BANYUMASEKSPRES.ID, Program Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang disalurkan oleh Bank Mandiri terus menjadi salah satu solusi pembiayaan favorit bagi pelaku usaha di Indonesia, khususnya sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah atau UMKM.
Skema kredit bersubsidi dari pemerintah ini dirancang untuk memperluas akses permodalan dengan bunga rendah, sehingga lebih ringan dijangkau oleh masyarakat yang sedang mengembangkan usaha.
Minat terhadap KUR Mandiri terbilang konsisten tinggi dari tahun ke tahun. Banyak pelaku usaha memilih program ini karena fleksibilitas plafon pinjaman yang ditawarkan.
Dengan begitu, calon debitur dapat menyesuaikan jumlah pinjaman sesuai kebutuhan usaha tanpa harus memaksakan kapasitas finansial yang dimiliki.
Salah satu plafon yang paling banyak diminati adalah pinjaman sebesar Rp 50 juta. Nominal ini dinilai cukup ideal untuk meningkatkan skala usaha, mulai dari menambah stok barang, membeli peralatan produksi, hingga memperluas operasional bisnis.
Di sisi lain, jumlah tersebut juga dianggap tidak terlalu membebani arus kas pelaku UMKM, terutama jika disesuaikan dengan tenor cicilan yang dipilih.
Data terbaru menunjukkan penyaluran KUR oleh Bank Mandiri mencapai Rp 41 triliun hingga akhir 2025. Angka ini mengalami peningkatan sekitar 7 persen secara tahunan atau year-on-year.
Total penyaluran tersebut telah menjangkau sekitar 360 ribu pelaku UMKM di berbagai daerah. Capaian ini sekaligus memperlihatkan bahwa KUR masih menjadi salah satu instrumen penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi sektor riil.
Lalu, bagaimana simulasi cicilan KUR Mandiri 2026 untuk pinjaman Rp 50 juta? Besaran angsuran per bulan tentu bergantung pada tenor yang dipilih oleh debitur. Untuk tenor 12 bulan, cicilan yang harus dibayarkan sekitar Rp 4.303.321 per bulan.
Jika memilih tenor 24 bulan, angsuran menjadi lebih ringan, yakni sekitar Rp 2.216.031 per bulan. Sementara itu, bagi yang ingin cicilan lebih longgar, tenor 36 bulan menawarkan angsuran sekitar Rp 1.521.097 per bulan.
Simulasi ini bisa menjadi gambaran awal bagi calon debitur sebelum mengajukan pinjaman. Dengan memahami skema cicilan sejak awal, pelaku usaha dapat merencanakan keuangan bisnis secara lebih matang dan menghindari risiko gagal bayar di kemudian hari.
Selain memahami simulasi angsuran, calon debitur juga perlu menyiapkan sejumlah dokumen sebagai syarat pengajuan KUR Mandiri 2026.
Untuk kategori KUR Super Mikro, KUR Mikro, KUR Kecil, hingga KUR Khusus, terdapat beberapa dokumen utama yang wajib dipenuhi.
Di antaranya adalah Nomor Induk Berusaha (NIB) atau Surat Keterangan Usaha (SKU) yang bisa diperoleh dari RT/RW, kelurahan, desa, atau pejabat berwenang lainnya sesuai ketentuan yang berlaku.
Dokumen identitas juga menjadi syarat penting, yaitu Nomor Induk Kependudukan (NIK) yang dibuktikan dengan e-KTP atau surat keterangan pembuatan e-KTP.
Untuk pinjaman dengan limit di atas Rp 50 juta, calon debitur diwajibkan memiliki NPWP. Selain itu, dokumen pendukung seperti fotokopi Kartu Keluarga dan surat atau akta nikah maupun cerai juga harus disertakan bagi yang sudah menikah atau pernah menikah.
Khusus untuk pengajuan KUR Kecil dan KUR Khusus dengan plafon di atas Rp 100 juta, terdapat tambahan syarat berupa kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan.
Ketentuan ini bertujuan untuk memberikan perlindungan tambahan bagi pelaku usaha yang mengajukan kredit dalam jumlah lebih besar. Sementara itu, untuk jenis KUR Penempatan Tenaga Kerja Indonesia, terdapat persyaratan yang sedikit berbeda.
Selain dokumen identitas berupa e-KTP, calon debitur juga harus melampirkan perjanjian penempatan sebagai Pekerja Migran Indonesia yang diterbitkan oleh pihak penyalur tenaga kerja atau program magang resmi.
Tidak hanya itu, calon pekerja migran juga wajib menyertakan perjanjian kerja dengan pengguna jasa di negara tujuan. Dokumen lain seperti Kartu Keluarga serta surat atau akta nikah maupun cerai tetap menjadi bagian dari persyaratan administrasi yang harus dipenuhi.
Melalui berbagai kemudahan yang ditawarkan, KUR Mandiri 2026 diharapkan mampu terus menjadi pendorong pertumbuhan UMKM di Indonesia.
Program ini bukan hanya memberikan akses modal, tetapi juga membuka peluang bagi pelaku usaha untuk berkembang lebih cepat dengan skema pembiayaan yang terjangkau. (vip)
















