BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Hujan deras turun sejak pagi menyelimuti Desa Kedunguter, Kecamatan Banyumas, Minggu (18/5/2025). Namun derasnya guyuran langit tak menyurutkan khidmat prosesi ruwat sukerta massal yang digelar di kompleks Balai Adipati Mrapat hingga berakhir di tepian Sungai Serayu.
Justru, hujan membawa nuansa sakral yang menyatu dengan kekhusyukan ritual yang sarat makna budaya dan spiritual.
Sebanyak 12 anak dengan kelahiran sukerta, sebuah istilah dalam kepercayaan Jawa yang menyimbolkan anak-anak dengan kondisi kelahiran tertentu yang diyakini membawa beban spiritual, mengikuti prosesi ini dengan pendampingan dari orang tua mereka.
Dalam tradisi masyarakat Jawa, anak-anak yang lahir dengan “tanda” tertentu dianggap perlu menjalani ruwatan agar terhindar dari bala dan selamat dalam menjalani hidupnya.
Jenis sukerta yang diruwat kali ini beragam—mulai dari ontang-anting, kembang sepasang, kedana-kedini, pancuran kapit sendang, uger-uger lawang, hingga serimpi.
Setiap jenis kelahiran memiliki filosofi tersendiri, yang mengakar dalam sistem nilai masyarakat Jawa klasik.
Misalnya, kembang sepasang merujuk pada anak kembar, sementara ontang-anting mengacu pada anak tunggal perempuan atau laki-laki dengan kondisi keluarga tertentu.
Di tengah guyuran hujan yang belum reda, Ki Sungging Suharto, seorang dalang ruwat kawakan yang telah puluhan tahun menjadi bagian dari tradisi ini, berdiri tegak di depan para peserta dan pengiring.
Dengan suaranya yang lantang dan berwibawa, ia memimpin doa bersama yang dibuka dengan pembacaan surat Al-Fatihah, mengajak seluruh yang hadir untuk menyatu dalam harapan dan ketulusan.
“Seger, waras, bagyo lan mulyo selawase,” ucap Ki Sungging lirih namun mantap.
Ucapan itu menggema dalam suasana yang seakan menjadi lebih hening meski hujan belum reda sepenuhnya.
Tak berselang lama, hujan mulai mereda pelan-pelan—seolah menjadi penanda bahwa semesta pun ikut mengamini harapan dan doa yang dipanjatkan dalam ritual tersebut.
Usai pembacaan doa, prosesi berlanjut menuju larungan simbolis di Sungai Serayu. Air sungai dijadikan media spiritual untuk menghanyutkan segala energi negatif dan kesialan yang diyakini membayangi anak-anak sukerta.
Orang tua dan anak-anak yang mengikuti ruwatan menyaksikan simbol-simbol “buruk” yang dilepas ke sungai sebagai bentuk pelepasan dari beban lahir dan batin, digantikan dengan harapan baru yang bersih dan penuh keberkahan.
Fendi Rudianto, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pemuda Olahraga Budaya dan Pariwisata (Dinporabudpar) Banyumas, menegaskan bahwa ruwat sukerta bukan sekadar prosesi adat, melainkan juga bagian dari strategi pelestarian budaya lokal yang mulai tergerus oleh modernisasi.
“Kita merawat tradisi ruwat sukerta sebagai bagian dari nilai luhur budaya adiluhung Banyumas. Oleh karena itu, wajib kita lestarikan,” tegas Fendi dalam sambutannya.
Ia menambahkan, penyelenggaraan ruwat sukerta secara massal ini telah memasuki tahun keempat.
Pemerintah Kabupaten Banyumas secara konsisten mendukung dan memfasilitasi pelaksanaannya sebagai bentuk tanggung jawab dalam menjaga warisan budaya tak benda yang hidup di tengah masyarakat.
Bagi para orang tua, mengikuti ruwat sukerta bukan perkara mistik atau kepercayaan tanpa dasar.
Bagi mereka, ini adalah ikhtiar spiritual dan emosional, bentuk rasa sayang dan harapan agar anak-anak mereka tumbuh dalam perlindungan Tuhan, terbebas dari gangguan dan kesialan yang bisa mengganggu masa depan.
“Ini bukan soal tahayul. Ini bagian dari budaya kita. Sebagai orang tua, tentu ingin yang terbaik untuk anak,” ujar salah satu orang tua peserta yang enggan disebut namanya.
Menjelang siang, saat prosesi usai, satu per satu keluarga meninggalkan lokasi dengan membawa perasaan tenang.
Anak-anak yang sebelumnya mungkin belum memahami sepenuhnya makna dari ritual tersebut, kini menjadi bagian dari perjalanan spiritual yang akan dikenang sepanjang hidup.
Bagi masyarakat Banyumas, tradisi ruwat sukerta adalah bukti bahwa kebudayaan lokal masih hidup dan terus dijaga.
Meski diiringi hujan deras, gelaran kali ini membuktikan bahwa kepercayaan dan harapan masyarakat terhadap nilai-nilai budaya tetap mengakar kuat.
Dan seperti air sungai yang mengalir membawa simbol-simbol negatif itu menjauh, harapan untuk kehidupan yang lebih baik pun mengalir menyertainya. (fij/stch)
















