Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Potensi Gempa Perlu Diwaspadai, BRIN Temukan Sesar Aktif di Semarang

Brin temukan sesar aktif di semarangBrin temukan sesar aktif di semarang
Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Purna Sulastya Putra dalam diskusi tsunami purba di Jakarta, Rabu (6/8).

BANYUMASEKSPRES.ID, JAKARTA – Pulau Jawa kembali mendapat sorotan berkat penemuan baru terkait aktivitas geologi yang berpotensi menimbulkan bencana. Setelah sebelumnya Sesar Lembang di Bandung menjadi perhatian, kini Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap adanya sesar aktif yang membentang di wilayah Semarang, Jawa Tengah.

Penemuan ini menambah daftar sesar aktif yang perlu diwaspadai di Pulau Jawa, mengingat potensi kerusakan yang dapat ditimbulkan.

Penelitian awal terkait sesar aktif ini dimulai pada bulan Mei, melalui ekspedisi geologi oleh tim dari Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN.

Kajian lebih mendalam direncanakan untuk dilakukan antara Agustus dan September mendatang dengan cakupan wilayah meliputi Semarang, Demak, dan Kendal.

Langkah ini bertujuan untuk memetakan secara rinci potensi sesar guna meningkatkan kesiapsiagaan dan mitigasi bencana.

Purna Sulastya Putra, seorang peneliti BRIN, menjelaskan bahwa keberadaan sesar aktif dapat menimbulkan risiko tinggi terhadap kerusakan akibat gempa.

Hal ini terutama berlaku jika sesar tersebut berada di area dengan kepadatan bangunan tinggi serta tanah yang lembek.

“Seperti kondisi di Bandung yang berdiri di atas endapan danau purba, sehingga lebih rentan terhadap guncangan,” ujarnya.

Lebih lanjut, Purna menyatakan bahwa gempa akibat sesar aktif umumnya tergolong sebagai gempa dangkal dengan intensitas getaran yang tersebar luas.

Namun demikian, tidak setiap bagian dari sesar memiliki potensi untuk memicu gempa. Oleh karena itu, penelitian lanjutan sangat diperlukan untuk mengidentifikasi segmen-segmen sesar yang masih terkunci dan menyimpan energi gesekan.

“Segmen yang masih terkunci itulah yang berpotensi melepaskan energi dan memicu gempa di masa mendatang,” ungkapnya.

Selain potensi bahaya dari sesar aktif, BRIN juga berhasil mengungkap temuan menarik mengenai jejak tsunami purba di selatan Jawa.

Sedimen berusia sekitar 1.800 tahun ditemukan tersebar di berbagai wilayah seperti Lebak, Pangandaran, dan Kulon Progo. Jejak ini diduga berasal dari tsunami besar akibat gempa megathrust dengan magnitudo 9 atau lebih.

“Ditemukan juga jejak tsunami dari 3.000, 1.000, dan 400 tahun lalu. Ini menunjukkan pola kejadian yang berulang,” ujarnya.

Riset mengenai tsunami purba dilakukan dengan metode pengamatan lingkungan seperti rawa dan laguna yang dapat mengawetkan endapan laut alami.

Pembuktian dilakukan melalui analisis mikrofauna, kandungan kimia, serta penanggalan radiokarbon guna memastikan keaslian data historis tersebut. Meski begitu, tantangan tetap ada dalam membedakan antara endapan tsunami dengan endapan banjir biasa.

Hasil riset-riset ini baik terkait dengan sesar aktif di Semarang maupun tsunami purba di selatan Jawa sangatlah penting dalam upaya mitigasi bencana serta penyusunan tata ruang wilayah yang lebih aman dari risiko geologi.

Sementara itu Sonny Aribowo, periset BRIN lainnya menambahkan bahwa tim ekspedisi telah mengamati perbedaan morfologi mencolok antara wilayah utara dan selatan Semarang.

Temuan ini menunjukkan adanya pergerakan sesar aktif dengan bukti berupa endapan dan singkapan batuan.

“Di kawasan Bendungan Juwero misalnya ditemukan gawir sesar setinggi 0,5 hingga 3 meter,” kata Sonny.

Selain itu terdapat indikasi aktivitas tektonik pada periode Holosen yakni 11.700 tahun terakhir dengan bukti adanya sesar yang terangkat hingga 20 meter dari permukaan sungai sebagai indikasi kuat pergerakan kerak bumi secara geologis.

Sonny menjelaskan lebih lanjut bahwa patahan di Semarang kemungkinan terdiri dari beberapa segmen karena secara permukaan tampak tidak menyatu sepenuhnya.

Ekspedisi berikutnya akan fokus pada metode trenching guna mengetahui sejarah gempa dan seberapa sering kejadian serupa terjadi di masa lalu.

Jika memang patahan tersebut terbukti satu kesatuan utuh maka potensi magnitudo gempa bisa jauh lebih besar dibanding Sesar Lembang yang hanya sepanjang 30 kilometer (km).

Bagian paling panjang dari sesar Semarang bahkan diperkirakan melampaui panjang sesar di utara Bandung itu.

Dengan temuan baru ini pemerintah daerah bersama masyarakat harus meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan bencana alam seperti gempa bumi maupun tsunami purba terutama bagi mereka yang tinggal dekat jalur-jalur rawan tersebut agar dapat meminimalisasi dampak buruknya bagi kehidupan sehari-hari maupun infrastruktur penting lainnya demi keselamatan bersama. (*/stch)

Berita Sebelumnya
Gratiskan lagu dewa 19 untuk kafe dan restoran

Ahmad Dhani Gratiskan Lagu Dewa 19 untuk Kafe dan Restoran

Berita Selanjutnya
Pasar hewan butuh revitalisasi

Komisi II DPRD Purbalingga Soroti Pasar Hewan Purbalingga sudah Butuh Revitalisasi