Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Sering Merasa Kesepian, Elvy Sukaesih Curhat Ingin Punya Anak Lagi

Pengin Punya Anak LagiPengin Punya Anak Lagi
Elvy Sukaesih

BANYUMASEKSPRES.ID, Di usia yang sudah tidak muda, penyanyi dangdut senior Elvy Sukaesih menunjukkan keinginan yang mengejutkan untuk memiliki anak lagi.

Meskipun saat ini ia telah dikaruniai enam orang anak, keinginan itu muncul seiring dengan perasaan kesepian yang sering dirasakannya.

“Saya masih kepingin beranak lo kalau bisa,” ungkap Elvy Sukaesih, mengekspresikan kerinduannya akan kehadiran anak kecil di tengah keluarga.

Dhawiya Zaida, putri bungsu Elvy Sukaesih, turut memberikan pandangannya tentang keinginan ibunya tersebut. Ia mengatakan bahwa belakangan ini ibunya merasa sangat kesepian.

“Dia kurang anaknya, kalau semuanya pada sibuk katanya dia sendirian. Katanya tahu gitu, waktu itu gue beranak 12,” kata Dhawiya, mengulang pernyataan Elvy kepada anak-anaknya.

Hal ini menunjukkan betapa pentingnya keberadaan anak-anak dalam kehidupan sang penyanyi.

Elvy Sukaesih dikenal sebagai pelantun lagu-lagu dangdut yang hits, termasuk lagu “Gula-gula”.

Dalam beberapa kesempatan, ia mengungkapkan keinginan untuk memiliki anak kembali meskipun di masa lalu, ketika Dhawiya masih kecil dan meminta adik, ia sering menolak permintaan tersebut.

“Dulu gue minta adik, dia nggak mau,” jelas Dhawiya.

Pernyataan Dhawiya ini menyoroti perubahan pandangan Elvy seiring berjalannya waktu.

Kini, ia merindukan suasana kebersamaan yang lebih ramai di rumahnya.

Dalam obrolan mereka, Elvy juga menyatakan bahwa Dhawiya hingga saat ini masih sangat manja dan membutuhkan perhatian darinya.

Bahkan Dhawiya merasa cemburu dengan perhatian yang diberikan kepada keponakan-keponakannya.

“Sekarang lo gimana jadi gue? Gue baru, eh belum lahir, gue udah dikasih keponakan. Jadi gue lahir, keponakan gue udah setahun, ya kan? Gue lahir, lagi disayang-sayang, Bella (keponakannya) lahir dengan lucunya,” ujar Dhawiya sambil tersenyum getir mengenang masa kecilnya.

Semua perhatian tampaknya tertuju pada Bella dan cucu-cucu lainnya yang hadir dalam keluarga mereka.

Di tengah candaan dan tawa, terlihat jelas bagaimana dinamika hubungan antara ibu dan anak ini dipenuhi dengan kasih sayang meskipun ada momen-momen cemburu yang muncul.

“Gue gak pernah kebagian,” tambah Dhawiya dengan wajah sedih namun tetap penuh humor.

Nyatanya, ia memilih untuk tinggal bersama Elvy dan menghadapi kenyataan bahwa kehadiran cucu-cucu baru membuat dirinya merasa terpinggirkan.

Dalam kesempatan berbincang-bincang ini, Elvy Sukaesih pun tidak bisa menahan tawa melihat reaksi putrinya.

“Tiba-tiba datang lagi tuh cucu, di-ini lagi tuh cucu. Rasanya pengin gue gelindingin,” celetuk Dhawiya yang sukses membuat Elvy tertawa lepas.

Kisah ini bukan hanya menggambarkan kerinduan seorang ibu akan anak-anaknya tetapi juga mencerminkan kompleksitas hubungan dalam sebuah keluarga besar yang penuh warna.

Dalam setiap tawa dan kesedihan yang disampaikan oleh Dhawiya dan Elvy Sukaesih, kita bisa merasakan ikatan kuat mereka sebagai ibu dan anak serta bagaimana perubahan tahap kehidupan membawa tantangan tersendiri bagi setiap individu dalam keluarga.

Keinginan Elvy untuk memiliki anak lagi di usianya yang tidak muda memang menjadi sorotan banyak pihak.

Banyak orang mungkin mempertanyakan keputusan tersebut mengingat ia sudah memiliki enam orang anak yang sedang menjalani kehidupan masing-masing.

Namun di balik itu semua terdapat kebutuhan emosional yang mendalam dari Elvy; sebuah rasa kesepian ketika semua anaknya telah dewasa dan membangun hidup mereka sendiri.

Tak dapat dipungkiri bahwa menjadi seorang ibu adalah salah satu peran terpenting dalam hidupnya.

Seiring bertambahnya usia, banyak orang tua merasakan kehilangan ketika anak-anak mereka mulai menjauh dan menjalani kehidupan mandiri.

Dalam situasi seperti ini, kehadiran seorang bayi atau anak kecil sering kali dianggap sebagai harapan baru untuk menghidupkan kembali keceriaan di rumah.

Melihat fenomena tersebut dalam konteks masyarakat modern kita saat ini bisa menjadi menarik; bagaimana pola pikir tentang keluarga berubah seiring waktu? Ketika dahulu memiliki banyak anak dianggap sebagai berkah, kini banyak orang memilih untuk memiliki sedikit anak karena berbagai alasan termasuk finansial dan gaya hidup.

Namun bagi beberapa individu seperti Elvy Sukaesih, rasa ingin memiliki keturunan lebih banyak adalah sebuah pengingat akan kebahagiaan masa lalu yang ingin diulangi.

Bahkan dalam dunia entertainment seperti musik dangdut Indonesia yang sering kali identik dengan kesenangan dan pesta pora juga dipengaruhi oleh dinamika kehidupan pribadi para pelakunya.

Sebagai penyanyi dangdut senior dengan karier panjang sejak era 1970-an hingga kini, perjalanan hidup Elvy Sukaesih telah menyaksikan berbagai perubahan baik dalam industri musik maupun dalam struktur keluarga masyarakat Indonesia.

Keluarga Elvy bukanlah sekadar kumpulan individu dengan hubungan darah; mereka adalah unit sosial yang mengalami pasang surut kehidupan bersama-sama.

Keberadaan cucu-cucu dalam hidupnya membawa rasa bahagia sekaligus tantangan baru bagi sang nenek.

Rasa cemburu Dhawiya terhadap perhatian yang diberikan kepada Bella menunjukkan adanya dinamika emosi yang sering kali terjadi dalam keluarga besar; sebuah pertanda bahwa cinta dalam keluarga tidak mengenal batasan apapun. (*/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Kerja Sama Militer OpenAI Picu Kontroversi

Kepala Eksekutif Robotika OpenAI Resign usai Isu Kesepakatan Ai Militer Pentagon

Berita Selanjutnya
Persibangga Uji Coba Lawan Kendal Tornado

Persibangga Purbalingga Uji Coba Lawan Kendal Tornado Jelang Liga 4 Nasional