BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Desa Purwanegara, Kecamatan Purwanegara, Banjarnegara, berlangsung dengan cara yang tidak biasa.
Warga menggelar Gerak Jalan Gayeng Horor, sebuah parade malam yang menghadirkan berbagai karakter menyeramkan seperti pocong, tuyul, hingga genderuwo.
Kegiatan tersebut digelar Selasa (25/8/2026) malam. Sejak sekitar pukul 19.00 WIB, masyarakat mulai memenuhi pinggir jalan desa.
Mereka sengaja datang untuk menyaksikan parade yang hanya digelar setiap dua tahun sekali tersebut.
Alih-alih menyaksikan pawai kendaraan atau gerak jalan dengan pakaian seragam, warga justru disuguhi rombongan peserta dengan kostum dan riasan wajah menyeramkan.
Sekitar pukul 20.00 WIB, peserta mulai bergerak. Perwakilan dari masing-masing RT berjalan menyusuri jalan utama desa dengan karakter yang telah dipersiapkan sebelumnya.
Ada peserta yang tampil sebagai pocong dengan gaya berjalan khas. Kelompok lainnya memerankan tuyul.
Tak sedikit pula yang mengenakan kostum genderuwo dengan ukuran besar dan tampilan mencolok.
Namun, suasana yang tercipta justru jauh dari kesan horor.
Kostum boleh menyeramkan, tetapi aksi para peserta justru mengundang gelak tawa warga.
Setiap kelompok tidak hanya menampilkan karakter, tetapi juga menyiapkan gerakan dan yel-yel masing-masing.
Di sepanjang rute, telepon seluler warga terlihat terangkat untuk mengabadikan momen.
Beberapa titik bahkan dipadati penonton yang ingin melihat langsung aksi peserta.
Irma, salah seorang warga yang menyaksikan kegiatan tersebut, mengatakan Gerak Jalan Gayeng Horor menjadi salah satu acara yang paling ditunggu masyarakat.
Menurutnya, konsep kegiatan yang berbeda membuat warga tertarik datang dan menyaksikan langsung parade tersebut.
“Kegiatan seperti ini memang paling ditunggu warga. Apalagi Jalan Gayeng Horor yang digelar dua tahun sekali. Meski kostumnya menyeramkan, gerakan dan yel-yelnya justru lucu, unik, dan bikin tertawa,” kata Irma, Selasa (25/8/2026) malam.
Bagi peserta, Gerak Jalan Gayeng Horor bukan sekadar berjalan kaki menggunakan kostum. Setiap kelompok harus mempersiapkan penampilan secara matang.
Warga di masing-masing RT bersama-sama menentukan karakter yang akan ditampilkan. Setelah itu, mereka menyiapkan kostum, riasan wajah, gerakan, hingga yel-yel.
Persiapan tersebut membuat suasana di tingkat RT semakin hidup menjelang pelaksanaan acara.
Warga saling berbagi tugas untuk menghasilkan penampilan yang menarik ketika melewati jalan utama desa.
Karena itu, parade tersebut tidak hanya menjadi tontonan hiburan. Di balik kostum pocong, tuyul, dan genderuwo, terdapat proses gotong royong masyarakat dalam mempersiapkan perayaan kemerdekaan.
Ketika rombongan mulai melintas, warga dapat melihat hasil kreativitas masing-masing kelompok dalam beberapa menit perjalanan.
Kepala Desa Purwanegara Renda Sabita Noris mengatakan konsep Gerak Jalan Gayeng Horor memang sengaja dibuat berbeda.
Kegiatan dilaksanakan pada malam hari dan setiap peserta diberikan ruang untuk menunjukkan kreativitas masing-masing.
Meski menggunakan tema horor, menurut Renda, karakter hantu yang ditampilkan juga memiliki makna tersendiri.
Karakter tersebut menjadi simbol hawa nafsu dan sisi buruk yang terdapat dalam diri manusia.
“Dalam diri setiap manusia itu pasti memiliki hawa nafsu yang merupakan perbuatan setan. Kami ingin setan-setan dalam diri manusia itu keluar dan mendapatkan ruang, sehingga harapannya warga kami menjadi lebih tenang dan tidak mudah dikendalikan oleh setan yang ada pada setiap manusia,” ujarnya.
Dengan konsep tersebut, parade tidak hanya dimaknai sebagai hiburan. Ada pesan yang ingin disampaikan kepada masyarakat melalui karakter-karakter yang ditampilkan.
Di luar konsep horornya, kegiatan tersebut juga menjadi ruang bagi masyarakat Desa Purwanegara untuk berkumpul dan memperkuat kebersamaan.
Proses persiapan yang dilakukan bersama membuat interaksi antarwarga semakin intens.
Ada yang bertugas membuat kostum, mencari bahan riasan, menentukan karakter, menyusun koreografi, hingga berlatih yel-yel.
Aktivitas tersebut menjadi bagian dari semangat gotong royong yang ingin dipertahankan dalam perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
Renda mengatakan momentum peringatan kemerdekaan dapat menjadi kesempatan untuk kembali mengingat pentingnya persatuan dan kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat.
“Momen hari kemerdekaan inilah kami ingin mengajak dan mengingatkan kembali kepada semua untuk tetap bersatu, bergotong royong dalam membangun desa, dan menjaga kesatuan bangsa,” katanya.
Salah satu hal yang membuat Gerak Jalan Gayeng Horor selalu dinantikan adalah jadwal pelaksanaannya yang hanya digelar dua tahun sekali.
Jarak penyelenggaraan tersebut membuat kegiatan terasa lebih spesial bagi masyarakat.
Ketika akhirnya digelar, jalanan Desa Purwanegara berubah menjadi panggung terbuka bagi warga.
Tidak diperlukan tiket untuk menyaksikannya. Warga cukup berdiri di sepanjang jalan dan menikmati penampilan setiap kelompok.
Kehadiran kamera telepon seluler juga membuat berbagai aksi peserta dapat diabadikan.
Momen ketika pocong berjalan, tuyul beraksi, atau genderuwo muncul di tengah rombongan menjadi tontonan menarik bagi masyarakat.
Parade yang awalnya mengusung karakter menyeramkan justru berubah menjadi hiburan malam yang penuh tawa.
Gerak Jalan Gayeng Horor Desa Purwanegara akhirnya bukan sekadar parade kostum dalam rangka memperingati HUT ke-81 RI.
Kegiatan tersebut menjadi perpaduan antara kreativitas, hiburan, pesan moral, dan gotong royong masyarakat.
Pocong, tuyul, dan genderuwo yang muncul malam itu tidak datang untuk membuat warga ketakutan.
Mereka justru menjadi bagian dari cara unik masyarakat Purwanegara merayakan kemerdekaan dan tertawa bersama. (jud/stch/dda)
















