BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Di sebuah sudut Banyumas, terdapat kisah inspiratif tentang ketekunan dan kesabaran yang dimulai dari tempat yang tidak terduga.
Tidak berasal dari kantor megah atau modal besar, tetapi dari sebuah kandang ayam sederhana, di mana seorang pemuda pernah tidur demi menjaga ternak yang ia cintai.
Pemuda itu adalah KH Casiwan Haryo Sasongko, yang kini dikenal sebagai salah satu peternak ayam petelur sukses dengan populasi mencapai ratusan ribu ekor.
Perjalanan Casiwan menuju kesuksesan tidaklah instan. Semuanya berawal dari kegemaran sederhana seorang anak desa yang memiliki hasrat berwirausaha sejak usia muda.
“Waktu muda, kami tertarik usaha. Kelas 2 SMP sudah punya kambing satu, mbah kami punya kebon cengkeh kami berangkat dari cengkeh itu dapat Rp 5.500, yang Rp 500 buat kami sisanya beli kambing,” katanya mengenang masa remajanya.
Darah wirausaha mengalir dalam dirinya, terinspirasi oleh ayahnya yang dikenal sebagai pedagang.
Sejak kecil, ia terbiasa melihat bagaimana usaha dijalankan dengan kerja keras dan dedikasi.
Kecintaannya terhadap dunia peternakan muncul secara alami. Ia mencoba memelihara berbagai jenis ternak mulai dari kambing, ayam, sapi hingga ikan.
Namun titik balik yang benar-benar mengubah arah hidupnya datang ketika kakaknya menerima bantuan ayam petelur dari program pemerintah.
Bantuan tersebut hanya enam ekor, tetapi justru membuka pintu besar bagi masa depannya.
“Dapat enam ekor, saya belajar ternyata menyenangkan,” ujarnya.
Sejak saat itu, rasa penasaran dan kecintaannya terhadap ayam petelur tumbuh semakin kuat. Ia mulai mempelajari cara merawat ayam, memberi pakan, dan memahami siklus produksi telur.
Pada tahun 1982, di usia muda tersebut, ia mengambil keputusan penting untuk serius menekuni usaha ayam petelur.
“Pertama pelihara 25 ekor,” ungkapnya.
Meskipun jumlah tersebut sangat kecil dibandingkan dengan peternakan besar yang dimilikinya sekarang, bagi Casiwan angka itu sudah cukup untuk memulai perjalanan panjangnya.
Ia memiliki keyakinan sederhana bahwa syarat utama dalam menjalankan usaha bukanlah kepintaran belaka.
Yang paling penting adalah rasa suka terhadap usaha yang digeluti. Tanpa rasa suka ini, seseorang akan mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan.
“Satu syaratnya harus senang dulu. Kalau usaha ayam ya harus senang dengan ayam. Usaha kambing ya harus senang dengan kambing,” tegasnya.
Kecintaan terhadap ayam membuatnya rela hidup sangat sederhana di awal merintis usaha.
Ia menghabiskan banyak waktu di kandang ayam demi merawat ternaknya dengan sepenuh hati.
“Masih muda tidur di kandang ayam, ada kamar kecil-kecilan di kandang ayam,” jelasnya.
Pengalaman tidur di kandang ayam bukan sekadar cerita romantis masa lalu; baginya itu adalah bagian penting dari proses panjang membangun usaha dari nol.
Selain kecintaan pada ternak, Casiwan juga memegang prinsip disiplin yang kuat dalam menjalankan bisnisnya: “Dari ayam untuk ayam.”
Artinya setiap keuntungan yang diperoleh selalu diputar kembali untuk mengembangkan usaha tersebut.
Uang dari hasil penjualan telur digunakan untuk membeli ayam baru, pakan, atau memperluas kandang tanpa tergoda menggunakan keuntungan untuk keperluan lain yang tidak berhubungan langsung dengan usaha.
Strategi ini membuat usahanya berkembang perlahan tetapi stabil; dari 25 ekor menjadi 50 ekor dan terus meningkat menjadi 100 ekor hingga kini mencapai 200 ribu ekor dengan produksi telur mencapai 14 ton per hari.
Namun perjalanan menuju kesuksesan tentu tidak selalu mulus. Ada banyak godaan yang bisa mengalihkan fokus seseorang dalam berusaha.
Salah satu godaan datang dari lingkungan sekitar dan bahkan keluarganya sendiri ketika ia berusia sekitar 24 tahun; orang tuanya meminta agar ia membeli sepeda motor.
Di zaman itu memiliki motor merupakan hal wajar bagi anak muda yang sudah berpenghasilan.
Namun Casiwan memilih untuk memutar uang tersebut demi memperbesar usaha ternaknya daripada membeli motor baru.
“Orang tua suruh beli motor tidak mau karena hasilnya untuk ayam,” ujar Casiwan mengingat momen tersebut meskipun akhirnya ia tetap membeli motor dengan cara unik: “Jadinya beli RX King hasil subsidi 50 persen dari orang tua dan 50 persen dari kami.”
Di rumahnya terdapat moto hidup yang selalu ia pegang teguh; kalimat sederhana itu tertulis di dinding dekat rumah agar selalu diingat: “Nek Iya ya Iya, Nek Ora ya Ora.”
Artinya jika sudah memutuskan sesuatu maka harus dijalankan dengan sungguh-sungguh tanpa setengah hati atau keraguan.
Prinsip dan keteguhan inilah yang membuat usahanya mampu bertahan dalam berbagai situasi sulit, termasuk ketika krisis moneter melanda Indonesia pada tahun 1998.
Saat itu banyak peternak mengalami kerugian besar karena harga pakan melonjak sementara harga telur tidak stabil.
“Kami bisa menghadapi krismon,” ujarnya bangga meskipun banyak peternak lainnya menjual ayam muda disebabkan biaya pakan terlalu mahal.
Namun Casiwan justru mengambil langkah berbeda: “Waktu itu yang lain menjual ayam muda karena berat memberikan pakan; kami tidak melakukan hal itu.”
Ia lebih memilih menjual ayam tua dan tetap membiayai pertumbuhan ayam muda sambil percaya bahwa dunia usaha bergerak dalam siklus dan ada hari esok setelah krisis berlalu.
Keputusan ini sempat dianggap sebagai langkah keliru oleh banyak orang; namun Casiwan tetap yakin akan perhitungannya karena ia percaya bahwa siklus dalam dunia bisnis akan membawa peluang baru setelah masa sulit tersebut berlalu: “Setelah krisis berhenti harga telur langsung naik.”
Ketika krisis mereda dan harga telur melonjak tajam hingga muncul istilah “telur emas”, keuntungan pun berlipat ganda bagi Casiwan: “Yang dijual tua hampir 60 persen.”
Keputusan ini walau dianggap aneh saat itu akhirnya membuktikan keberhasilannya; setelah dua tahun pasca-krisis usahanya berkembang hingga empat kali lipat.
Walaupun kini usahanya telah berkembang pesat menjadi salah satu peternakan terkemuka di Banyumas, Casiwan tetap menyimpan satu pesan penting bagi siapa pun yang ingin berwirausaha: jangan cepat merasa puas atau sukses karena kesalahan umum adalah menggunakan keuntungan untuk membeli aset tidak produktif.
“Biasanya orang merasa untung anggap aja 10 lalu pinjam bank berharap jadi 30; ini sering keliru,” jelas Casiwan menekankan bahwa fokus utama seorang pengusaha seharusnya adalah memperbesar kapasitas usaha daripada menambah gaya hidup atau mengumpulkan aset tidak mendukung bisnis.
Dengan demikian ia selalu menekankan pentingnya ketekunan dalam berusaha; bagi Casiwan kesuksesan tidak selalu berasal dari individu paling pintar tetapi lebih kepada kemauan untuk bersikap tekun serta melanjutkan apa yang telah dimulai tanpa menyerah pada tantangan.
Kisah hidup KH Casiwan Haryo Sasongko adalah bukti nyata bahwa perjalanan besar dapat dimulai dari langkah kecil sekalipun; seorang pemuda yang dahulu tidur di kandang ayam kini mampu membangun peternakan dengan ratusan ribu ekor serta produksi telur belasan ton setiap harinya. (*/stch/dda)
















