BANYUMASEKSPRES.ID, PURWOKERTO – Sebuah portal baja yang tingginya mencapai 2,1 meter di simpang tiga ruas Jalan Mandiracan-Papringan ambruk hanya sehari setelah dipasang.
Kejadian ini terjadi menjelang penutupan Jembatan Serayu yang dijadwalkan akan berlangsung pada 15 Juni 2026.
Pantauan awak media pada Selasa pagi, 9 Juni, terlihat satu tiang portal telah roboh dan plang yang seharusnya berdiri tegak kini tergeletak di dalam drainase.
Hingga saat ini, perbaikan terhadap portal tersebut belum dilakukan.
Pemasangan portal baja dengan tinggi serupa juga dilakukan di simpang tiga Jalan Kulon Desa Sudagaran.
Tujuan dari pemasangan ini adalah untuk membatasi akses kendaraan besar yang melintas di jalur alternatif selama proses perbaikan Jembatan Serayu berlangsung.
Kepala Seksi Rekayasa Lalu Lintas Dinas Perhubungan Banyumas, Oktavia Yulianto, S.E, menjelaskan bahwa pemasangan portal ini merupakan inisiatif oleh PPK (Pejabat Pembuat Komitmen) penanganan Jembatan Serayu.
Menurutnya, langkah ini merupakan hasil kesepakatan dalam rapat koordinasi terkait rekayasa lalu lintas menjelang penutupan jembatan.
“Yang memasang PPK 2.1 atas kesepakatan rapat,” ungkap Oktavia. Ia menjelaskan lebih lanjut bahwa portal di simpang tiga ruas Jalan Mandiracan – Papringan ambrol pada malam Senin.
Dugaan sementara menunjukkan bahwa portal tersebut roboh setelah tersangkut kendaraan besar yang nekat melintas meskipun jalur tersebut sudah ditetapkan sebagai larangan bagi kendaraan berkapasitas besar.
Portal baja ini dipasang dengan tujuan untuk melarang kendaraan besar melewati jalur Sudagaran-Kalisube-Papringan-Mandiracan selama penutupan sementara Jembatan Serayu.
Rekayasa lalu lintas ini diterapkan agar jalur alternatif tidak mengalami kerusakan maupun kemacetan parah akibat dilaluinya kendaraan bertonase tinggi.
Oktavia menegaskan pentingnya upaya ini demi menjaga kelancaran dan keselamatan arus lalu lintas.
“Perbaikan portal masih menunggu informasi lebih lanjut,” terang Oktavia saat ditanya mengenai langkah selanjutnya setelah kejadian tersebut.
Terkait dengan pelaksanaan uji coba rekayasa lalu lintas dalam rangka penutupan Jembatan Serayu, Oktavia mengaku hingga saat ini belum mendapatkan informasi resmi mengenai hal tersebut.
Meskipun demikian, ia memastikan bahwa penutupan Jembatan Serayu akan tetap dilaksanakan sesuai jadwal yang telah ditentukan mulai 15 Juni 2026.
“Jumat (12/6) informasinya ada apel persiapan di Banyumas,” pungkas Oktavia.
Kejadian ambrolnya portal baja ini menjadi perhatian publik karena menunjukkan adanya tantangan dalam penerapan rekayasa lalu lintas yang direncanakan sebelumnya.
Keterlambatan dalam perbaikan juga dapat berdampak pada kemacetan serta keselamatan pengguna jalan lainnya.
Kejadian ini menggambarkan betapa pentingnya kolaborasi antara pihak-pihak terkait dalam pengelolaan lalu lintas selama masa perbaikan infrastruktur penting seperti Jembatan Serayu. (yda/stch/dda)
















