BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS — Dampak kekeringan di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, terus meluas. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyumas mencatat sebanyak 59 desa dan kelurahan di 19 kecamatan kini terdampak kekeringan.
Kondisi tersebut membuat 14.245 kepala keluarga (KK) atau 49.961 jiwa mengalami kesulitan mendapatkan air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Selain permukiman warga, kekeringan juga berdampak terhadap 11 fasilitas umum di sejumlah wilayah.
Data terbaru tersebut menunjukkan bahwa persoalan ketersediaan air bersih di Banyumas masih menjadi perhatian serius.
Hujan yang mulai turun di beberapa wilayah dalam beberapa hari terakhir belum membuat BPBD menghentikan distribusi air bersih kepada masyarakat terdampak.
Kepala Pelaksana BPBD Banyumas, Dwi Irawan Sukma, mengatakan jumlah wilayah yang terdampak kekeringan mengalami peningkatan cukup drastis.
Menurut dia, meskipun hujan mulai turun di sejumlah wilayah Banyumas, kebutuhan air bersih masyarakat masih tinggi.
Karena itu, BPBD tetap melakukan dropping air secara rutin untuk memastikan kebutuhan dasar warga terpenuhi.
“Pertambahannya sudah cukup drastis. Alhamdulillah beberapa hari ini sudah mulai turun hujan, namun kami juga masih rutin melakukan dropping air,” kata Dwi.
Perkembangan tersebut menunjukkan kondisi kekeringan belum sepenuhnya berakhir.
Sebelumnya, hingga 5 September 2026, BPBD mencatat 58 desa/kelurahan di 19 kecamatan dengan 49.450 jiwa atau 14.090 KK terdampak.
Dalam beberapa hari, jumlah tersebut kembali bertambah menjadi 59 wilayah dengan hampir 50 ribu warga terdampak.
Kondisi Banyumas juga sejalan dengan peringatan dini kekeringan meteorologis di Jawa Tengah.
Stasiun Klimatologi Jawa Tengah mencatat Banyumas masuk wilayah berstatus awas untuk periode dasarian pertama September 2026, yakni 1 hingga 10 September.
Untuk membantu masyarakat yang kesulitan memperoleh air, BPBD Banyumas terus melakukan distribusi air bersih ke sejumlah wilayah terdampak.
Hingga saat ini, sekitar 3.189.000 liter air bersih telah disalurkan kepada masyarakat.
Distribusi dilakukan secara rutin, terutama ke wilayah yang sumber airnya mulai mengering akibat kondisi kekeringan.
“Distribusi air bersih masih dilakukan setiap hari untuk memenuhi kebutuhan dasar warga, terutama di wilayah yang sumber airnya mulai mengering,” jelas Dwi.
Bantuan air bersih tersebut menjadi salah satu langkah penanganan darurat yang dilakukan pemerintah daerah.
Distribusi diharapkan dapat membantu masyarakat memenuhi kebutuhan domestik, mulai dari konsumsi hingga kebutuhan rumah tangga lainnya.
Sebelumnya, pada 5 September 2026, BPBD Banyumas tercatat telah melakukan 579 kali pengiriman air bersih dengan total 2,878 juta liter.
Bertambahnya angka distribusi sejalan dengan meluasnya wilayah yang mengalami kesulitan air.
Di tengah kondisi kekeringan yang belum sepenuhnya berakhir, masyarakat Banyumas diminta menggunakan air bersih secara bijak dan efisien.
Penghematan terutama diperlukan untuk kebutuhan domestik sehari-hari.
Masyarakat di wilayah terdampak diharapkan dapat mengatur penggunaan air agar persediaan yang masih tersedia dapat bertahan lebih lama.
Imbauan serupa juga berlaku bagi sektor pertanian. Petani diminta mengatur penggunaan serta distribusi air secara efisien sehingga ketersediaan air dapat mencukupi kebutuhan lahan pertanian.
Kondisi ini penting diperhatikan karena kekeringan tidak hanya berdampak terhadap kebutuhan rumah tangga, tetapi juga dapat meningkatkan risiko kebakaran lahan.
BPBD Banyumas sebelumnya menyebut kondisi lingkungan yang kering meningkatkan potensi terjadinya kebakaran hutan, lahan, maupun permukiman.
BPBD Banyumas berharap hujan yang mulai turun di sejumlah wilayah dapat membantu mengurangi dampak kekeringan.
Curah hujan diharapkan mampu mengembalikan ketersediaan sumber air sekaligus menghentikan pertambahan desa dan kelurahan yang mengalami krisis air.
“Harapannya tidak ada lagi pertambahan desa yang terdampak,” ujar Dwi.
Meski demikian, BPBD belum menghentikan penyaluran air bersih.
Langkah tersebut dilakukan sebagai bentuk antisipasi karena hujan yang turun belum otomatis mengakhiri kondisi kekeringan di seluruh wilayah Banyumas.
Pemantauan terhadap wilayah terdampak juga tetap dilakukan untuk mengetahui perkembangan kondisi sumber air masyarakat.
Distribusi air bersih akan terus menjadi bagian dari penanganan selama warga masih mengalami kesulitan mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari.
Dengan jumlah terdampak yang telah mencapai 14.245 KK atau 49.961 jiwa, kebutuhan terhadap bantuan air bersih di Banyumas masih cukup besar.
Pemerintah daerah juga perlu memastikan penanganan tidak hanya dilakukan melalui distribusi air saat darurat, tetapi disertai langkah jangka panjang untuk memperkuat ketersediaan sumber air di wilayah yang rawan kekeringan.
Sebelumnya, pemerintah daerah telah membahas sejumlah upaya penyediaan sumber air berkelanjutan, termasuk pembangunan tandon, embung, dan sumur bor di wilayah yang rawan mengalami kekurangan air. (zet/stch/dda)
















