakat.
Menurutnya, pasar tidak seharusnya hanya dipandang sebagai tempat bertemunya pedagang dan pembeli.
Pasar juga dapat dikembangkan menjadi ruang berkumpul dan berkegiatan bagi masyarakat.
“Event seni budaya tidak hanya menjadi sarana hiburan bagi masyarakat, juga berpotensi meningkatkan kunjungan ke pasar dan memberikan dampak positif terhadap aktivitas perdagangan,” kata Aditya.
Konsep menggabungkan perdagangan dengan kegiatan seni budaya dapat menjadi salah satu strategi untuk menjaga eksistensi pasar tradisional.
Pasar tetap menjalankan fungsi utamanya sebagai pusat transaksi, tetapi pada saat bersamaan juga dapat menjadi ruang sosial dan budaya.
Pertunjukan kuda lumping atau ebeg di Pasar Wijahan menjadi salah satu contoh bagaimana kesenian lokal dapat dimanfaatkan untuk mendukung aktivitas ekonomi masyarakat.
Jika kegiatan semacam itu dilakukan secara rutin dan dikemas secara menarik, Pasar Wijahan berpotensi memiliki identitas yang lebih kuat.
Pengunjung tidak hanya datang untuk membeli kebutuhan, tetapi juga mendapatkan pengalaman berbeda ketika berada di pasar.
Kegiatan tersebut juga dapat memberikan ruang bagi pelaku seni lokal untuk tampil sekaligus memperkenalkan kesenian tradisional kepada generasi muda.
Bagi pedagang, meningkatnya jumlah pengunjung tentu menjadi harapan utama.
Semakin ramai pasar, peluang transaksi juga semakin besar sehingga dapat membantu meningkatkan omzet dan menjaga keberlangsungan usaha.
Ke depan, warga Pasar Wijahan berharap terdapat kolaborasi yang lebih luas antara pedagang, pengelola pasar, pemerintah daerah, pelaku seni, serta masyarakat.
Berbagai kegiatan seperti pentas ebeg, bazar produk lokal, pertunjukan budaya, maupun event komunitas dapat dikembangkan sebagai agenda yang memperkuat daya tarik pasar.
Di tengah semakin berkembangnya belanja online, keberadaan pasar tradisional memang menghadapi tantangan besar.
Namun, kreativitas dalam menghadirkan pengalaman berbelanja yang berbeda dapat menjadi salah satu cara untuk mempertahankan keberadaannya.
Pentas ebeg di Pasar Wijahan pun menjadi upaya sederhana yang menggabungkan dua kepentingan sekaligus, yaitu melestarikan kesenian tradisional dan menggerakkan ekonomi pedagang.
Warga berharap suasana pasar kembali ramai sehingga aktivitas jual beli dapat meningkat dan Pasar Wijahan tetap menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Kecamatan Kemranjen dan sekitarnya. (fij/stch/dda)














