BANYUMASEKSPRES.ID, PURBALINGGA – Bencana kekeringan di Kabupaten Purbalingga semakin meluas. Hingga Jumat (28/8/2026), sedikitnya 38 desa di 11 kecamatan tercatat mengalami kesulitan air bersih akibat musim kemarau.
Meluasnya wilayah terdampak membuat kebutuhan bantuan air bersih meningkat tajam.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Purbalingga bahkan harus mengubah pola distribusi dengan memperpanjang waktu pengiriman hingga malam hari.
Langkah tersebut dilakukan agar seluruh permintaan bantuan air bersih dari desa-desa terdampak dapat terpenuhi.
Jika distribusi hanya dilakukan selama jam kerja, BPBD khawatir sebagian jadwal pengiriman tidak dapat diselesaikan.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Purbalingga Revon H melalui Sekretaris BPBD Aris Mulyanto mengatakan, jumlah desa yang mengalami dampak kekeringan terus bertambah.
“Data terbaru, sudah ada 38 desa di 11 kecamatan yang terdampak. Sejumlah wilayah tersebut sudah mengajukan pengiriman air bersih dan sudah dikirim bantuan,” katanya kepada Radarmas, Jumat (28/8/2026).
Data terbaru BPBD Purbalingga menunjukkan kekeringan telah berdampak terhadap 3.562 kepala keluarga (KK) atau 12.717 jiwa.
Dampak krisis air bersih tidak hanya dirasakan masyarakat di kawasan permukiman.
Satu pondok pesantren dan dua sekolah di Purbalingga juga mengalami kesulitan mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena air bersih merupakan kebutuhan dasar masyarakat.
Semakin luas wilayah yang mengalami kekeringan, semakin besar pula kebutuhan distribusi air yang harus dipenuhi pemerintah.
BPBD Purbalingga terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan wilayah terdampak.
Desa yang mengalami kekurangan air dapat mengajukan bantuan sehingga pengiriman dapat disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan.
Meluasnya wilayah kekeringan di Purbalingga membuat BPBD harus melakukan penyesuaian strategi distribusi. Pengiriman air bersih kini tidak lagi terbatas pada jam kerja.
Petugas dapat melakukan distribusi hingga malam hari untuk mengejar jumlah permintaan yang terus meningkat.
“Bantuan air bersih kami distribusikan hingga malam hari. Sebab, jika hanya menggunakan jam kerja maka tidak akan terdistribusi semua jadwal pengiriman yang telah ditentukan,” jelas Aris.
Perubahan waktu distribusi tersebut menjadi salah satu upaya BPBD agar masyarakat di wilayah terdampak tidak terlalu lama menunggu bantuan air bersih.
Dengan jumlah 38 desa yang tersebar di 11 kecamatan, distribusi membutuhkan pengaturan armada, sumber air, tenaga petugas, serta jadwal pengiriman yang lebih fleksibel.
Hingga saat ini, total bantuan air bersih untuk warga Purbalingga yang telah didistribusikan mencapai 727 tangki.
Jika dikonversikan, jumlah tersebut setara dengan sekitar 3,423 juta liter air bersih.
Dari total bantuan tersebut, sebanyak 344 tangki atau sekitar 1,72 juta liter berasal dari Pemerintah Kabupaten Purbalingga.
Sementara itu, kebutuhan masyarakat juga terbantu oleh dukungan dari berbagai pihak.
BPBD mencatat terdapat 23 lembaga maupun individu yang turut memberikan bantuan air bersih kepada masyarakat terdampak kekeringan.
Kolaborasi tersebut menjadi penting karena penanganan kekeringan membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, terutama ketika jumlah desa yang membutuhkan air bersih terus meningkat.
Untuk memperkuat penanganan krisis air bersih, BPBD Kabupaten Purbalingga juga berkoordinasi dengan PDAM Kabupaten Purbalingga.
Sebagian besar pengiriman air bersih selama penanganan kekeringan menggunakan sumber air milik PDAM.
Pemanfaatan sumber air tersebut membantu BPBD menjaga keberlangsungan distribusi ke berbagai wilayah yang membutuhkan.
Selain memastikan ketersediaan sumber air, pemerintah juga berupaya memperlancar proses penyaluran di tingkat masyarakat.
BPBD Purbalingga telah meminjam lima unit toren air untuk membantu penampungan air bersih di wilayah terdampak.
Keberadaan toren tersebut diharapkan dapat membuat bantuan air yang sudah dikirim lebih mudah ditampung dan dimanfaatkan oleh warga.
Meluasnya kekeringan di Purbalingga menunjukkan bahwa kebutuhan air bersih masih menjadi persoalan selama musim kemarau berlangsung.
Jumlah 38 desa di 11 kecamatan yang terdampak berpotensi bertambah apabila kondisi kering terus berlangsung dan sumber air masyarakat semakin berkurang.
Karena itu, BPBD bersama Pemerintah Kabupaten Purbalingga dan berbagai pihak terus mengatur distribusi agar bantuan dapat menjangkau seluruh wilayah yang telah mengajukan permintaan.
Pengiriman air hingga malam menjadi salah satu strategi untuk mempercepat pemenuhan kebutuhan masyarakat.
Dukungan lembaga, individu, pemerintah daerah, serta PDAM juga menjadi bagian penting dalam menghadapi krisis air bersih Purbalingga.
Dengan total 727 tangki atau sekitar 3,423 juta liter air yang telah disalurkan, penanganan terus dilakukan secara bertahap.
Namun, meningkatnya jumlah desa terdampak menunjukkan bahwa kebutuhan bantuan masih cukup besar.
Masyarakat di wilayah rawan kekeringan diharapkan dapat menggunakan bantuan air bersih secara bijak untuk memenuhi kebutuhan prioritas sehari-hari.
Sementara pemerintah terus memantau perkembangan kondisi lapangan dan menyesuaikan distribusi berdasarkan tingkat kebutuhan masing-masing wilayah.
Kondisi tersebut sekaligus menunjukkan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau, terutama di daerah yang sumber airnya sangat bergantung pada kondisi cuaca.
Penanganan tidak hanya membutuhkan distribusi air saat krisis terjadi, tetapi juga perencanaan jangka panjang untuk menjaga ketersediaan air bersih bagi masyarakat. (tya/stch/dda)














