BANYUMASEKSPRES.ID, JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan signifikan dalam perdagangan hari Jumat, 22 Mei, menutup penutupan hari dengan angka Rp17.716 per dolar Amerika Serikat.
Ini mencerminkan pelemahan sebesar 50 poin atau setara 0,28 persen dibandingkan dengan perdagangan sebelumnya.
Penurunan nilai tukar rupiah ini sejalan dengan mayoritas mata uang di kawasan Asia yang juga menunjukkan kinerja negatif terhadap dolar AS.
Kondisi ini menggambarkan meningkatnya kekhawatiran global yang menghimpit mata uang negara berkembang di tengah ketidakpastian yang melanda ekonomi dunia saat ini.
Dalam konteks ini, penting untuk memahami dampak dari dinamika pasar global terhadap perekonomian domestik, terutama bagi Indonesia yang bergantung pada stabilitas mata uang untuk menjaga daya beli dan inflasi.
Di kawasan Asia, berbagai mata uang seperti peso Filipina mengalami pelemahan sebesar 0,17 persen terhadap dolar AS.
Selain itu, ringgit Malaysia terdepresiasi sebesar 0,09 persen, sementara dolar Singapura mengalami penurunan sebesar 0,14 persen dan yen Jepang melemah hingga 0,08 persen.
Sementara itu, won Korea Selatan mencatatkan tekanan paling dalam dengan penurunan hingga 0,60 persen.
Dolar Hong Kong pun turut terkoreksi tipis sebesar 0,02 persen terhadap dolar AS.
Dalam situasi sulit ini, ada satu mata uang yang berhasil mencatatkan penguatan di tengah pelemahan mayoritas mata uang Asia yaitu yuan China.
Mata uang tersebut naik tipis sebesar 0,10 persen terhadap dolar AS, menunjukkan beberapa ketahanan meskipun kondisi ekonomi global tidak stabil.
Di sisi lain, tekanan terhadap dolar AS juga terlihat dari beberapa mata uang utama negara maju.
Euro Eropa mengalami penurunan sebesar 0,08 persen sementara poundsterling Inggris melemah sebesar 0,01 persen.
Dolar Australia juga terkoreksi hingga 0,24 persen dan dolar Kanada turun sebesar 0,07 persen.
Namun demikian, franc Swiss menjadi satu-satunya mata uang dari negara maju yang berhasil menguat terhadap dolar AS dengan catatan naik sebesar 0,11 persen.
Analis mata uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa pelemahan rupiah ini dipicu oleh sentimen eksternal yang masih membebani pasar keuangan global secara keseluruhan.
Ia menekankan bahwa ada beberapa faktor utama yang menjadi perhatian utama investor saat ini yaitu meningkatnya ketidakpastian geopolitik serta kekhawatiran akan lonjakan inflasi global akibat kenaikan harga minyak dunia.
“Hari ini (kemarin) rupiah ditutup melemah. Kemungkinan besar minggu depan rupiah masih dibuka melemah di kisaran Rp17.710 sampai Rp17.760 per dolar AS,” ungkap Ibrahim dengan penuh keyakinan.
Menurut Ibrahim Assuaibi lagi, pasar tetap meragukan prospek tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang telah lama dinantikan oleh banyak pihak untuk mengurangi ketegangan di kawasan tersebut.
Ketidakpastian ini terutama berkaitan dengan isu program nuklir Iran serta potensi gangguan di Selat Hormuz yang merupakan jalur penting distribusi minyak dunia.
“Investor meragukan prospek terobosan dalam perundingan perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran. Permasalahan utamanya tetap terkait program nuklir dan Selat Hormuz,” tambahnya.
Selain faktor geopolitik yang mempengaruhi stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, kenaikan harga minyak dunia juga dinilai meningkatkan risiko inflasi secara global dalam beberapa waktu mendatang.
Kenaikan harga energi tersebut membuat pasar khawatir bahwa bank sentral di berbagai negara mungkin akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama dari yang diperkirakan sebelumnya.
“Dampak inflasi ini kemungkinan besar membuat bank sentral global mempertahankan suku bunga bahkan ada potensi kembali menaikkan suku bunga,” jelas Ibrahim.
Dari sisi domestik pula, Ibrahim menilai bahwa pasar mulai mencermati potensi pelebaran defisit fiskal Indonesia serta prospek peringkat utang nasional yang dapat berimplikasi pada sentimen investor terhadap rupiah ke depannya.
“Faktor-faktor tersebut sangat krusial dan bisa memengaruhi persepsi investor terhadap kestabilan makroekonomi Indonesia,” ujarnya menambahkan.
Dengan semua dinamika tersebut, Ibrahim memperkirakan bahwa nilai tukar rupiah akan bergerak dalam rentang Rp17.680 hingga Rp17.800 per dolar AS selama sepekan ke depan. (*/stch/dda)
















