Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode
Tak Semua Orang Cocok Makan Pepaya, Ini 5 Kelompok yang Perlu Waspada
Karhutla Banyumas dan Cilacap Meningkat, Kebakaran Lahan Ganggu Perjalanan KA Sancaka Utara

Karhutla Banyumas dan Cilacap Meningkat, Kebakaran Lahan Ganggu Perjalanan KA Sancaka Utara

Karhutla Meluas, Banyumas Catat 21 KejadianKarhutla Meluas, Banyumas Catat 21 Kejadian

BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi ancaman serius di tengah puncak musim kemarau 2026.

Di Kabupaten Banyumas, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat sedikitnya 21 kejadian karhutla selama musim kemarau tahun ini dengan total luas lahan terbakar mencapai sekitar 20 hektare.

Ancaman kebakaran lahan juga terjadi di Kabupaten Cilacap. Bahkan, karhutla di sekitar jalur rel kereta api sempat mengganggu perjalanan KA 236F Sancaka Utara relasi Cilacap-Surabaya Pasarturi pada Kamis (27/8/2026) sore.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kebakaran lahan saat musim kemarau tidak hanya berpotensi merusak lingkungan, tetapi juga dapat mengganggu aktivitas masyarakat dan transportasi.

Asap yang muncul dari kebakaran di dekat jalur kereta dapat mengurangi jarak pandang dan membahayakan perjalanan kereta api.

Dua kejadian kebakaran lahan terbaru di Banyumas terjadi hampir bersamaan pada Kamis (27/8) malam hingga Jumat (28/8) dini hari. Lokasinya berada di Kecamatan Baturraden dan Kecamatan Rawalo.

Kebakaran pertama terjadi di lahan kosong di samping Perumahan Raffles, Desa Pandak, Kecamatan Baturraden, sekitar pukul 23.30 WIB. Luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai 50 meter persegi.

Kabid Darlog BPBD Banyumas Abdul Ladjis mengatakan penyebab kebakaran tersebut masih belum diketahui.

Petugas gabungan langsung melakukan penanganan agar api tidak menjalar ke area lain.

Kebakaran berikutnya terjadi di lahan perkebunan milik warga di Desa Tipar, Dusun Kelikele, Kecamatan Rawalo. Api membakar lahan sekitar 1,5 hektare.

Seperti kejadian di Baturraden, penyebab kebakaran di Rawalo juga belum diketahui.

Meski demikian, petugas gabungan berhasil mengendalikan api sehingga tidak meluas.

Berdasarkan data BPBD Banyumas hingga Jumat (28/8) siang, total sudah ada 21 kejadian karhutla di Banyumas selama musim kemarau 2026.

Kebakaran tersebar di sejumlah kecamatan, antara lain Sokaraja, Purwokerto Selatan, Purwokerto Timur, Purwokerto Utara, Purwojati, Jatilawang, Rawalo, Ajibarang, Cilongok, Baturraden, Kalibagor, Kebasen, Patikraja, Kembaran, dan Kedungbanteng.

Karhutla di Cilacap memberikan dampak berbeda karena terjadi di sekitar jalur rel.

Kebakaran lahan kering muncul sekitar pukul 17.10 WIB di KM 15+300 petak jalan Cilacap-Gumilir, Kamis (27/8).

Kepulan asap yang berada di sekitar jalur rel membuat perjalanan KA 236F Sancaka Utara relasi Cilacap-Surabaya Pasarturi harus dihentikan sementara di JPL 14.

Manager Humas KAI Daop 5 Purwokerto M. As’ad Habibuddin mengatakan keputusan menghentikan perjalanan dilakukan demi keselamatan penumpang dan perjalanan kereta.

Menurutnya, keberadaan api maupun asap di sekitar jalur rel tidak boleh dianggap sepele.

Asap dapat mengurangi jarak pandang masinis, sedangkan api berpotensi merusak fasilitas perkeretaapian di sekitar lokasi.

Akibat kebakaran tersebut, perjalanan KA Sancaka Utara mengalami keterlambatan sekitar 11 menit.

Kereta kembali melanjutkan perjalanan setelah kondisi di sekitar jalur rel dipastikan aman.

KAI Daop 5 Purwokerto juga mengapresiasi petugas pemadam kebakaran Kabupaten Cilacap yang bergerak cepat menangani kebakaran. Penanganan tersebut membuat kondisi di sekitar jalur rel segera kembali aman.

Untuk mengantisipasi gangguan serupa, KAI Daop 5 Purwokerto meningkatkan patroli di sejumlah lokasi yang dinilai rawan kebakaran selama musim kemarau.

Masyarakat juga diminta tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu api, terutama membakar sampah, jerami, maupun semak-semak kering di sekitar jalur rel.

KAI mengingatkan masyarakat agar segera melaporkan apabila melihat api atau kepulan asap di dekat jalur kereta.

Laporan cepat dapat membantu petugas melakukan penanganan sebelum kebakaran meluas dan mengganggu perjalanan kereta api.

Ancaman karhutla di Banyumas dan Cilacap terjadi ketika sebagian besar wilayah Indonesia memasuki puncak musim kemarau.

BMKG menyebut sekitar 80 persen wilayah Indonesia mengalami musim kemarau pada periode 27 Agustus hingga 2 September 2026.

Puncak musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi berlangsung pada Agustus.

Kondisi tersebut membuat vegetasi dan lahan menjadi semakin kering sehingga lebih mudah terbakar.

BMKG juga mencatat kondisi kemarau 2026 berpotensi lebih kering dari biasanya di sebagian besar Zona Musim (ZOM).

Sebanyak 64,5 persen ZOM diprediksi mengalami musim kemarau yang lebih kering, sedangkan 57,2 persen ZOM diperkirakan mengalami musim kemarau lebih panjang dibandingkan kondisi normal.

Pada dasarian kedua Agustus, curah hujan kategori rendah mendominasi sekitar 90,29 persen wilayah Indonesia. Sementara itu, 88,61 persen wilayah mengalami sifat hujan di bawah normal.

Kondisi tersebut menjadi peringatan bagi masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kebakaran hutan dan lahan saat musim kemarau.

BPBD Banyumas menyebut mayoritas penyebab kebakaran lahan yang terjadi hingga kini belum diketahui.

Karena itu, masyarakat diminta berhati-hati ketika beraktivitas di sekitar lahan kering dan kawasan perkebunan.

Pencegahan menjadi langkah penting untuk menghindari dampak yang lebih besar.

Kebakaran yang awalnya terjadi di lahan kosong dapat meluas jika kondisi angin mendukung dan vegetasi dalam keadaan sangat kering.

Selain mengancam lingkungan, karhutla juga dapat mengganggu transportasi, kesehatan, dan aktivitas ekonomi masyarakat.

Peristiwa di Cilacap menjadi contoh bahwa kebakaran lahan di sekitar infrastruktur vital dapat berdampak langsung terhadap perjalanan masyarakat.

Dengan puncak musim kemarau yang masih berlangsung, kewaspadaan terhadap potensi karhutla Banyumas, kebakaran lahan Cilacap, dan kebakaran di sekitar jalur rel kereta api perlu terus ditingkatkan.

Masyarakat diimbau tidak menyalakan api sembarangan dan segera melaporkan setiap titik api kepada petugas agar dapat ditangani sedini mungkin. (zet/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Pepaya

Tak Semua Orang Cocok Makan Pepaya, Ini 5 Kelompok yang Perlu Waspada