Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode
Konservasi Burung di Banjarmangu Berhasil, Jumlah Spesies Naik Jadi 66
Wamenkes Tinjau Baksos Katarak di Purwokerto, 75 Pasien Ditargetkan Jalani Operasi

Wamenkes Tinjau Baksos Katarak di Purwokerto, 75 Pasien Ditargetkan Jalani Operasi

600 Ribu Kasus Katarak Terdeteksi600 Ribu Kasus Katarak Terdeteksi
MENINJAU: Dubes Uni Emirat Arab untuk Indonesia bersama Noor Dubai Foundation didampingi Wamenkes RI dan Bupati Banyumas meninjau proses skrining operasi katarak di RSK Mata Purwokerto, Jumat (7/8)

BANYUMASEKSPRES.ID, PURWOKERTO – Layanan operasi katarak gratis kembali digelar di Purwokerto untuk membantu masyarakat yang mengalami gangguan penglihatan.

Kegiatan Bakti Sosial Katarak tersebut berlangsung di Rumah Sakit Khusus Mata Purwokerto pada 7-9 Agustus 2026 dan mendapat perhatian langsung dari Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) RI Dante Saksono Harbuwono.

Dante meninjau pelaksanaan bakti sosial operasi katarak gratis pada Jumat (7/8).

Dalam kesempatan tersebut, ia mengungkapkan bahwa sekitar 600 ribu kasus katarak telah terdeteksi di Indonesia.

Namun, angka tersebut diyakini belum menggambarkan jumlah kasus katarak yang sebenarnya terjadi di masyarakat.

“Angka itu masih yang terdeteksi, sebenarnya jauh lebih banyak daripada itu,” kata Dante.

Besarnya jumlah kasus tersebut membuat pemerintah terus mendorong perluasan akses layanan kesehatan mata, termasuk melalui operasi katarak gratis.

Program ini diharapkan dapat membantu masyarakat yang membutuhkan tindakan operasi tetapi menghadapi keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan.

Dalam program bakti sosial kali ini, target nasional mencapai 500 operasi katarak yang tersebar di empat provinsi.

Wilayah tersebut meliputi Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Sulawesi Utara, dan Sulawesi Selatan. Khusus Jawa Tengah, target operasi katarak pada Agustus mencapai 220 tindakan.

Dante berharap kegiatan tersebut dapat memberikan manfaat bagi masyarakat, khususnya mereka yang mengalami gangguan penglihatan akibat katarak.

“Mudah-mudahan bisa memberikan manfaat,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Bupati Banyumas Dwi Asih Lintarti mengatakan katarak masih menjadi salah satu penyebab utama gangguan penglihatan hingga kebutaan.

Kondisi tersebut sebenarnya dapat ditangani melalui tindakan operasi sehingga akses terhadap layanan operasi katarak menjadi penting.

Ia menjelaskan, berdasarkan hasil Rapid Assessment of Avoidable Blindness (RAAB) tahun 2014-2016 di 15 provinsi, prevalensi kebutaan pada penduduk berusia lebih dari 50 tahun mencapai sekitar 3 persen.

Dari angka tersebut, kebutaan akibat katarak mencapai 1,9 persen atau sekitar 81,2 persen dari seluruh kasus kebutaan.

Kondisi ini menunjukkan bahwa katarak masih menjadi persoalan kesehatan yang membutuhkan penanganan secara serius.

Menurut Dwi Asih, dampak kebutaan akibat katarak tidak hanya dirasakan oleh pasien.

Ketika seseorang mengalami kehilangan penglihatan, produktivitas dan kemandirian dapat menurun. Kondisi tersebut juga berpotensi memengaruhi kesejahteraan keluarga.

Karena itu, layanan operasi katarak gratis dinilai memiliki manfaat yang lebih luas.

Selain membantu mengembalikan fungsi penglihatan pasien, layanan tersebut juga dapat membantu masyarakat kembali menjalankan aktivitas sehari-hari secara lebih mandiri.

“Pelayanan operasi katarak yang diberikan secara gratis, aman, dan bermutu seperti hari ini memiliki nilai yang sangat besar dalam memutus mata rantai antara kebutaan dan kemiskinan,” kata Dwi Asih.

Program Bakti Sosial Katarak di Rumah Sakit Khusus Mata Purwokerto merupakan hasil kerja sama Kementerian Kesehatan RI dengan Noor Dubai Foundation (NDF).

Pelaksanaan teknis kegiatan tersebut melibatkan Persatuan Dokter Mata Indonesia (PERDAMI) Cabang Jawa Tengah.

Direktur Rumah Sakit Khusus Mata Purwokerto Ahmad Hermanto mengatakan pihaknya menargetkan sebanyak 75 pasien dapat menjalani operasi katarak dalam kegiatan yang berlangsung selama tiga hari tersebut.

“Kita menargetkan 75 pasien yang bisa ditangani atau dioperasi di RSK Mata Purwokerto dalam tiga hari ini, 7-9 Agustus 2026,” jelas Ahmad.

Rangkaian kegiatan dimulai pada Jumat (7/8) dengan proses skrining dan pemeriksaan pasien.

Selanjutnya, operasi katarak dijadwalkan berlangsung pada Sabtu (8/8).

Setelah operasi, pasien akan menjalani pemeriksaan atau kontrol pascaoperasi pada Minggu (9/8).

Pasien yang mengikuti program operasi katarak gratis tersebut tidak hanya berasal dari Kabupaten Banyumas.

Masyarakat dari sejumlah daerah di sekitar Banyumas juga mendapatkan kesempatan untuk mengikuti layanan tersebut.

Beberapa pasien berasal dari Kabupaten Purbalingga, Cilacap, dan Banjarnegara. Ahmad menyebut jumlah peserta dari Banjarnegara cukup banyak, yakni sekitar 13 orang yang dikirim melalui puskesmas di wilayah tersebut.

“Yang paling banyak ada dari Banjarnegara sekitar 13 orang, yang dikirimkan oleh puskesmas masing-masing Banjarnegara,” paparnya.

Proses skrining dilakukan dengan melibatkan puskesmas yang mengirimkan pasien yang diduga mengalami katarak.

Pemeriksaan tersebut dilakukan untuk menentukan kondisi pasien sekaligus memastikan mereka dapat mengikuti tahapan operasi sesuai dengan kebutuhan medis.

Bagi masyarakat, adanya layanan operasi katarak gratis menjadi kesempatan untuk mendapatkan penanganan tanpa harus menanggung biaya operasi secara mandiri.

Salah seorang warga Banyumas, Afif, mengaku terbantu dengan adanya program tersebut karena bisa mendampingi ibunya yang membutuhkan tindakan operasi katarak.

“Ini saya mengantar ibu saya. Sangat terbantu sekali,” pungkasnya.

Melalui kegiatan tersebut, penanganan katarak diharapkan dapat terus diperluas, terutama bagi masyarakat yang mengalami keterbatasan akses layanan kesehatan mata.

Operasi katarak gratis juga menjadi salah satu upaya untuk mengurangi risiko gangguan penglihatan dan kebutaan akibat katarak di masyarakat.

Dengan masih tingginya jumlah kasus katarak yang terdeteksi di Indonesia, keberlanjutan program layanan kesehatan mata menjadi penting.

Tidak hanya melalui operasi, penanganan juga membutuhkan deteksi dini dan pemeriksaan rutin agar masyarakat dapat memperoleh tindakan medis sesuai kondisi sejak awal. (*/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Jumlah Spesies Burung Naik Dua Kali Lipat

Konservasi Burung di Banjarmangu Berhasil, Jumlah Spesies Naik Jadi 66