BANYUMASEKSPRES.ID, Penyanyi muda berbakat Bernadya, yang baru berusia 22 tahun, baru-baru ini mengungkapkan perjalanan emosionalnya dalam dunia musik, khususnya saat menghadapi tantangan yang dikenal sebagai writer’s block atau kebuntuan menulis.
Momen sulit ini terjadi ketika ia mulai mengerjakan album kedua yang berjudul Semoga Hanya di Mimpi.
Dalam sebuah wawancara, Bernadya mengungkapkan bahwa ia mengalami kesulitan dalam menciptakan lagu baru selama enam bulan.
“Sempat ada masa aku writer’s block selama 6 bulan, aku enggak bisa menulis satu pun lagu baru,” ujarnya dengan nada penuh kejujuran.
Kekhawatiran yang dihadapi Bernadya tidak hanya berkaitan dengan ketidakmampuannya untuk menulis, tetapi juga dipengaruhi oleh kesuksesan album pertamanya, yang berjudul Sialnya, Hidup Harus Tetap Berjalan.
Kesuksesan tersebut seolah memberikan tekanan tersendiri baginya untuk mempertahankan kualitas karya dan kreativitasnya.
Selain itu, situasi hidup yang terlalu nyaman juga menjadi faktor penyebab kebuntuan kreatifnya.
“Aku lagi merasa hidup semua lagi berjalan normal. Panggungku ada terus, masalah kayak enggak ada yang gimana-gimana, tetapi justru itu yang menakutkan,” jelas penyanyi asal Surabaya ini.
Kebuntuan kreatif yang dialami Bernadya bukanlah hal yang asing dalam dunia seni dan musik.
Banyak seniman menghadapi masa-masa di mana ide-ide sulit muncul akibat berbagai faktor internal maupun eksternal.
Namun, momen kebangkitan Bernadya dari writer’s block terjadi ketika ia menjalani workshop bersama Baskara Putra, seorang musisi dan penulis lagu berbakat.
Dalam sesi ini, keduanya sepakat untuk menciptakan lagu bersama-sama.
Baskara Putra memberikan saran berharga kepada Bernadya untuk mengekspresikan apa yang dirasakannya melalui lagu-lagu yang mereka buat.
“Aku bilang, ‘Enggak lagi merasakan apa-apa, lagi enggak bisa menulis’. Ya sudah, Baskara bilang, ‘Bikin lagu dari (tentang) enggak bisa nulis lu itu,'” ucapnya mengingat kembali perbincangan mereka.
Saran tersebut mendorong Bernadya untuk menggali lebih dalam tentang perasaannya sendiri dan mengubah tantangan menjadi sumber inspirasi.
Dari workshop tersebut lahirlah lagu berjudul Laut Yang Tenang. Lagu ini menjadi cerminan dari fase hidup yang sedang dilalui Bernadya.
Melalui lirik-liriknya, ia berhasil menangkap esensi dari ketidakpastian dan ketakutan meski berada dalam kondisi kehidupan yang tampak baik-baik saja secara lahiriah.
“Makanya ada lirik, ‘laut yang tenang, patut dicurigai’,” jelas Bernadya sambil mencurahkan isi hatinya tentang makna di balik lagu tersebut.
Proses kreatif dalam menciptakan Laut Yang Tenang menggambarkan bagaimana seniman dapat menggunakan pengalaman pribadi—baik suka maupun duka—sebagai bahan bakar untuk berkarya.
Penulisan lagu ini tidak hanya menyiratkan perjalanan emosional Bernadya tetapi juga menawarkan pesan bahwa di balik kemiripan kehidupan sehari-hari mungkin tersimpan kerumitan yang perlu dihadapi.
Bernadya juga menjelaskan pentingnya dukungan komunitas dalam proses berkarya sebagai musisi.
Melalui kegiatan kolaboratif seperti workshop dengan Baskara Putra, para seniman memiliki kesempatan untuk saling mendukung dan memperkaya perspektif satu sama lain dalam menciptakan karya seni.
Kolaborasi ini menjadi jembatan bagi Bernadya untuk menemukan kembali suaranya dan menyalurkan perasaan terpendam ke dalam musik.
Bagi banyak pendengar musik, karya seniman sering kali menjadi refleksi dari perasaan dan pengalaman mereka sendiri.
Dengan demikian, lagu Laut Yang Tenang tidak hanya berbicara tentang kebuntuan kreatif seorang musisi muda seperti Bernadya tetapi juga menggambarkan perjalanan emosional banyak orang di luar sana yang mungkin merasakan hal serupa. (*/stch/dda)














