BANYUMASEKSPRES.ID, PURBALINGGA – Komoditas kapulaga menjadi salah satu hasil pertanian yang dinilai memiliki prospek besar untuk dikembangkan di Kabupaten Purbalingga.
Hingga semester I 2026, produksi kapulaga di wilayah tersebut tercatat mencapai 531,4 ton dari luas tanaman menghasilkan sekitar 312,9 hektare.
Data tersebut disampaikan Kepala Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan (DPPP) Purbalingga, Prayitno, Kamis (27/8/2026).
Capaian produksi tersebut menunjukkan bahwa kapulaga memiliki potensi ekonomi yang cukup menjanjikan bagi petani di Kabupaten Purbalingga.
Menurut Prayitno, hasil produksi kapulaga dari Purbalingga selama ini sebenarnya sudah memiliki pasar.
Komoditas tersebut antara lain diserap oleh pabrik jamu Sidomuncul serta pengepul kapulaga yang berada di Magelang.
“Yakni, pabrik jamu Sidomuncul dan pengepul kapulaga di Magelang,” ungkap Prayitno.
Meskipun pemasaran kapulaga selama ini sudah berjalan, Pemerintah Kabupaten Purbalingga tidak ingin komoditas tersebut hanya bergantung pada pasar domestik.
DPPP Purbalingga mulai mendorong pengembangan kapulaga agar memiliki daya saing lebih tinggi dan mampu masuk ke pasar ekspor.
Prayitno menilai peluang tersebut cukup terbuka karena permintaan terhadap kapulaga memiliki pasar yang luas.
Selain digunakan sebagai komoditas pertanian, kapulaga juga dikenal sebagai salah satu bahan yang banyak dimanfaatkan dalam industri pangan, rempah, dan jamu.
“Sebab, pasarnya cukup besar dan peluang ekspornya menjanjikan,” tambahnya.
Target ekspor tersebut membutuhkan penguatan dari sisi produksi maupun kualitas.
Karena itu, petani kapulaga di Purbalingga didorong untuk mulai mengubah pola pikir dalam menjalankan usaha pertanian.
Petani tidak hanya diharapkan fokus pada kegiatan budidaya, tetapi juga memahami kebutuhan pasar.
Dengan orientasi tersebut, hasil panen kapulaga diharapkan memiliki kualitas yang lebih sesuai dengan permintaan pembeli dan dapat bersaing apabila masuk ke pasar yang lebih luas.
Untuk mendukung pengembangan komoditas kapulaga, pemerintah daerah akan memperkuat pendampingan kepada petani.
Pendampingan tidak hanya dilakukan oleh DPPP, tetapi juga melibatkan penyuluh pertanian lapangan, pemerintah desa, serta unsur Pemerintah Kabupaten Purbalingga.
“Pendampingan akan terus diperkuat, baik oleh dinas, penyuluh lapangan, pemerintah desa, maupun Pemkab,” ujarnya.
Pendampingan menjadi penting agar peningkatan produksi kapulaga tidak hanya terjadi dari sisi kuantitas.
Aspek kualitas, pola budidaya, hingga orientasi terhadap pasar juga perlu diperhatikan.
Dengan produksi yang sudah mencapai ratusan ton, kapulaga berpotensi menjadi salah satu komoditas unggulan pertanian Purbalingga.
Apabila pengelolaan dilakukan secara konsisten, komoditas tersebut dapat memberikan nilai tambah bagi petani sekaligus membuka peluang pasar baru.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), terdapat lima kecamatan yang menjadi sentra produksi kapulaga di Kabupaten Purbalingga.
Wilayah tersebut adalah Kecamatan Rembang, Karangjambu, Karangmoncol, Karangreja, dan Pengadegan.
Keberadaan sejumlah sentra produksi tersebut menjadi modal penting dalam pengembangan kapulaga di Purbalingga.
Konsentrasi produksi di beberapa wilayah dapat memudahkan pemerintah dalam memberikan pendampingan sekaligus mengembangkan rantai pasok komoditas.
Dari lima wilayah tersebut, Kecamatan Rembang menjadi sentra kapulaga dengan produksi tertinggi.
Bahkan, hampir separuh produksi kapulaga Purbalingga disebut berasal dari wilayah tersebut.
Tingginya produksi di Kecamatan Rembang menunjukkan adanya potensi pengembangan yang cukup besar.
Pemerintah dapat menjadikan wilayah tersebut sebagai salah satu pusat penguatan budidaya dan pengembangan kapulaga, sekaligus mendorong peningkatan kualitas hasil panen.
Pengembangan kapulaga tidak hanya berkaitan dengan peningkatan produksi pertanian, tetapi juga peluang meningkatkan pendapatan masyarakat.
Pasar yang sudah tersedia memberikan kepastian awal bagi petani, sementara target ekspor membuka kemungkinan perluasan pasar pada masa mendatang.
Dengan produksi 531,4 ton hingga semester I 2026 dan luas tanaman menghasilkan 312,9 hektare, kapulaga Purbalingga memiliki basis produksi yang cukup kuat.
Tantangan berikutnya adalah memastikan produktivitas, kualitas, kontinuitas pasokan, serta pemasaran dapat terus ditingkatkan.
Pemerintah daerah berharap petani semakin melihat kapulaga sebagai komoditas bernilai ekonomi tinggi.
Dukungan melalui pendampingan dan penguatan orientasi pasar diharapkan dapat membuat komoditas tersebut tidak hanya bertahan di pasar lokal dan nasional, tetapi juga mampu bersaing di pasar internasional.
Jika target tersebut berhasil diwujudkan, kapulaga Purbalingga berpeluang menjadi komoditas pertanian potensial untuk ekspor sekaligus menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru bagi petani di berbagai sentra produksi. (tya/stch/dda)














