BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Kepedulian terhadap lingkungan membawa siswa SMK Negeri 2 Bawang, Banjarnegara, meraih prestasi di tingkat nasional.
Para siswa mengangkat persoalan sedimentasi Bendungan Mrica serta kerusakan lingkungan di kawasan hulu Sungai Serayu dan Sungai Merawu melalui sebuah film dokumenter berjudul Waled.
Film produksi rumah produksi B2FILM SMK Negeri 2 Bawang tersebut berhasil meraih dua penghargaan dalam ajang Indonesian Students Movie Awards (ISMA) Vol. 10 di Jakarta.
Dua penghargaan yang berhasil dibawa pulang yakni Golden Rajawali Award Dokumenter kategori Tatya dan Golden Garuda Award Best Documentary Film.
Prestasi tersebut menjadi pencapaian tersendiri bagi pelajar Banjarnegara. Pasalnya, mereka tidak hanya menghasilkan karya sinema, tetapi juga mengangkat persoalan lingkungan yang berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat di wilayah sekitar.
Film Waled karya Miftahul Huda mengangkat isu perambahan hutan serta praktik pertanian yang dinilai tidak ramah lingkungan di kawasan hulu Sungai Serayu dan Merawu.
Menurut Miftahul, berbagai persoalan tersebut memiliki keterkaitan dengan sedimentasi yang terus menumpuk di Bendungan Mrica.
Sedimentasi menjadi salah satu persoalan lingkungan yang mendapat perhatian dalam film tersebut.
Para siswa berusaha menyampaikan kondisi yang mereka lihat melalui pendekatan dokumenter sehingga isu lingkungan tidak hanya menjadi pembahasan di kalangan tertentu, tetapi dapat diketahui masyarakat secara lebih luas.
“Kondisi ini menyebabkan bendungan kritis, yang apabila jebol dapat menyebabkan bencana besar di wilayah Karesidenan Banyumas. Kita ingin masyarakat sadar, dan para pemangku kebijakan segera turun tangan,” ujar Miftahul.
Melalui film tersebut, para siswa ingin menyampaikan pesan mengenai pentingnya menjaga kawasan hulu.
Kerusakan lingkungan di wilayah atas dinilai dapat memberikan dampak terhadap kondisi sungai dan kawasan di bawahnya.
Film Waled lahir dari kepedulian siswa terhadap kondisi lingkungan di sekitar mereka.
Karya tersebut dibuat ketika para siswa mengikuti Praktik Kerja Industri (Prakerin) Berkelas Art Film.
Dalam kegiatan tersebut, mereka memilih film dokumenter sebagai media untuk menyampaikan persoalan lingkungan sekaligus kritik sosial.
Pilihan tersebut menunjukkan bahwa kegiatan pembelajaran dan kreativitas siswa dapat diarahkan untuk menghasilkan karya yang memiliki pesan sosial.
Alih-alih hanya membuat film untuk kebutuhan kompetisi, para siswa memilih mengangkat persoalan yang mereka anggap penting.
Lingkungan kawasan hulu Sungai Serayu dan Merawu menjadi tema utama yang kemudian dikemas melalui karya audiovisual.
Dengan pendekatan dokumenter, tim Waled berusaha menghadirkan isu lokal dalam bentuk yang lebih mudah diterima masyarakat.
Karya siswa SMKN 2 Bawang tersebut kemudian mendapatkan apresiasi dalam ajang Indonesian Students Movie Awards Vol. 10.
Dua penghargaan berhasil diraih, yaitu Golden Rajawali Award Dokumenter kategori Tatya serta Golden Garuda Award Best Documentary Film.
Penghargaan tersebut menjadi bukti bahwa karya pelajar dari daerah mampu bersaing dan mendapatkan perhatian di tingkat nasional.
Lebih dari sekadar prestasi, penghargaan itu juga memperkuat pesan yang ingin disampaikan melalui film Waled.
Persoalan sedimentasi Bendungan Mrica dan kondisi lingkungan di kawasan hulu Sungai Serayu dan Merawu diharapkan mendapat perhatian lebih luas.
Sekretaris Komite Ekonomi Kreatif (Ekraf) Kabupaten Banjarnegara, Aziz Arifianto, memberikan apresiasi terhadap keberanian para siswa dalam mengangkat isu lingkungan melalui karya film.
Menurutnya, generasi muda perlu mendapatkan ruang untuk menyampaikan gagasan dan kritik sosial melalui cara yang kreatif.
“Kita akan terus mendorong anak-anak muda untuk berani bersuara melalui sinema. Kita akan upayakan untuk terus memfasilitasi ide-ide brilian mereka. Genzi memang harus punya cara tersendiri dalam menyampaikan pesan dan kritik sosialnya,” kata Aziz.
Dukungan terhadap kreativitas anak muda dinilai penting agar berbagai persoalan yang terjadi di lingkungan sekitar dapat disampaikan melalui media yang dekat dengan generasi mereka.
Film dokumenter menjadi salah satu media yang dapat digunakan untuk menggabungkan kreativitas, pendidikan, sekaligus kepedulian sosial.
Keberhasilan Waled menunjukkan bahwa persoalan lokal dapat menjadi tema yang kuat untuk sebuah karya film.
Isu lingkungan di Banjarnegara yang mungkin selama ini lebih banyak diketahui masyarakat sekitar berhasil dibawa oleh para siswa ke ajang tingkat nasional.
Bagi tim Waled, penghargaan yang diraih bukan sekadar pencapaian dalam sebuah kompetisi.
Prestasi tersebut sekaligus menjadi penguat pesan mengenai kondisi lingkungan di kawasan hulu Sungai Serayu dan Merawu serta persoalan sedimentasi Bendungan Mrica.
Karya tersebut juga memperlihatkan peran pelajar dalam menyuarakan persoalan lingkungan melalui kreativitas.
Keberhasilan siswa SMKN 2 Bawang diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi pelajar lain untuk mengembangkan karya berdasarkan persoalan yang ada di lingkungan masing-masing.
Dengan kreativitas dan keberanian menyampaikan gagasan, isu lokal dapat memperoleh perhatian lebih luas.
Film Waled menjadi salah satu contoh bagaimana karya film siswa Banjarnegara dapat menjadi sarana menyampaikan kritik sosial sekaligus membawa nama daerah ke tingkat nasional. (*/stch/dda)
















