BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Musim kemarau panjang mulai memberikan dampak serius terhadap ketersediaan air di Kabupaten Banyumas.
Debit air Embung Watuagung, Kecamatan Tambak, Banyumas, mengalami penurunan signifikan hingga sekitar 2,5 meter dari kondisi normal.
Penurunan debit tersebut menjadi perhatian karena Embung Watuagung selama ini menjadi salah satu sumber air penting bagi masyarakat, khususnya petani yang memanfaatkan air embung untuk mengairi lahan pertanian.
Dalam kondisi normal, kedalaman air Embung Watuagung mencapai sekitar 6,5 meter.
Namun, akibat kemarau panjang yang berlangsung dalam beberapa waktu terakhir, ketinggian air kini telah menyusut sekitar 2,5 meter.
Pengelola Embung Watuagung, Samun, mengatakan penurunan debit air mulai terlihat dalam sekitar satu bulan terakhir.
Kondisi tersebut terjadi karena sumber air yang selama ini mengalir menuju embung terus berkurang hingga akhirnya berhenti.
“Kemarau panjang, sumber air dari sungai sudah tidak mengalir ke embung,” kata Samun, Jumat (28/8).
Berkurangnya aliran air dari sungai membuat volume air di Embung Watuagung terus menurun. Kondisi ini berbeda dibandingkan musim kemarau tahun sebelumnya.
Samun menyebut, pada kemarau tahun lalu, penurunan debit air Embung Watuagung hanya sekitar satu meter.
Sementara pada musim kemarau kali ini, penyusutan sudah mencapai sekitar 2,5 meter.
“Kemarau tahun lalu, debit air embung hanya berkurang satu meter,” imbuhnya.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap ketersediaan air tahun ini lebih besar.
Musim kemarau yang panjang membuat sumber air yang memasok embung semakin terbatas.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena air Embung Watuagung tidak hanya berfungsi sebagai cadangan air, tetapi juga dimanfaatkan langsung untuk mendukung aktivitas pertanian warga.
Embung Watuagung selama ini memiliki peran penting dalam membantu petani mempertahankan produktivitas lahan saat musim kemarau.
Terdapat hingga lima mesin pompa yang digunakan petani untuk menyedot air dari embung dan mengalirkannya ke area persawahan.
Ketersediaan air dari embung membantu tanaman padi bertahan hingga masa panen.
Setelah panen padi selesai, sebagian petani kembali memanfaatkan sisa air embung untuk mengairi tanaman palawija.
Dengan debit air yang terus menurun, petani harus menggunakan air secara lebih hemat dan terjadwal.
Air yang tersisa harus dimanfaatkan seoptimal mungkin agar mampu memenuhi kebutuhan tanaman hingga datangnya musim hujan.
Salah satu petani yang masih mengandalkan Embung Watuagung, Ruswanto, mengatakan dirinya secara berkala mengambil air untuk menyiram tanaman di lahan pertaniannya.
Setelah memanen padi, Ruswanto kini menanam kacang tanah sebagai tanaman palawija.
Untuk menjaga tanaman tetap mendapatkan air, ia menyedot air dari embung secara berkala.
“Mengambil air dari embung untuk mengairi tanaman kacang tanah setiap seminggu sekali,” ujar Ruswanto di lokasi.
Menurut Ruswanto, keberadaan Embung Watuagung sangat membantu petani, terutama ketika pasokan air dari sumber lain semakin terbatas.
Air embung memungkinkan lahan pertanian tetap dimanfaatkan meskipun kondisi kemarau cukup panjang.
Petani masih dapat menanam palawija setelah panen padi karena memiliki sumber air yang bisa digunakan secara berkala.
Namun, penurunan debit yang cukup signifikan membuat keberadaan cadangan air tersebut harus dijaga.
Jika kemarau terus berlangsung dalam waktu lama, volume air Embung Watuagung berpotensi kembali menyusut.
Hal tersebut dapat meningkatkan tantangan bagi petani yang membutuhkan air untuk mempertahankan tanaman mereka.
Karena itu, pemanfaatan air secara efisien menjadi semakin penting. Petani perlu mengatur jadwal pengambilan air agar cadangan yang tersisa dapat bertahan lebih lama.
Embung Watuagung Banyumas memiliki fungsi strategis bagi sektor pertanian di wilayah Tambak.
Keberadaan sumber air tersebut membantu petani menghadapi periode ketika curah hujan rendah dan saluran air alami tidak lagi mengalir secara normal.
Penurunan debit air hingga 2,5 meter menjadi gambaran nyata dampak kemarau panjang terhadap ketersediaan air di tingkat lokal.
Terlebih, sumber air dari sungai yang biasanya mengalir menuju embung kini telah berhenti.
Kondisi tersebut membuat air yang tersisa di embung menjadi semakin berharga bagi petani.
Lima mesin pompa yang digunakan untuk mengairi lahan menunjukkan tingginya ketergantungan aktivitas pertanian terhadap sumber air tersebut.
Petani berharap cadangan air yang tersisa mampu bertahan hingga musim hujan kembali datang.
Selama air masih tersedia, mereka akan terus mengoptimalkannya untuk menjaga produktivitas lahan.
Kemarau panjang tidak hanya berdampak pada debit Embung Watuagung, tetapi juga menjadi tantangan bagi keberlangsungan pertanian masyarakat.
Penurunan air yang lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya membuat pengelolaan cadangan air menjadi semakin penting.
Dengan kondisi sumber air sungai yang telah berhenti mengalir, masyarakat perlu menggunakan air embung secara bijak.
Bagi petani, setiap volume air yang tersisa memiliki peran penting untuk memastikan tanaman tetap mendapatkan pasokan hingga kondisi cuaca kembali mendukung. (fij/stch/dda)














