BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Tradisi Suran di Desa Watuagung, Kecamatan Tambak, berlangsung dengan penuh khidmat di situs bersejarah Watu Lintang pada hari Senin (21/7).
Dari pagi hari, warga laki-laki tampak sibuk menyembelih lima ekor kambing sebagai simbol rasa syukur dan bentuk sedekah bumi. Proses ini menjadi bagian integral dari upacara tradisional tersebut, mencerminkan kedekatan masyarakat dengan nilai-nilai leluhur.
Aroma gulai kambing menggugah selera tercium di sekitar situs Watu Lintang. Semua bagian dari kambing, termasuk kepala, dimasak dengan cermat di dekat situs tersebut.
Sementara itu, warga perempuan sibuk menyiapkan tumpeng beserta perlengkapannya dari rumah masing-masing untuk turut serta dalam perayaan ini.
“Tradisi Suran ini adalah bentuk sedekah bumi, wujud rasa syukur kepada Tuhan atas segala kenikmatan yang telah diberikan,” ujar Samsul Arifin, Kasi Kesra Desa Watuagung, ketika ditemui di Pendopo Watu Lintang.
Pernyataan Samsul menggarisbawahi esensi dari kegiatan ini yang berakar kuat pada penghormatan terhadap Sang Pencipta dan alam semesta. Partisipasi aktif terlihat dari warga lima RT di wilayah RW 2 yang turut serta dalam tradisi ini.
Kambing-kambing yang disembelih diperoleh dari hasil iuran jimpitan dan kontribusi kelompok ternak setempat. Gotong royong menjadi inti dari pelaksanaan tradisi yang telah diwariskan secara turun temurun ini.
Setelah proses tahlil dan doa bersama selesai dilaksanakan, warga memanjatkan doa khusus untuk para leluhur yang pernah membuka Desa Watuagung.
Selain itu, doa juga dipanjatkan demi keselamatan dan keberkahan dunia-akhirat bagi seluruh warga desa. Tradisi ini bukan hanya sekadar rutinitas tahunan tetapi juga sarana memperkokoh ikatan spiritual dan sosial antarwarga.
Nuryadi, Kepala Dusun 1 Watuagung, menjelaskan bahwa tradisi Suran tidak hanya terbatas di situs Watu Lintang saja.
“Di beberapa tempat lain juga ada kegiatan serupa. Bahkan ada yang menguburkan kepala kambing di perempatan jalan,” ungkap Nuryadi, menunjukkan variasi praktik tradisional yang masih hidup di berbagai lokasi desa.
Sebagai penutup rangkaian acara, gulai kambing dibagikan kepada seluruh warga sebagai wujud kebersamaan. Makan bersama menjadi momen penanda akhir dari sedekah bumi sekaligus memperkuat tali persaudaraan antarwarga desa.
Prosesi Suran menggambarkan betapa kentalnya nilai kebersamaan dan gotong royong dalam kehidupan masyarakat Desa Watuagung.
Dengan melibatkan semua elemen masyarakat tanpa pandang usia maupun jabatan sosial, tradisi ini mampu menjaga kelestarian budaya sekaligus mempererat hubungan antarwarga melalui ritual religius dan sosial yang kaya makna.
Tradisi Suran juga menandakan keterhubungan erat antara manusia dengan alam sekitarnya serta penghargaan terhadap warisan budaya yang telah diturunkan oleh nenek moyang mereka.
Dalam era modern saat ini, menjaga keberlanjutan tradisi seperti Suran adalah salah satu cara terbaik untuk mendukung keberlanjutan identitas budaya lokal. (fij/stch)
















