Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Persiapan Petani Banyumas Jelang Penutupan Irigasi Utama, Target Tanam Padi Selesai Juli

Target tanam padi selesai juliTarget tanam padi selesai juli

BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Proses penanaman padi di wilayah Banyumas timur memasuki tahap akhir dengan target penyelesaian pada bulan Juli. Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kecamatan Sumpiuh melaporkan bahwa penanaman telah mencapai 1.133 hektare dari total 1.622 hektare sawah yang tersedia.

“Target tanam bulan Juni adalah 409 hektare, dengan sisa 80 hektare lagi yang harus diselesaikan pada bulan Juli. Kami harap awal bulan ini semua sudah selesai,” ungkap Fitriana, Mantri Tani Kecamatan Sumpiuh, pada Kamis (12/6).

Fitriana menekankan pentingnya mempercepat proses penanaman. Hal ini dilakukan untuk menghindari dampak negatif dari penutupan Daerah Irigasi Serayu yang dijadwalkan pada awal Agustus.

Irigasi ini merupakan sumber pengairan utama bagi sawah-sawah di wilayah Banyumas timur.

Pendampingan terus dilakukan oleh pihaknya agar para petani dapat menanam tepat waktu. Keterlambatan dalam penanaman bisa berisiko mengakibatkan kekurangan air yang mengancam pertumbuhan padi.

Di sisi lain, Sugeng Santoso, Koordinator Korpokla SDA Wilayah Serayu Hilir, mengungkapkan bahwa masih ada petani yang baru memulai pengolahan tanah dan penyemaian benih.

“Masih ada lahan yang baru mulai disemai, padahal irigasi akan ditutup pada 1 Agustus,” katanya. Sugeng memperingatkan bahwa waktu yang tersisa sebelum penutupan aliran irigasi hanya sekitar 1,5 bulan.

Jika penanaman terlambat, tanaman dikhawatirkan tidak mampu bertahan tanpa air, terutama saat memasuki musim kemarau.

Beberapa petani telah mempersiapkan strategi untuk menghadapi situasi ini. Poniran, seorang petani di Sumpiuh, telah menyemai benih sejak awal Juni sebagai langkah antisipasi.

“Saya tahu irigasi akan ditutup selama dua bulan. Hari ini saya menyemai benih sebagai cadangan,” jelas Poniran.

Ia berharap musim kemarau kali ini masih diiringi hujan meskipun tidak banyak. Dengan adanya “kemarau basah”, petani masih bisa menanam tanpa harus sepenuhnya bergantung pada irigasi.

Benih yang disemai Poniran selain untuk kebutuhan pribadi juga bisa dijual apabila tidak digunakan. Ia menyebutkan bahwa biasanya petani dari luar daerah mencari bibit cadangan saat musim tanam berlangsung.

Poniran masih memiliki petak sawah lain yang direncanakan akan ditanami keesokan harinya. Dengan adanya cadangan benih, ia merasa lebih tenang jika tanamannya terserang hama.

“Hama tikus masih banyak. Kalau aman, bibit bisa dijual,” ujarnya.

Penutupan sementara Daerah Irigasi Serayu ini direncanakan berlangsung selama dua bulan untuk keperluan pemeliharaan jaringan irigasi oleh pihak terkait.

Para petani diingatkan untuk mempercepat proses penanaman agar hasil panen mereka tidak terganggu akibat keterbatasan air.

Langkah ini penting untuk memastikan pasokan air tetap terjaga selama masa perawatan irigasi berlangsung. (fij/stch)

Berita Sebelumnya
Kia baru dimiliki 36 persen anak

Rendahnya Kepemilikan KIA di Cilacap, Baru Dimiliki 36 Persen Anak

Berita Selanjutnya
Pertumbuhan ekonomi indonesia pada kuartal i tahun 2025 menunjukkan tanda peringatan yang mengkhawatirkan

Ekonomi RI Dapat Peringatan Serius: Pengusaha Sebut Kondisi Sudah Lampu Kuning