BANYUMASEKSPRES.ID, CILACAP – Pengurus Palang Merah Indonesia (PMI) di tingkat kecamatan Kabupaten Cilacap baru-baru ini mengikuti kegiatan orientasi yang bertujuan untuk memberikan pembekalan dalam bidang kepalangmerahan serta keterampilan dasar pertolongan pertama.
Kegiatan ini berlangsung di Aula Kecamatan Kroya dan dihadiri oleh 42 pengurus PMI dari enam kecamatan yang berada dalam eks Distrik Kroya, yaitu Adipala, Binangun, Maos, Kroya, Nusawungu, dan Sampang.
Para peserta merupakan pengurus baru yang sebelumnya telah dilantik dan siap menjalankan amanah mereka di masyarakat.
Ketua PMI Kabupaten Cilacap, Farid Ma’ruf, menjelaskan bahwa orientasi ini sangat penting untuk meningkatkan kesiapan para pengurus PMI kecamatan dalam melaksanakan tugas kemanusiaan.
“PMI harus hadir memberi manfaat bagi masyarakat, terutama saat terjadi bencana maupun kondisi darurat,” ujarnya pada Jumat (22/5).
Pernyataan ini menegaskan komitmen PMI untuk selalu siap sedia dalam situasi yang tidak terduga.
Kegiatan orientasi ini tidak hanya mencakup pemahaman tentang organisasi PMI itu sendiri, namun juga pengetahuan mengenai penanganan darurat dan teknik pertolongan pertama.
“Selain materi kepalangmerahan, peserta juga mendapat pembekalan terkait penanggulangan bencana dan peran relawan PMI di lapangan,” tandas Farid.
Hal ini menunjukkan betapa pentingnya peran PMI dalam memberikan bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan, terutama dalam situasi kritis.
Dengan adanya pelatihan yang komprehensif ini, para pengurus diharapkan dapat lebih siap siaga ketika menghadapi berbagai macam tantangan di lapangan.
Kesiapan tersebut menjadi kunci utama agar PMI dapat berfungsi secara efektif dalam memberikan bantuan kepada korban bencana serta menyelamatkan nyawa manusia.
PMI Kabupaten Cilacap juga menegaskan bahwa kegiatan orientasi serupa akan dilanjutkan untuk wilayah eks distrik lainnya secara bertahap sepanjang bulan Juni 2026.
“Melalui kegiatan ini, para pengurus kecamatan diharapkan dapat lebih siap dan sigap saat memberikan pelayanan kemanusiaan kepada masyarakat,” pungkas Farid.
Kegiatan semacam ini bukan hanya mengedepankan aspek teknis saja, tetapi juga membangun kesadaran sosial dan empati di antara para pengurus.
Dalam konteks kemanusiaan, memiliki keterampilan pertolongan pertama adalah hal yang sangat vital.
Dalam keadaan darurat seperti bencana alam atau kecelakaan lalu lintas, setiap detik sangat berharga.
Oleh karena itu, kemampuan untuk melakukan tindakan pertolongan pertama dengan cepat dan tepat dapat menyelamatkan nyawa.
Di tengah tantangan dan risiko yang mungkin dihadapi oleh para relawan PMI saat menjalankan tugas mereka, penting bagi mereka untuk memiliki mentalitas yang kuat dan sikap positif.
Sebagaimana kita ketahui bersama, kerja kemanusiaan sering kali melibatkan situasi yang sangat emosional dan penuh tekanan.
Oleh karena itu, pelatihan psikologis juga bisa menjadi bagian dari pembekalan yang perlu diberikan kepada para pengurus.
Seiring dengan perubahan iklim dan peningkatan frekuensi bencana alam seperti banjir dan gempa bumi, peran organisasi seperti PMI semakin vital dalam membantu masyarakat pulih dari dampak buruk tersebut.
Pelatihan-pelatihan seperti yang dilakukan di Aula Kecamatan Kroya ini tidak hanya mempersiapkan individu-individu untuk menjadi lebih siap menghadapi bencana tetapi juga memperkuat jaringan sosial di antara mereka.
Dalam dunia yang semakin kompleks ini, kolaborasi antara pemerintah daerah dan organisasi non-pemerintah seperti PMI menjadi semakin penting.
Melalui sinergi ini, upaya penanggulangan bencana bisa dilakukan dengan lebih sistematis dan efektif. (jul/stch/dda)
















