BANYUMASEKSPRES.ID, ISLAMABAD – Setelah salat Tarawih usai, suasana di taman bermain Sektor D-17, Islamabad, mengalami transformasi yang mencolok.
Di bawah cahaya lampu sorot yang terang benderang, area perumahan yang biasanya tenang tiba-tiba dipenuhi dengan kemeriahan kompetisi bola voli.
Sorak-sorai penonton yang memenuhi tepi lapangan mengiringi setiap bola yang melewati net.
Di Pakistan, bola voli bukan sekadar olahraga, melainkan juga merupakan salah satu kegiatan tim paling digemari masyarakat.
Menurut peringkat dunia senior FIVB, tim nasional bola voli Pakistan saat ini menempati posisi ke-44 di dunia dan peringkat ketujuh di Asia.
Selama bulan Ramadan, rutinitas harian yang cenderung melambat akibat puasa justru mendorong masyarakat untuk lebih aktif di malam hari.
Pertandingan sering kali berlangsung hingga pukul 03.00 waktu setempat, hanya beberapa jam sebelum sahur dimulai.
“Saya sudah bermain di sini selama empat tahun,” ungkap Ismail Khan, seorang pemain voli asal Waziristan Utara yang pernah mewakili Pakistan di level U-19.
“Pertandingan larut malam di bulan Ramadan telah menjadi tradisi. Kami sibuk di siang hari dan berpuasa, jadi malam adalah saat semua orang merasa bebas. Pada saat itulah kami berkumpul,” tambahnya dengan semangat.
Tahun ini, klub voli D-17 menggelar turnamen khusus yang menarik tim-tim dari seluruh penjuru ibu kota serta desa-desa sekitarnya.
Atmosfer Ramadan memberikan nuansa yang berbeda bagi para pemain, termasuk Ismail.
“Rasanya berbeda di bulan Ramadan. Ada lebih banyak energi,” katanya mengekspresikan kegembiraannya.
Menarik untuk dicatat bahwa lapangan D-17 tidak hanya mengundang pemain lokal, tetapi juga menarik perhatian pemain voli asal Filipina, Whyn Whyn, yang sedang berkunjung ke Pakistan.
“Ini adalah olahraga saya. Melalui olahraga ini, saya bisa bertemu banyak orang,” ujarnya dengan antusias.
Di sekeliling lapangan, semangat para penonton sangat terasa. Mereka menyaksikan pertandingan dari atas sepeda motor atau berdiri berdesakan untuk mendapatkan pandangan terbaik.
Naveed Mahmood, seorang penonton setia, menyatakan bahwa jumlah penonton di bulan Ramadan jauh lebih banyak dibandingkan bulan-bulan lainnya.
“Setiap malam selalu ramai. Rasanya seperti festival,” katanya.
Inisiatif penyelenggaraan turnamen ini dimulai lima tahun lalu oleh dokter sekaligus penyelenggara turnamen Munawar Khan dengan tujuan sederhana namun berarti: menjaga masyarakat tetap aktif selama bulan suci ini.
“Selama Ramadan, orang-orang tidak banyak beraktivitas di siang hari karena berpuasa dan bekerja. Di malam hari, mereka merasa lebih bebas untuk beraktivitas,” jelas Munawar mengenai latar belakang ide tersebut.
Dengan memasang lampu sorot dan menyelenggarakan permainan bola voli malam hari, mereka berharap dapat menciptakan ruang bagi masyarakat untuk berkumpul dan merayakan kebersamaan sambil tetap menjaga kesehatan melalui aktivitas fisik.
Kegiatan ini juga memberikan kesempatan bagi para pemain muda untuk menunjukkan bakat mereka.
Pada saat turnamen berlangsung, banyak cerita muncul dari lapangan D-17 ini. Setiap pertandingan tidak hanya menjadi ajang kompetisi tetapi juga tempat bertukar cerita dan membangun hubungan antar komunitas.
Kegembiraan dan kebersamaan terlihat jelas dalam interaksi antara pemain dan penonton.
Kompetisi bola voli malam hari ini mencerminkan semangat kebersamaan masyarakat Islamabad selama bulan Ramadan.
Momen-momen seperti inilah yang menjadi bagian penting dari budaya lokal yang menjunjung tinggi nilai-nilai persahabatan dan kolaborasi antar anggota komunitas. (*/dda)
















