BANYUMASEKSPRES.ID, PURBALINGGA – Dalam persiapan menuju musim haji tahun 2026, sebanyak 168 Calon Jemaah Haji (CJH) dari Kabupaten Purbalingga telah diidentifikasi masuk dalam kategori faktor risiko tinggi (risti).
Langkah ini diambil guna memastikan kesehatan mereka terjaga agar tetap layak untuk terbang ke Tanah Suci.
Secara keseluruhan, terdapat 567 CJH asal Purbalingga yang dijadwalkan berangkat tahun ini.
Namun, perhatian lebih diberikan kepada jemaah yang merupakan lansia serta mereka yang menderita penyakit kronis.
Ketua Tim Surveilans dan Imunisasi Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DinkesPPKB) Kabupaten Purbalingga, Devvy Herawati, menjelaskan bahwa penentuan status kesehatan atau istitha’ah para jemaah tahun ini mengacu pada Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) yang sangat ketat.
Data mengenai jemaah berisiko tinggi tersebut diperoleh melalui Sistem Informasi Kesehatan Jemaah Haji (Siskohajkes).
“Pengecekan kesehatan dilakukan secara berlapis hingga jemaah tiba di Embarkasi Donohudan, Solo,” ungkap Devvy pada Selasa, 12 Mei 2026.
Proses pengawasan kesehatan ini dimulai jauh sebelum keberangkatan, dengan tujuan agar kondisi fisik jemaah tetap stabil menjelang hari H.
Menurut Devvy, pemeriksaan kesehatan akan dilakukan kembali sebelum penerbangan.
Ia mengingatkan bahwa jika ada jemaah yang mengalami penurunan kondisi kesehatan saat berada di Embarkasi Donohudan, maka ada kemungkinan mereka tidak dapat diberangkatkan ke Arab Saudi.
“Kalau sampai di Donohudan terlihat sangat lelah dan sakit hingga dinyatakan tidak layak terbang, maka jemaah terpaksa kami bawa pulang kembali ke Purbalingga,” tegasnya.
Devvy juga menambahkan bahwa ketentuan kesehatan dari pihak otoritas Arab Saudi sangatlah ketat.
Apabila ditemukan adanya jemaah yang tidak dalam kondisi sehat setelah tiba di negara tujuan, maka mereka berisiko dipulangkan kembali ke Indonesia.
Kriteria bagi jemaah yang masuk dalam kategori risiko tinggi mencakup mereka yang berusia di atas 65 tahun serta penderita penyakit kronis seperti jantung, hipertensi, gangguan paru-paru, dan diabetes melitus.
“Bagi jemaah dengan kondisi tersebut, wajib untuk rutin mengonsumsi obat secara disiplin. Hal ini harus tetap dijaga, termasuk saat sudah berada di Arab Saudi nanti,” imbuhnya menekankan pentingnya kepatuhan terhadap pengobatan bagi para jemaah.
DinkesPPKB Purbalingga juga terus memberikan imbauan kepada seluruh calon jemaah untuk senantiasa menjaga kondisi fisik mereka.
Mengatur pola makan dan waktu istirahat menjadi kunci agar proses ibadah haji dapat berjalan dengan lancar.
Dengan adanya pemantauan kesehatan yang ketat ini diharapkan dapat meminimalisir risiko bagi para calon jemaah haji yang akan melaksanakan ibadah suci tersebut. (alw/stch/dda)
















