Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode
Panduan Lengkap Daftar PKH Online 2025, Berikut Syarat Resminya
Tragedi Longsor Majenang: Tangisan Adik Pecah Usai Jenazah Ibu dan Kakaknya Berhasil Ditemukan
Cara Klaim Saldo DANA Gratis Rp191.000 dari Fitur DANA Kaget

Tragedi Longsor Majenang: Tangisan Adik Pecah Usai Jenazah Ibu dan Kakaknya Berhasil Ditemukan

Tangisan Adik Pecah di Lokasi LongsorTangisan Adik Pecah di Lokasi Longsor
DITEMUKAN: Tim SAR Gabungan mengevakuasi salah satu jenazah korban longsor di Desa Cibeunying, Majenang, yang berhasil ditemukan, Sabtu (15/11)

BANYUMASEKSPRES.ID, CILACAP – Di tengah kesunyian pagi di lereng longsor Dusun Cibuyut, Kecamatan Majenang, suasana mendadak berubah mencekam pada Sabtu (15/11) ketika jeritan seorang anak memecah keheningan.

Anak tersebut, adik dari almarhum Muhamad Hafiz, tak kuasa menahan tangis saat mengetahui kakak dan ibunya ditemukan dalam keadaan tak bernyawa di antara tumpukan tanah yang masih basah.

Sekitar pukul 10.06 WIB, tim SAR gabungan berhasil menemukan jasad Muhamad Hafiz yang berusia enam tahun.

Tak lama berselang, pada pukul 10.44 WIB, jenazah ibunya, Nurisnaini yang berusia 30 tahun juga ditemukan tertimbun material longsor.

Tangisan bocah yang berada di garis pembatas area pencarian ini seketika membuat suasana haru menyelimuti lokasi evakuasi.

Petugas segera mengevakuasi anak tersebut ke rumah sakit setelah ia sempat pingsan karena syok berat.

“Kondisinya sempat drop hingga pingsan, dan petugas segera mengevakuasinya ke rumah sakit,” ujar Haryanto, seorang relawan yang turut berada di sekitar lokasi evakuasi kepada awak media.

Jenazah ibu dan anak itu langsung dibawa ke RSUD Majenang untuk proses identifikasi sebelum diserahkan kepada pihak keluarga.

Bagi para petugas yang hampir tanpa jeda bekerja sejak hari pertama bencana terjadi, penemuan ini menjadi momen paling menguras emosi sepanjang operasi penyelamatan.

Hingga Minggu (16/11) sore, total korban meninggal yang berhasil ditemukan dari dua dusun terdampak yaitu Cibuyut dan Tarukahan telah mencapai 13 orang.

Kepala Seksi Operasi dan Siaga Kantor SAR Cilacap, Priyo Prayudha Utama menjelaskan bahwa dua jenazah lainnya ditemukan pada hari keempat yaitu Kasrinah (47) dari Worksite A-2 Dusun Cibuyut pada pukul 12.03 WIB dan Diah Ramadani di titik yang sama pada sore harinya dalam kondisi meninggal dunia.

Selain itu, dua bagian tubuh lainnya ditemukan terpisah di Worksite B-1 Dusun Tarukahan dan Worksite A-1 Dusun Cibuyut. Seluruh temuan ini telah dievakuasi dan dibawa ke posko identifikasi untuk proses lebih lanjut.

“Total semua korban meninggal dunia yang sudah kami temukan adalah 13 orang dan masih ada 10 korban lagi yang dalam pencarian,” ungkap Priyo Prayudha Utama.

Memasuki hari keempat operasi pada Minggu (16/11), Tim SAR gabungan meningkatkan intensitas pencarian dengan mengerahkan 21 ekskavator, 17 unit alkon serta 9 anjing pelacak K-9 ke area terdampak bencana.

Empat sektor pencarian diprioritaskan yaitu dua di Dusun Cibuyut (Worksite A-1 dan A-2) serta dua di Dusun Tarukahan (Worksite B-1 dan B-2). Setiap sektor ini masih memiliki sisa korban yang belum ditemukan.

“Kami membagi area menjadi empat sektor prioritas dengan pengerahan alat berat untuk membuka akses dan menyingkirkan material seluas mungkin sementara K-9 dan alkon membantu menentukan titik-titik potensial adanya survivor,” jelas SAR Mission Coordinator, Muhamad Abdullah.

Tantangan terbesar bagi tim evakuasi tidak hanya luasnya material longsor tetapi juga ketebalannya yang cukup ekstrem.

Deputi Penanganan Darurat BNPB Mayjen TNI Budi Irawan menyebutkan beberapa titik memiliki kedalaman timbunan mencapai delapan meter terutama di bagian bawah Dusun Tarukahan.

“Korban-korban ini tertimbun sangat dalam dengan kedalaman dari 2 hingga 8 meter sehingga membuat proses pencarian memakan waktu,” ujarnya saat meninjau lokasi bencana.

Di tengah upaya mempercepat evakuasi ancaman longsor susulan masih menjadi bayang-bayang yang menghantui para petugas.

Guru Besar Teknik Geologi dan Lingkungan UGM Prof Dwikorita Karnawati mengingatkan adanya retakan besar berbentuk Tapal Kuda di bagian atas tebing.

Retakan tersebut memisahkan area stabil dari bagian lereng yang masih bergerak aktif.

“Begitu hujan turun air meresap ke retakan tersebut membuat pergerakan tanah semakin cepat bahkan hujan ringan pun bisa memicu longsor susulan sehingga area harus segera dikosongkan saat hujan mulai turun,” katanya tegas sambil menambahkan bahwa retakan menunjukkan adanya pergerakan tanah aktif menuju jalur longsor utama.

Meskipun cuaca pada Minggu (16/11) siang cukup cerah kewaspadaan tetap ditingkatkan demi keamanan bersama.

Sejumlah alat berat sempat dihentikan sementara pada beberapa titik ketika tanah menunjukkan tanda-tanda pergeseran demi mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan di lapangan. (jul/bay/dda)

Berita Sebelumnya
Bansos PKH

Panduan Lengkap Daftar PKH Online 2025, Berikut Syarat Resminya

Berita Selanjutnya
Fitur DANA Kaget kembali menarik perhatian pengguna dompet digital. Melalui promo terbaru ini, pengguna bisa memperoleh saldo DANA gratis Rp191.000

Cara Klaim Saldo DANA Gratis Rp191.000 dari Fitur DANA Kaget