BANYUMASEKSPRES.ID, Ramadhan tahun lalu menjadi momen yang cukup menghebohkan ketika berita mengenai pemain Manchester United, Noussair Mazraoui, berbuka puasa di tengah pertandingan babak 16 besar Piala FA melawan Fulham beredar luas.
Berita tersebut mencuat di berbagai platform media massa, termasuk CNN online dan menjadi viral di banyak sosial media seperti YouTube dan Instagram.
Dalam konteks ini, penting untuk dicatat bahwa Liga Inggris juga mengambil langkah signifikan dengan menerapkan aturan baru selama bulan Ramadhan.
Sebagaimana dilaporkan oleh detikcom pada 21 Maret 2025, pertandingan akan mengalami jeda sejenak agar para pemain Muslim dapat berbuka puasa dengan layak.
Bulan Ramadan memang menjadi waktu yang penuh berkah bagi umat Islam di seluruh dunia. Premier League pun merespons kebutuhan ini dengan kebijakan yang menunjukkan kepedulian terhadap para atlet Muslim.
Hal ini terlihat dari langkah enam klub besar Eropa yang membangun fasilitas masjid di area stadion mereka.
Di antara klub-klub tersebut terdapat Manchester City, Blackburn Rovers, Bolton Wanderers, Rubin Kazan dari Rusia, Bayern Munich dari Jerman, dan Newcastle United.
Langkah ini mencerminkan semakin meningkatnya jumlah pemain sepak bola profesional beragama Islam yang berkiprah di kancah persepakbolaan Eropa.
Keberadaan para pemain Muslim ini tidak hanya memberikan kontribusi dalam hal prestasi olahraga tetapi juga menampilkan nilai-nilai Islam melalui perilaku mereka.
Salah satu contoh nyata adalah Paul Pogba, yang secara berani menyingkirkan botol bir Heineken dari hadapannya saat konferensi pers usai laga Prancis melawan Jerman di Grup F Euro 2020.
Hal ini menunjukkan bahwa Pogba memahami betul bahwa mengkonsumsi atau mempromosikan minuman keras adalah sesuatu yang dilarang dalam agama Islam.
Sadio Mane, pemain timnas Senegal, juga dikenal sebagai sosok dermawan yang menggunakan penghasilannya untuk membangun rumah sakit, sekolah, dan masjid di tanah kelahirannya.
Ia sering terlihat tidak ikut merayakan kemenangan timnya dengan sampanye, sebuah tindakan yang menunjukkan komitmennya terhadap prinsip-prinsip Islam.
Selain itu, Mohamed Salah yang bermain untuk Liverpool telah menjadi simbol perlawanan terhadap Islamofobia di Inggris melalui aksi-aksi positifnya.
Perayaan golnya dengan sujud syukur serta sikapnya yang mencerminkan nilai-nilai Islam membuatnya dihormati dan dicintai oleh banyak orang.
Dari sisi lain, Mesut Özil sebagai salah satu pemain sepak bola internasional Jerman yang memiliki reputasi tinggi juga telah menjadikan keyakinannya sebagai bagian integral dari kehidupannya.
Özil sering membagikan momen-momen keagamaannya di media sosial dan tidak ragu untuk menunjukkan identitasnya sebagai seorang Muslim.
Karirnya yang gemilang di klub-klub ternama seperti Real Madrid dan Arsenal membuat perilakunya semakin mendapat sorotan publik.
Di luar dunia sepak bola, kisah Adam Kelwick sebagai imam masjid juga menarik perhatian banyak orang ketika ia berhasil meredam ketegangan akibat protes-protes Islamophobia di Liverpool.
Tindakannya memeluk seorang pengunjuk rasa menjadi viral dan mendapatkan banyak pujian karena menunjukkan sikap penuh kasih kepada mereka yang terlibat dalam tindakan rasisme.
Kembali ke dunia olahraga Indonesia, Mohammad Ahsan sebagai atlet bulu tangkis juga menarik perhatian publik dengan cara-cara unik dalam bertanding.
Selain pencapaiannya meraih tiga gelar kejuaraan dunia, Ahsan juga dikenal dengan kebiasaan minum air sambil setengah duduk—sebuah tindakan yang mengundang decak kagum dari penggemar bulu tangkis tanah air.
Ia sering kali memilih untuk tidak bersalaman dengan wasit atau hakim garis wanita selama pertandingan dan selalu melakukan selebrasi sujud syukur setelah meraih kemenangan.
Ahsan mengungkapkan bahwa ia mempelajari adab-adab Islam melalui pengajian serta buku-buku dan artikel-artikel yang ia baca.
Ini menandakan bahwa dakwah bisa dilakukan melalui berbagai cara tanpa harus berada di mimbar ceramah.
Para pemain Muslim di Eropa telah memberikan kontribusi besar dalam menerima dan memperkenalkan nilai-nilai Islam kepada masyarakat luas.
Dalam konteks ini, kita dapat merujuk pada firman Allah SWT dalam Surah An Nahl ayat 125: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.”
Pelajaran hidup dari tokoh-tokoh publik tersebut menggambarkan bagaimana perilaku baik dapat dijadikan sarana dakwah bagi setiap orang.
Kontribusi mereka di dunia olahraga bukan hanya sekadar prestasi saja tetapi juga memberikan dampak signifikan dalam mengurangi stigma negatif terhadap umat Islam terutama di Eropa melalui tindakan positif mereka.
Dakwah tidak harus dilakukan secara formal; bisa jadi melalui perilaku sehari-hari serta keteladanan dalam profesi masing-masing.
Sebagai contoh teladan dari Nabi Muhammad SAW ketika beliau menghadapi seorang pengemis buta Yahudi di pasar Madinah.
Pengemis tersebut seringkali mencela Nabi Muhammad tetapi beliau tetap bersikap lembut dan menyuapi pengemis itu setiap hari.
Ketika sahabat Abu Bakar menggantikan tugas tersebut setelah Nabi wafat, si nenek buta itu baru mengetahui siapa sebenarnya sosok dermawan itu saat mendengar penjelasan Abu Bakar tentang Nabi Muhammad SAW.
Kisah ini menunjukkan bagaimana dakwah bisa dilakukan dengan kasih sayang tanpa perlu berdebat atau berdendam.
Setiap individu memiliki potensi untuk menjadi dai dalam lingkungannya masing-masing sehingga bisa menyebarkan kebaikan kepada orang-orang sekitar tanpa harus berada di podium ceramah.
Ini sejalan dengan ajaran Islam yang mengajak umatnya untuk hidup bermakna dan bermanfaat bagi sesama.
Ramadhan merupakan bulan penuh berkah dengan limpahan pahala bagi setiap Muslim yang menjalankan ibadahnya dengan tulus hati.
Bulan suci ini adalah kesempatan emas untuk menempa diri menjadi pribadi lebih baik serta memperkuat iman melalui berbagai ibadah—baik yang wajib maupun sunah—seperti puasa, shalat malam, dan membaca Al-Qur’an.
Dengan semangat Ramadhan ini kita berharap akan lahir lebih banyak tokoh seperti Mohamed Salah, Paul Pogba, Mesut Özil, Adam Kelwick serta Mohammad Ahsan yang tidak hanya sukses dalam bidang olahraga namun juga membawa pesan-pesan kebaikan dalam kehidupan sehari-hari mereka sebagai bagian dari dakwah Islamiyah yang damai. (*/stch/dda)
















