Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Kebakaran Lahan Banyumas Meningkat, 11 Kejadian Terjadi pada Awal September 2026

Kebakaran Lahan Capai 49 KasusKebakaran Lahan Capai 49 Kasus
MEMADAMKAN API: Petugas Damkar Banyumas memadamkan kebakaran lahan yang meningkat selama puncak musim kemarau di wilayah Banyumas

BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS — Kebakaran lahan di Kabupaten Banyumas meningkat memasuki puncak musim kemarau.

Dalam sepekan pertama September 2026, UPT Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Banyumas mencatat telah menangani 11 kejadian kebakaran lahan di sejumlah wilayah.

Peningkatan kejadian tersebut menjadi perhatian karena kondisi cuaca yang panas dan kering membuat vegetasi mudah terbakar.

Ditambah angin yang cukup kencang, api yang awalnya kecil berpotensi dengan cepat merembet dan meluas ke area di sekitarnya.

Kepala UPT Pemadam Kebakaran Kabupaten Banyumas, Andaru Budilaksono, mengatakan kondisi lahan yang semakin kering selama musim kemarau menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko kebakaran.

“Api kecil dapat dengan cepat meluas dan sulit dikendalikan apabila tidak segera ditangani,” kata Andaru.

Berdasarkan data UPT Damkar Banyumas, total kejadian kebakaran lahan maupun tumpukan sampah sejak awal musim kemarau hingga awal September 2026 telah mencapai 49 kejadian.

Angka tersebut menunjukkan tren peningkatan dari bulan ke bulan. Pada Juli 2026 tercatat sembilan kejadian.

Jumlahnya kemudian meningkat cukup tajam menjadi 29 kejadian sepanjang Agustus.

Memasuki September, dalam sepekan pertama saja sudah terdapat tambahan 11 kejadian kebakaran lahan maupun tumpukan sampah.

Dengan demikian, periode Agustus hingga awal September menjadi fase yang perlu mendapat perhatian lebih serius.

Kondisi lahan yang semakin kering membuat potensi api menyebar menjadi lebih tinggi.

Sementara itu, total luas lahan yang terdampak kebakaran hingga kini masih dalam proses pendataan oleh pihak terkait.

Andaru menjelaskan, sebagian besar kebakaran yang ditangani Damkar Banyumas diduga dipicu oleh faktor manusia.

Salah satunya adalah kebiasaan membakar sampah, rumput kering, maupun sisa hasil pertanian tanpa pengawasan yang memadai.

Api dari aktivitas tersebut dapat merembet ketika kondisi lingkungan di sekitarnya kering.

Angin juga dapat mempercepat penyebaran api sehingga warga sering kali kesulitan mengendalikan kobaran setelah api membesar.

“Mayoritas kebakaran terjadi akibat kelalaian saat membakar sampah atau membersihkan lahan menggunakan api. Ketika kondisi lahan sangat kering, api mudah menyebar,” ujarnya.

Kondisi ini menunjukkan bahwa faktor pencegahan menjadi sangat penting selama puncak musim kemarau.

Masyarakat diimbau tidak menganggap sepele aktivitas pembakaran, meskipun api yang digunakan pada awalnya terlihat kecil.

Untuk menekan potensi kebakaran lahan di Banyumas, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau.

Salah satu langkah yang paling penting adalah menghindari pembukaan atau pembersihan lahan dengan cara dibakar.

Pembakaran sampah dan rumput kering juga perlu dihindari, terutama ketika kondisi angin cukup kencang.

Api yang tidak diawasi dapat dengan mudah berpindah ke semak-semak, lahan pertanian, maupun area lain yang memiliki vegetasi kering.

Damkar Banyumas juga mengingatkan agar masyarakat tidak meninggalkan sumber api begitu saja.

Jika aktivitas yang menggunakan api benar-benar diperlukan, masyarakat perlu memastikan kondisi sekitar aman dan tidak terdapat material mudah terbakar yang dapat memicu penjalaran api.

Pencegahan dinilai jauh lebih penting karena kebakaran lahan yang sudah meluas akan membutuhkan penanganan lebih besar.

Selain berpotensi merusak lingkungan, kebakaran juga dapat menimbulkan kerugian bagi masyarakat apabila api menjalar hingga ke area pertanian atau permukiman.

Catatan 49 kejadian kebakaran lahan dan tumpukan sampah sejak awal musim kemarau hingga awal September 2026 menjadi sinyal bahwa risiko kebakaran di Banyumas masih tinggi.

Lonjakan dari sembilan kejadian pada Juli menjadi 29 kejadian pada Agustus menunjukkan adanya peningkatan signifikan.

Tambahan 11 kejadian hanya dalam sepekan pertama September juga memperlihatkan bahwa risiko tersebut belum menunjukkan tanda mereda.

Kondisi cuaca panas, vegetasi yang mengering, serta angin menjadi kombinasi yang dapat mempercepat penyebaran api.

Karena itu, kewaspadaan tidak hanya menjadi tanggung jawab petugas pemadam kebakaran, tetapi juga masyarakat.

Masyarakat Banyumas diharapkan ikut mencegah kebakaran dengan tidak melakukan pembakaran sampah maupun lahan secara sembarangan.

Langkah sederhana tersebut dapat membantu mengurangi potensi munculnya titik api baru selama musim kemarau.

Dengan meningkatnya kejadian kebakaran pada awal September, kewaspadaan masyarakat menjadi salah satu kunci untuk mencegah kebakaran lahan semakin meluas dan menimbulkan kerugian yang lebih besar.(zet/stch/dda)

Berita Sebelumnya
RAPBD 2027 Diproyeksi Surplus Rp61,87 Miliar

RAPBD Banyumas 2027 Diproyeksi Surplus 61,87 Miliar, Pemkab Fokus Infrastruktur

Berita Selanjutnya
Program YES Spring

Kedubes AS Buka Program Pertukaran Pelajar SMA-SMK-MA, Daftar Sebelum Tutup