Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Asha Assuncao Soroti Tekanan Sosial Menikah di Usia Kepala Tiga

Soroti tekanan menikah di usia kepala tigaSoroti tekanan menikah di usia kepala tiga

BANYUMASEKSPRES.ID, Dalam sebuah wawancara, aktris berbakat Asha Assuncao mengupas tuntas mengenai tekanan sosial yang dialami banyak perempuan ketika memasuki usia tiga puluhan, khususnya terkait pertanyaan seputar pernikahan.

Menurut Asha, jika memungkinkan, idealnya pernikahan dilakukan sebelum mencapai usia 30 tahun. Namun demikian, ia menyoroti betapa melelahkannya pertanyaan “kapan menikah” yang kerap dilontarkan oleh kerabat maupun orang-orang yang tidak terlalu dekat dengannya.

“Pertanyaan kapan nikah itu capek banget buat sebagian perempuan, apalagi kalau datangnya tiap minggu, tiap ketemu keluarga,” ujar Asha kepada awak media, menekankan pentingnya empati dan pengertian terhadap perjalanan hidup orang lain.

Ia menggarisbawahi bahwa ada hal-hal sensitif yang seharusnya tidak perlu dibahas secara sembarangan. Setiap individu memiliki jalur kehidupan yang unik dan berbeda-beda.

Belum menikah bukan berarti seseorang tidak berusaha untuk menemukan pasangan hidup, bisa jadi ada cita-cita lain yang sedang dikejar dan diprioritaskan.

Pernyataan ini disampaikan Asha seiring dengan perannya sebagai Manda dalam serial drama terbaru berjudul “Swipe Right.”

Serial ini berhasil menggambarkan fenomena sosial yang kerap dialami oleh perempuan Indonesia, terutama mereka yang berusia di atas 27 tahun dan mulai merasakan beban ekspektasi dari keluarga serta masyarakat sekitar.

Tekanan tersebut, menurut Asha, bahkan dapat memengaruhi kesehatan mental seseorang hingga menyebabkan sebagian perempuan terjebak dalam hubungan yang sebenarnya tidak mereka inginkan.

“Lewat karakter Manda, aku ingin menunjukkan kalau perempuan juga punya hak memilih waktunya sendiri untuk menikah atau bahkan memilih tidak menikah,” sambungnya dengan tegas.

Serial “Swipe Right” memang telah menjadi topik hangat di kalangan warganet.

Karya sutradara Angkasa Ramadhan ini mengangkat kisah cinta segitiga yang manis namun sarat makna, dibintangi oleh sederet aktor dan aktris ternama termasuk Ciccio Manassero, Fendy Chow, Ismi Melinda, serta Alam Setiawan.

Asha menjelaskan bahwa serial ini bukan hanya menawarkan hiburan semata tetapi juga menyentuh isu-isu sosial yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari banyak perempuan di Indonesia.

Salah satu isu utama adalah tekanan sosial untuk menikah pada usia tertentu yang dianggap ideal oleh masyarakat umum.

Dalam serial tersebut, karakter Manda digambarkan sebagai seorang perempuan berusia 30 tahun yang telah mencapai kesuksesan dalam kariernya di sebuah perusahaan aplikasi kencan.

Namun di balik kesuksesannya itu tersimpan kegelisahan mendalam akibat tekanan dari keluarga untuk segera menikah, termasuk upaya-upaya perjodohan yang dilakukan oleh keluarganya.

Melalui cerita Manda ini pula penonton diajak untuk memahami bahwa setiap orang memiliki jalan hidup masing-masing dan pilihan untuk menikah atau tidak sepenuhnya adalah hak pribadi masing-masing individu.

Hal ini memberikan perspektif baru tentang bagaimana perempuan dapat memiliki kontrol atas keputusan penting dalam hidup mereka tanpa harus tunduk pada tekanan eksternal atau penilaian orang lain.

Isu mengenai tekanan untuk menikah memang menjadi salah satu topik penting dalam diskusi sosial saat ini.

Banyak perempuan merasa tertekan karena adanya anggapan dari masyarakat bahwa seorang wanita harus segera menikah setelah mencapai usia tertentu agar dianggap sukses atau ‘lengkap’ dalam kehidupannya.

Padahal pada kenyataannya setiap orang memiliki waktu dan caranya masing-masing dalam menjalani kehidupan termasuk soal pernikahan.

Banyak juga yang akhirnya terjebak dalam hubungan hanya karena merasa ditekan oleh lingkungan sekitar padahal belum tentu siap secara mental maupun emosional untuk menjalani kehidupan rumah tangga bersama pasangan mereka tersebut.

Serial “Swipe Right” melalui karakter-karakter kuat seperti Manda memberikan gambaran nyata tentang bagaimana menghadapi situasi-situasi semacam ini sekaligus menginspirasi para penonton terutama kaum wanita agar lebih percaya diri dalam mengambil keputusan penting terkait kehidupan pribadi mereka sendiri.

Fenomena tekanan menikah memang bukan hal baru namun diskusi-diskusi seperti ini perlu terus digaungkan agar semakin banyak orang sadar akan pentingnya menghargai pilihan hidup masing-masing individu tanpa harus membanding-bandingkan dengan standar atau ekspektasi tertentu dari masyarakat luas.

Dengan demikian diharapkan dapat tercipta lingkungan sosial yang lebih suportif dan inklusif bagi semua orang apapun pilihannya dalam hidup. (*/stch)

Berita Sebelumnya
Bau peternakan bebek dikeluhkan

Bau Peternakan Bebek Dikeluhkan Warga Kroya, Dinas Turunkan Tim Teknis

Berita Selanjutnya
Dorong produksi madu, beri lapangan kerja baru

Inovasi Usaha Pondasi Sarang Lebah dari Kebumen, Dorong Produksi Madu, Beri Lapangan Kerja Baru