Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Sampah Tulang Kurban Membeludak di Banyumas, TPST Sumpiuh Waspadai Kerusakan Mesin

Sampah Tulang Ancam Ganggu Operasional TPSTSampah Tulang Ancam Ganggu Operasional TPST
MEMILAH: Karyawan TPST Sumpiuh bagian pemilah pelanggan sedang sibuk mengelola sampah, Kamis (28/5). Limbah tulang mulai masuk ke hanggar

BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Memasuki hari-hari setelah Idul Adha, perhatian terhadap penanganan limbah, khususnya sampah tulang hewan kurban, semakin mendesak.

Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Sumpiuh menjadi sorotan utama bagi petugas yang bertugas mengelola limbah tersebut.

Dalam beberapa tahun terakhir, volume sampah tulang yang dihasilkan dari proses kurban selama Idul Adha menjadi salah satu tantangan terbesar dalam pengelolaan sampah di daerah ini.

Petugas pengelola khawatir bahwa limbah tulang yang tidak dipilah dengan baik dapat mengganggu operasional mesin pengolah sampah di hanggar TPST.

Pada H+1 Idul Adha, meskipun volume sampah tulang yang masuk ke TPST Sumpiuh belum menunjukkan peningkatan yang signifikan, para petugas memperkirakan lonjakan limbah akan terjadi dalam beberapa hari ke depan.

Hal ini sejalan dengan tradisi masyarakat yang melakukan pengolahan daging kurban di rumah mereka.

Mu’minah, seorang karyawan pemilah sampah di TPST Sumpiuh menjelaskan, “Biasanya hari ketiga lebaran Idul Adha, sampah tulang hewan kurban sudah banyak yang masuk hanggar.”

Pernyataan tersebut menunjukkan pola yang konsisten setiap tahun, di mana masyarakat mulai aktif mengolah daging kurban setelah hari pertama dan kedua Idul Adha.

Salah satu ancaman utama dalam pengelolaan limbah ini adalah kemungkinan tercampurnya sampah tulang dengan sampah rumah tangga lainnya.

Kombinasi ini dapat menyebabkan kerusakan pada mesin konveyor dan berisiko terhambatnya operasional TPST secara keseluruhan.

Oleh karena itu, petugas pemilah harus bekerja ekstra teliti untuk memastikan bahwa tulang tidak lolos ke mesin pengolah.

Jika hal itu terjadi, proses pengolahan dapat terganggu dan menambah beban kerja petugas.

Petugas mulai meningkatkan kewaspadaan menjelang hari ketiga Idul Adha, karena volume limbah diperkirakan akan meningkat tajam setelah masyarakat selesai mengolah daging kurban di rumah masing-masing.

Pada awal periode Idul Adha, jumlah tulang yang masuk ke hanggar masih relatif sedikit.

Namun, dengan meningkatnya aktivitas masyarakat dalam mempersiapkan makanan berbahan daging kurban, dipastikan bahwa limbah tulang akan membanjiri tempat pengelolaan ini.

Setelah proses pemilahan dilakukan dengan hati-hati, tulang hewan kurban tidak langsung dibuang bersama residu sampah lainnya.

Limbah tersebut dikumpulkan terlebih dahulu untuk dijemur di halaman TPST Sumpiuh.

Penjemuran ini dilakukan untuk mengurangi kadar air pada limbah sebelum memasuki tahap pengolahan berikutnya.

Proses penjemuran ini memanfaatkan sinar matahari secara alami dan merupakan bagian dari strategi pengelolaan khusus yang diterapkan oleh petugas.

Aris Widarto, Ketua Kelompok Swadya Masyarakat (KSM) TPST Sumpiuh mengatakan bahwa meski terlihat sebagai limbah, tulang hewan kurban masih dianggap memiliki nilai ekonomis.

“Ada orang yang sudah biasa membeli tulang-tulang ke sini. Tapi tidak tahu, tulangnya dimanfaatkan untuk apa,” jelas Aris.

Ini menunjukkan adanya potensi pemanfaatan kembali limbah tulang, sehingga tidak hanya berfungsi sebagai sampah tetapi juga dapat memiliki manfaat ekonomi bagi sebagian orang.

Di luar momen spesial seperti Idul Adha, limbah tulang yang masuk ke TPST Sumpiuh mayoritas berasal dari pedagang kuliner lokal.

Penjual bakso dan usaha makanan berbahan daging menjadi penyumbang rutin jumlah limbah tulang setiap harinya.

Hal ini menunjukkan bahwa terdapat tantangan berkelanjutan dalam hal pengelolaan sampah di daerah Banyumas.

Penting untuk dicatat bahwa penanganan sampah merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah dan masyarakat.

Kesadaran akan pentingnya pemilahan dan pengelolaan limbah perlu ditingkatkan agar berbagai jenis limbah bisa ditangani dengan tepat dan efisien.

Dengan meningkatnya kesadaran akan isu lingkungan dan keberlanjutan, ada harapan bahwa masyarakat akan lebih proaktif dalam mendukung upaya-upaya pengurangan volume limbah. (fij/stch/dda)

Berita Sebelumnya
204 Kambing Dam Haji Disembelih Bertahap

Program Dam Haji 2026 Purbalingga Tuai Apresiasi, Warga Terima Daging Segar Berkualitas

Berita Selanjutnya
Angka Pengangguran Terbuka Turun

DPRD Cilacap Dorong Penguatan Puspaga untuk Tekan Lonjakan Angka Perceraian