Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode
Persak Kebumen U-17 Tembus 8 Besar Piala Soeratin 2026, Tri Wibowo: Mental Pemain Sangat Luar Biasa
Perubahan Iklim Picu Sungai Danube Kering, Bangkai Kapal Nazi dan Fosil Mamut Muncul ke Permukaan

Perubahan Iklim Picu Sungai Danube Kering, Bangkai Kapal Nazi dan Fosil Mamut Muncul ke Permukaan

Bangkai Kapal Nazi Muncul di Sungai DanubeBangkai Kapal Nazi Muncul di Sungai Danube
MENYUSUT: Bangkai kapal Nazi yang terkubur di sungai Danube

BANYUMASEKSPRES.ID, EROPA – Gelombang panas ekstrem yang melanda sejumlah negara di Eropa kembali memunculkan dampak serius.

Selain memicu krisis air dan mengganggu aktivitas ekonomi, kondisi cuaca yang dipengaruhi perubahan iklim tersebut menyebabkan permukaan Sungai Danube menyusut hingga mencapai titik terendah dalam sejarah di beberapa wilayah.

Surutnya debit air Sungai Danube tidak hanya menghambat pelayaran, tetapi juga mengungkap berbagai peninggalan bersejarah yang selama puluhan tahun bahkan ratusan tahun tersembunyi di dasar sungai.

Mulai dari bangkai kapal perang era Nazi, kapal pengangkut batu bara, hingga fosil mamut purba kini muncul ke permukaan akibat kekeringan ekstrem.

Fenomena ini menjadi perhatian para ilmuwan karena menunjukkan semakin nyata dampak perubahan iklim global terhadap kawasan Eropa.

Di Serbia, menyusutnya permukaan Sungai Danube memperlihatkan bangkai kapal perang peninggalan Jerman Nazi yang selama puluhan tahun terkubur di dasar sungai.

Kapal-kapal tersebut merupakan peninggalan Perang Dunia II yang kini kembali terlihat akibat penurunan debit air secara drastis.

Sementara itu, di Kroasia, kondisi serupa mengungkap kerangka kapal pengangkut batu bara Fulton yang tenggelam sejak tahun 1937.

Kemunculan kapal tersebut menjadi daya tarik tersendiri sekaligus bukti bahwa kekeringan ekstrem mampu mengubah kondisi alam secara signifikan.

Temuan menarik lainnya terjadi di Kota Ruse, Bulgaria. Penurunan permukaan air Sungai Danube membuat para peneliti menemukan rahang bawah, dua gading, dan sejumlah tulang yang diduga berasal dari mamut purba.

Direktur Museum Sejarah Regional Kota Ruse menjelaskan bahwa seluruh fosil tersebut masih menjalani proses penelitian untuk memastikan usia serta asal-usulnya.

Jika terbukti berasal dari mamut purba, penemuan tersebut akan menjadi salah satu temuan paleontologi penting di kawasan Eropa Timur.

Selain mengungkap berbagai peninggalan sejarah, surutnya Sungai Danube juga membawa dampak besar terhadap aktivitas masyarakat.

Di Hongaria, tinggi muka air Sungai Danube bahkan tercatat mencapai level terendah dalam sejarah pengamatan.

Kondisi tersebut memaksa kapal-kapal kargo mengurangi muatan agar tetap dapat berlayar di jalur sungai.

Beberapa kapal pesiar yang biasanya melintasi Danube juga mengalami gangguan operasional akibat dangkalnya alur pelayaran.

Hal ini berdampak terhadap sektor logistik maupun pariwisata yang selama ini mengandalkan Sungai Danube sebagai jalur transportasi utama di kawasan Eropa Tengah.

Tidak hanya sektor transportasi, krisis air juga mulai mengancam sektor energi.

Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Paks di Hongaria dilaporkan bersiap menghentikan sebagian operasionalnya apabila pasokan air pendingin dari Sungai Danube terus berkurang.

Air sungai merupakan komponen penting dalam sistem pendingin reaktor nuklir.

Penurunan debit air yang berkepanjangan dikhawatirkan dapat memengaruhi keamanan dan kelangsungan operasional pembangkit listrik tersebut.

Para ahli menilai fenomena ini merupakan dampak langsung dari perubahan iklim global yang semakin intens dalam beberapa tahun terakhir.

Profesor Meteorologi dan Ilmu Iklim dari University of Reading, Inggris, Hannah Cloke, menjelaskan bahwa suhu udara yang terus meningkat membuat tanah dan sungai lebih cepat kehilangan cadangan air melalui proses penguapan.

Menurutnya, kondisi tersebut diperparah oleh meningkatnya kebutuhan air di tengah gelombang panas, sehingga tekanan terhadap sumber daya air menjadi semakin besar.

“Panas mengeringkan tanah, mengeringkan sungai, dan meningkatkan permintaan air secara bersamaan. Itulah ciri khas perubahan iklim,” ujar Hannah Cloke.

Ia menambahkan, apabila emisi gas rumah kaca dan penggunaan bahan bakar fosil tidak segera ditekan secara signifikan, maka gelombang panas ekstrem dan kekeringan diperkirakan akan semakin sering terjadi pada masa mendatang.

Sungai Danube sendiri merupakan sungai terpanjang kedua di Eropa setelah Sungai Volga dan mengalir melewati 10 negara.

Sungai ini memiliki peran vital sebagai jalur perdagangan internasional, sumber air, pariwisata, hingga penyokong sektor energi.

Karena itu, penurunan debit air Sungai Danube tidak hanya berdampak pada satu negara, tetapi juga memengaruhi aktivitas ekonomi lintas kawasan Eropa.

Fenomena yang terjadi saat ini menjadi pengingat bahwa perubahan iklim bukan lagi ancaman masa depan, melainkan telah memberikan dampak nyata terhadap kehidupan masyarakat.

Munculnya bangkai kapal perang Nazi, kapal tua, hingga fosil mamut memang menjadi temuan bersejarah, namun di balik itu tersimpan peringatan serius mengenai krisis iklim yang terus memburuk dan perlunya langkah nyata untuk menjaga keberlanjutan lingkungan global. (*/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Persak Kebumen U 17 Melaju ke Babak 8 Besar

Persak Kebumen U-17 Tembus 8 Besar Piala Soeratin 2026, Tri Wibowo: Mental Pemain Sangat Luar Biasa